Di Balik Nobar “Belakang Hotel”

0
197

Sleman – “Sangat terlambat” demikian kesan yang diberikan oleh Immawan Priyo Atmo Sancoyo, alumni IMM BSKM yang juga seorang arsitek, terhadap PC IMM BSKM saat mengadakan diskusi bedah film “Belakang Hotel” di TK ABA Karangmalang, Senin (13/02). Mengambil tema “Pemuda dan Realitas Pembangunan di Yogyakarta”, kegiatan ini fokus untuk kader internal IMM BSKM, meskipun tidak menutup kemungkinan kader lain untuk hadir.

Kegiatan Nonton Bareng “Belakang Hotel” ini diinisiasi oleh bidang organisasi, bidang hikmah, dan bidang media PC IMM BSKM. Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara yakni Immawan Priyo Atmo Sancoyo dan Dodok Putra Bangsa, warga berdaya sekaligus korban dari pembangunan hotel.

“Kami tahu, membahas film ini sudah sangat terlambat. Karena film ini sudah dua tahun sebelumnya di rilis. Namun, kenyataannya banyak kader IMM BSKM, baik PC maupun PK yang belum mengetahui isu ini. Oleh karenanya kami memutuskan untuk diskusi film Belakang Hotel,” ungkap Sholeh Ade Cahyadi, kabid organisasi PC IMM BSKM, seusai acara.

Immawan Priyo Atmo Sancoyo yang lebih akrab disapa Cak Priyo menyampaikan bahwa mahasiswa harus lebih peduli dengan sekitarnya. “Kalian adalah kader pembaruan, harus memberikan solusi. Karena kalian adalah agent of change. Mulai dari hal yang sederhana saja, misal menuliskan keresahan mengenai lingkungan sekitar kemudian kirim ke surat kabar,” pesan Cak Priyo kepada peserta diskusi.

Dodok Putra Bangsa juga mempertanyakan hal yang senada yakni peran mahasiswa dalam gerakan sosial di masyarakat. “Tidak hanya berdiskusi saja, namun juga harus ada aksi nyata. Saat ini yang dapat menggerakkan masyarakat adalah informasi,” kata Dadok dalam diskusi tersebut.

Antusiasme peserta diskusi juga tinggi, tampak dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta. Sidik, kader dari PK AR Sutan Mansur menyatakan, “Senang dengan adanya diskusi seperti ini, karena jadi semakin tahu kondisi di masyarakat.”

Saat menuliskan follow up hasil diskusi pun peserta antusias mengungkapkan aspirasi mengenai kondisi lingkungan sekitar mereka maupun wawasan yang diperoleh dari diskusi ini. Sebagai penutup diskusi, Uswah, kabid hikmah PC IMM BSKM, memberikan kesimpulan bahwa saat ini manusia berebut membangun demi kemajuan industri tanpa memikirkan masa depan anak cucu. Akankah kita yang ada di sini sekarang ini merelakan mereka makan beton? Jika sawah-sawah makin tersingkir dari tempatnya semula.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here