Akal dan Pikiran Seorang Muslim

0
47

Disadur dari “Bagaimana seorang Muslim Berpikir?”

oleh Harun Yahya, diterjemahkan oleh Mustapha Ahmad.

 

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dilengkapi dengan akal, sebagai sarana berpikir. Namun, kebanyakan manusia tidak menggunakan sarana ini sebagaimana mestinya. Setiap orang memiliki kemampuan berpikir, namun sering kita tidak menyadari dan tidak menggunakan sebagaimana mestinya.

Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:

 

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)

 

Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap manusia adalah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang dijumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:

 

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

 

Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.” (QS. Ar-Ruum, 30: 8)

 

Maka dari itu, kita sebagai mahasiswa Muslim, diwajibkan untuk berpikir, menggunakan akal yang telah diberikan kepada seluruh umat manusia, dengan sebagaimana mestinya. Namun, ada baiknya kita memahani, merenungi, dan memikirkan tentang apa tujuan dari penciptaan kita ke dunia ini, sebelum memikirkan perkara lain. Apakah hanya untuk menghabiskan waktu dan usia dengan hal yang tidak bermanfaat hingga ajal menjemput? Tentu saja tidak.

 

Semoga bermanfaat.

 

Yahya, Harun. (2000) “Bagaimana seorang Muslim berpikir?”. Terjemahan oleh Mustapha Ahmad. Istanbul: Ta-Ha Publisher Ltd.

 

 
Addin Muhajir. Kabid RPK PK ABAD UNY 2018/2019. Mahasiswa tingkat akhir FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Short stories enthusiast. Terkadang menulis di crappypersonalblog.wordpress.com

 

Penyunting :Mey

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here