Berfikir Melangit, Beramal Membumi

0
74

 

Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual seakan menjadi simbol dan semboyan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam perjalanannya.  Kata anggun dalam moral, unggul dalam intelektual merupakan doktrin yang harus masuk dalam jiwa setiap kader IMM dimanapun dia berada. Doktrin inilah yang nantinya akan membedakan kader IMM dari mahasiswa pada umumnya. Banyak mahasiswa yang mengedepankan unggul intelektualnya dengan bahkan mengesampingkan nilai moral. Seorang kader IMM seharusnya tidak pernah berlaku seperti itu.

Berfikir melangit berhubungan erat dengan unggulnya nilai intelektual seorang kader IMM. Berfikir melangit yang penulis maksud adalah seorang kader IMM yang notabenenya adalah seorang mahasiswa haruslah memiliki nilai intelektual yang bagus. Nilai intelektual yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan nilai akademik, tetapi mencangkup pola pikir, nalar kritis, dan kemempuan seoraang kader dalam membaca masalah yang ada untuk kemudian mencari solusinya. Bahkan seorang kader seharusnya harus berfikir dan beridealis setinggi mungkin dalam hatinya karena memang mahasiswa dituntut demikian. Dalam mengembangkan pola pikir, kita sebagai kader haruslah berada dalam budaya literasi yang kuat.

Budaya literasi akan berpengaruh besar terhadap nilai intelektualitas kita sebagai kader IMM. Budaya literasi ini seharusnya sudah berkembang di kalangan kader PC BSKM yang mana wilayahnya mencangkup dua universitas besar di Jogjakarta ini. Dengan budaya literasi ini pula kader IMM tidak akan terjebak dalam kotak-kotak sempit dan akan memiliki pikiran yang plural dan luas. Budaya literasi ini juga akan mengasah pola pikir, nalar kritis, dan idealisme kita.

Berfikir melangit menggambarkan tentang nilai unggul dalam segi intelektualitas, maka berfikir membumi mewakili nilai anggun dalam moralitas. IMM memiliki nilai tri kompetensi dasar yang salah satunya menyangkut nilai humanitas. Mahasiswa mendeklarasikan dirinya sebagai penyambung akar rumput yang bertugas sebagai penegah golongan para stakeholder dengan golongan masyarakat biasa. Begitupun letak kader IMM yang berisi mahasiswa. Kader suatu saat nanti harus menjadi pengkritik para stakeholder dan penyambung lidah rakyat terutama golongan mustad’afin.

Muhammadiyah menggolongkan kaum mustad’afin berisikan buruh, petani, dan nelayan. Golongan ini diambil karena golongan inilah yang sering di lemahkan oleh sistem yang mana ini sejalan dengan definisi mustad’afin yang dipahami Muhammadiyah. Seorang kader IMM dengan keunggulan intelektualitasnya harus mampu berada di posisi ini. IMM harus menjadi pengkritik paling pedas bagi para stakeholder ketika mereka mengambil kebijakan dan sekaligus menjadi tameng utama bagi kaum mustad’afin di lingkungannya.

    Kader IMM juga harus menjadi penterjemah yang baik di masyarakat. Penterjemah disini adalah penterjemah dari nilai nilai ideologi yang ada di dalam diri kader sehingga tidak IMM tidak hanya sebagai tameng, tetapi diharapkan suatu hari nanti ketika turun di masyarakat dapat membawa perubahan bagi lingkungannya. Inilah maksud dari beramal membumi. Ada salah satu ungkapan yang terkenal di kalangan kader IMM yang berbunyi “amal ilmiah, ilmu amaliyah”. Ungkapan tersebut menganjurkan kader selalu beramal dengan ilmu dan mengamalkan ilmu yang sudah didapat.

    Sebagai penutup, ada sedikit sentilan dari Tan Malaka yang berbunyi “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”. Poin yang disinggung Tan Malaka sangat jelas, bahwa kita sebagai kader haruslah selalu memikirkan kaum mustad’afin disekitar kita dengan kemampuan intelektualitas kita dan kemampuan sosial kita.

Wallahu a’lam bishowab.

 

Hasta Ziyad,merupakan Ketua Bidang Seni,Budaya dan Olahraga DPD IMM DIY Periode 2018-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here