Indonesia Bukan Negara Islam, Tapi Negara Relijius

0
114

YOGYAKARTA- Suatu negara agama akan memasukkan suatu agama dalam konstitusi negaranya, sementara negara sekuler memisahkan agama dari konstitusinya. Tetapi relasi agama dengan negara di Indonesia unik, Tuhan ada di posisi
paling atas, sedangkan di bawahnya agama-agama diposisikan sejajar. Jadi
Indonesia bukan negara Islam juga bukan negara Kristen atau yang lain,
tetapi negara relijius.

Demikian disampaikan Dr.Phil. Ahmad Norma Permata, M.A. saat menjadi
pembicara dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bulaksumur Karangmalang Yogyakarta di
sekretariatnya pada Kamis (26/08/2010). Diskusi tersebut mengambil tema
Relasi Islam dan Negara : Antara Cita dan Realita dalam Konteks
Keindonesiaan.

Lebih lanjut, Norma Permata yang merupakan alumni Pondok Shabran Universitas
Muhammadiyah Surakarta dan memperoleh gelar doktor ilmu politik dari
Muenster University Jerman itu menjelaskan, yang diperlukan saat ini adalah
aktor politik Islam yang dapat menghasilkan kesejahteraan dan melawan
ketidakadilan. “Jangan menghabiskan waktu hanya untuk berdebat hubungan
agama dengan negara dalam gambaran serba ideal, sekarang saatnya memberikan
hasil nyata”, tegasnya.

Selain itu, menurut dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
yang saat ini menjabat sebagai ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
PP Muhammadiyah itu, masyarakat juga perlu dididik untuk kritis pada
kebijakan. Ia menyebutkan bahwa yang perlu dikritisi mulai dari janji-janji
kampanye, kemudian realisasi kerja untuk rakyat apakah sesuai dengan janji,
dan juga kebijakan yang dibuat apakah sesuai dengan ideologi partai
politiknya. Selanjutnya, partai politik Islam perlu menyiapkan kader atau
SDM yang kompeten. “Sekarang ini, adakah tokoh dari parpol ataupun ormas
Islam yang layak menjadi Gubernur BI?”, ujarnya. (hq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here