#kultumvirtual | Amalan Kok Dihitung-Hitung

0
857

©Sholeh Ade Cahyadi/IMM BSKM

Penulis : Saparullah*

Menghitung-hitung amalan mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang tak perlu dilakukan namun bagi sebagian yang lain hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan. Dan itu nyata, ada disekitar kita. Entah sadar ataupun tidak.
Tak jarang terbesit dari dalam hati kita “hari ini saya telah melakukan banyak ibadah, pasti pahala saya banyak” atau “setiap hari saya beribadah, tidak mungkinlah aku masih memiliki dosa” atau mungkin sering juga kita membanding-bandingkan pahala kita dengan orang lain “dengan beribadah setiap hari pahalaku pastilah lebih banyak dari si Fulan”. Jika ini ada pada diri kita, segeralah beristighfar, kita perlu bermuhasabah!

Menghitung-hitung amalan dapat melalaikan seseorang dari mengingat dosa. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan “meremehkan dosa dan terlalu percaya diri dengan amal perbuatan adalah sangat berbahaya, orang yang sibuk menghitung-hitung amalan akan lupa pada banyaknya dosa”. Jika seseorang telah melupakan dosanya maka akan sedikit sekali kalimat istighfar keluar dari ucapan orang tersebut.

Rasulullah SAW bersabda “sesungguhnya orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri dibawah gunung, yang mana dia (senantiasa) takut gunung itu akan menimpanya, dan orang yang keji memandang dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap diatas hidungnya, yang berkata: dengan hanya begini saja (cukup menggunakan tangan) maka dengan mudah lalat itu terbang” (HR: Muttafaq Alaih). Hadits ini memberikan gambaran tentang dua golongan dimana ada orang yang senantiasa merenungkan dosanya dan ada yang meremehkan.
Masihkah kita akan melalaikan dosa-dosa dengan menghitung-hitung amalan?

Kebiasaan menghitung amalan juga akan menimbulkan rasa berbangga diri yang kemudian akan bermuara pada sikap riya’ dan sum’ah. Tentu sikap ini sangat merugikan karena berakibat pada dihapuskannya pahala amalan yang telah kita lakukan. Disebutkan dalam Al-Qur’an “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan mencegah (menolong dengan) barang berguna” (QS: Al-Maun).

Perlu digarisbawahi bahwa ganjaran dari amalan yang kita lakukan merupakan hak perogeratif dari Allah SWT. Pernah suatu ketika dua orang sahabat berselisih pendapat saat berada dalam sebuah perjalanan. Apakah shalat harus didirikan ulang jika sebelumnya tak didapati air untuk berwudhu lalu digantikan dengan tayammum, akan tetapi beberapa saat setelah melanjutkan perjalanan, didapati sumber air yang cukup untuk berwudhu. Salah seorang diantara mereka berpendapat harus didirikan ulang, dan seorang yang lain berpendapat tidak perlu.

Permasalahan yang dihadapi oleh sahabat di atas kemudian diajukan kepada Rasulullah SAW, beliau kemudian bersabda kepada sahabat yang setuju mendirikan ulang shalat dengan jawaban laka ajrani (bagimu dua pahala) dan ashobtassunnah (kamu telah memenuhi sunnah) kepada sahabat yang tak mengulang shalatnya. Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang tahu pasti sebesar apa wujud pahala yang Allah ganjarkan kepada kita. Tak ada yang menjamin ‘dua pahala’ itu lebih banyak dari pahala ashobtassunnah tadi. Bisa jadi justru kebalikannya.

Ada beberapa riwayat yang memang menunjukkan besarnya ganjaran dari sebuah amalan. Seperti pahala sebesar gunung Uhud saat bertakziah (men-shalatkan hingga mengantarkan ke pemakaman) atau riwayat yang menyebutkan bahwa Allah lebih menyukai dua rakaat sebelum subuh daripada dunia dan seisinya. Tapi apakah dua contoh amalan ini sudah lebih banyak dari ganjaran amalan yang lain? Bagaimana dengan amalan birrul walidain dan amalan-amalan lainnya? Pada dasarnya kita kembali kepada pernyataan awal bahwa hanya Allah yang maha memberi ganjaran lah yang lebih mengetahui seberapa besar ganjaran amal yang Ia berikan kepada hambanya.
Masih perlukah kita menghitung-hitung pahala?

Allah SWT memerintahkan manusia untuk melakukan ahsanu amala (amal yang terbaik) bukan aktsaru amala (amal yang terbanyak). Sebagaimana Allah berfirman “yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun” (QS: Al-Mulk:2).

Ayat diatas dengan sangat jelas dan tersurat menyebutkan bahwa yang diinginkan oleh Allah adalah amalan yang terbaik bukanlah amalan yang terbanyak. Namun untuk mencapai amalan yang terbaik, maka kita harus senantiasa beramal baik karena kita tak pernah tau dimana dan kapan amalan kita terhitung sebagai amalan terbaik disisiNya. Sebagaimana dalam teori peluang, semakin banyak perulangan maka semakin besar juga peluang yang ada. Begitu pun dengan konsep ahsanu amala.

Lantas apakah kita akan tetap menghitung-hitung amalan yang telah kita lakukan?

Dalam bulan ramadhan ini marilah kita senantiasa melakukan amal shaleh di mana ganjaran yang diberikan Allah pada bulan ini adalah berlipat-lipat, yang salah satu malamnya lebih baik dari malam seribu bulan. Tentu dengan tidak menghitung-hitung amalan karena sebagaimana teori dalam matematika-nol dikalikan dengan berapapun akan sama dengan nol, sebesar apapun kelipatan ganjaran yang Allah berikan akan sama dengan nol jika yang akan dilipat gandakan (pahala yang dihapus karena riya’ dan sum’ah) adalah nol.

*Saparullah adalah mahasiswa aktif Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2013 (sedang penelitian alias SKRIPSI, mohon doanya saudara). Sekarang menjabat sebagai Ketua Umum PC IMM Bulaksumur dan Karangmalang periode 2017. Aktif di IMM sejak tahun 2014. Narahubung bisa via Facebook @muh Safar, instagram @ullah_ramadhana atau e-mail di ullah87@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here