Bagaimana IMM Bergerak ?

0
94

Manusia adalah makhluk sosial. Hidupnya tidak bisa sendiri akan tetapi selalu bergerak dan berinteraksi. Interaksi ini kemudian mengikat sekelompok manusia dengan berbagai macam motif ikatan. Ikatan-ikatan ini biasa disebut sebagai gerombolan, komunitas, himpunan, ataupun jama’ah. Lalu kita sebagai sebuah ikatan, atas dasar apa kita ber-ikat dan ke arah mana ikatan bergerak?

Ikatan kita bukan sekedar gerombolan manusia yang mengaku aku “orang” Muhammadiyah. Menjadi kader Muhammadiyah sendiri tidak bisa hanya dengan pengakuan atau sekedar memiliki KTM, akan tapi dibuktikan dengan amal berjamaah. Amal berjamaah ini berupa dakwah yang kemudian diimplementasikan sebagai amal usaha ataupun program kerja sebagai pimpinan.

Ber-ikatan jangan hanya sebagai komunitas. Ber-ikatan bukan sekadar wadah silaturrahim. Berikatlah dengan tali Allah. Berikatlah dalam amal berjamaah.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ – 3:103

“Dan berpegang-teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”Ali Imran: 103 [1]

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 16:125

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” [1]

Pokok pikiran pertama MADM (Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah) juga mengatakan “Hidup manusia harus berdasar tauhid (meng-Esakan) Allah; bertuhan, beribadah serta tunduk dan taat hanya kepada Allah”. [2]

Dalam ber-ikatan, ada satu budaya yang perlu dibangun. Budaya itu adalah budaya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Budaya ini sejalan dengan tuntunan Allah dalam surat Al-‘Ashr. KRH Hadjid yang merupakan murid dari Kiai Ahmad Dahlan menuliskan di dalam buku Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan “Surat Al-Ashri ini cuma tiga ayat, tetapi isinya sangat penting. Kiai Dahlan merenungkan dan mengulang-ulang Surat Al-Ashr ini lebih dari 7 bulan”. [3]

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan:

Allah bersumpah dengan kata tersebut – al-‘ashr –  bahwa bagaimanapun manusia benar-benar berada dalam kerugian dan kerusakan, (إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ), “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” Dalam ayat ini Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan sepenuh hati dan beramal shalih dengan seluruh anggota tubuhnya. Mereka dikecualikan dari jenis manusia yang berada dalam kerugian.

Allah berfirman (وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ) “Serta saling menasihati untuk kebenaran,” yaitu saling menasihati untuk melaksanakan ketaatan dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. [4]

Menasihati dalam kebenaran tentunya bukan perkara mudah. Menasihati dalam kebenaran bisa dilakukan baik dengan perkataan, perantara, ataupun dengan teladan. Sering kali nasihat berupa perkataan justru ditolak dan menimbulkan pertengkaran. Oleh sebab itu menasihati dalam kebenaran dibutuhkan cara yang sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah  bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) [5]

Saling menasihati dalam jama’ah merupakan sebuah kewajiban. Allah  telah mencela ahli kitab yang tidak memiliki sikap amar ma’ruf nahi mungkar.

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat.” (QS. Al Ma’idah [5] : 79).”[6]

Ibnu Katsir melanjutkan tulisannya:

Firman Allah (وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ) “Dan saling menasihati dalam kesabaran,” yakni kesabaran atas musibah dan takdir, serta gangguan dari orang-orang yang menyakiti. Gangguan  ini biasanya datang dari kalangan orang-orang yang mereka ajak untuk berbuat baik, dan orang-orang yang mereka larang berbuat kemungkaran. [4]

Salah satu bentuk dari menasihati dalam kesabaran adalah dengan mau menjadi pendengar yang baik bagi saudara kita. ‘Ataa’ bin Abi Rabah berkata

“Ada seseorang laki-laki menceritakan kepadaku suatu cerita, maka aku diam untuk benar-benar mendengarnya, seolah-olah aku tidak pernah mendengar cerita itu, padahal sungguh aku pernah mendengar cerita itu sebelum ia dilahirkan.” (Siyar A’laam An-Nubala 5/86) [5]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah   bersabda,“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang bertanya,“Apa itu ya Rasulullah.” Maka beliau menjawab, “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia -dengan bacaan yarhamukallah-, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah berkata:

فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْك النَّصِيحَة ، فَعَلَيْك أَنْ تَنْصَحهُ ، وَلَا تُدَاهِنهُ ، وَلَا تَغُشّهُ ، وَلَا تُمْسِك عَنْ بَيَان النَّصِيحَة

“Maknanya: -apabila- dia meminta nasehat darimu, maka wajib bagimu untuk menasehatinya, jangan hanya mencari muka di hadapannya, jangan pula menipunya, dan janganlah kamu menahan diri untuk menerangkan nasehat –kepadanya-.” (Syarh Muslim [7/295] asy-Syamilah) [7]

Ber-ikatan, berjama’ah, berdakwah, serta saling sehat menasihati merupakan permulaan dan fondasi pergerakan ini. Pergerakan ini tentunya tidak selesai dengan hanya duduk di masjid atau komisariat. Akan tetapi, pergerakan ini kemudian merambat ke dalam kampus dan masyarakat menjelma menjadi berbagai bentuk. Pergerakan merupakan wadah kaderisasi membentuk akademisi Islam. Pergerakan ini jugalah dengan sumber daya dan kemampuan yang ada akan melawan kezaliman dan kemungkaran di manapun ia berada.

Mudah-mudahan dengan ikhtiar yang kita lakukan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tidak sekedar menjadi Event Organizer, akan tetapi adalah gerakan mahasiswa Islam yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan dan kemahasiswaan. [8]

Di bulan Ramadhan kali ini mudah-mudahan kita semakin dekat dengan Allah, melatih kesungguhan dalam beribadah, serta melipatgandakan ganjaran amal-amal pergerakan kita.

Khairil Faiz sekarang menjabat sebagai ketua umum PC IMM BSKM 2019, ahli juga dalam desain grafis. Bisa disapa melalui ig: khairilfaiz25

Penyunting: Lutfialv

 

SHARE
Previous articleUnta yang Kembali
Next articleMenyelami Makna Basmallah
Pimpinan cabang IMM Bulaksumur Karangmalang mewadahi kader IMM di UGM UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here