Kajian Kitab Al Hikam

0
117

Disampaikan oleh Ust. Damimi Zein
di Aula PDM Kota Yogyakarta, Ahad, 4 Rabiul Akhir 1436 H

Potensi tajrid dan keinginan untuk mengikuti asbab akan selalu terjadi dalam diri manusia. Tajrid adalah penarikan diri sepenuhnya dari hal selain Allah di dalam qolbu dan rohani terdalam (Amstrong: 1996: 281). Sedangkan “asbab” merupakan bentuk jamak dari “sebab”.  Terlalu sadar akan salah satu sunatullah yg menjadi sebab seperti hukum kausalitas atau hukum sistem akan membuat orang jauh dari Allah. Adapun makna “sebab” yang lainnya adalah hukum proses dan hukum keterpengaruhan.

Pada  hakikatnya asbab itu digunakan untuk problem solving hidup karena kehidupan berjalan melalui hukum-hukum tersebut, namun menurut para sufi, orang yang terkooptasi oleh “asbab” berarti dia telah menutup diri untuk mendapatkan “tajrid”. Contoh  terlalu sadar akan sebagian asbab saja adalah ilmuan yg terlalu menaruh perhatian pada hukum alam sehingga melupakan aspek rohani dengan meniadakan adanya Allah.

Usaha mendekatkan diri pada Allah harus imbang sebagaimana dijelaskan dalam QS. al Isra’ ayat 19. Usaha mendekatkan diri pada Allah juga harus tajrid/ terukur.Sebagai pelajar atau mahasiswa maka harus ditanamkan kesadaran dalam hati bahwa  iman saya tidak akan goyah karena hasil-hasil penelitian ilmiah.  Saya akan menganggap semua terjadi karena kuasa Allah Swt.

Karena Islam dipahami bukan hanya lewat studi ilmiah pendekatan multidisiplin ilmu saja seperti penerapan psikologi agama dalam memahami kitab suci. Ada aspek mistis yang tak dapat lepas dari pemahaman Islam. Sehingga dalam penelitian ilmiah sekalipun seorang muslim tidak hanya mengejar kepuasan pikir, tetapi juga kepuasan rasa/ keindahan dan kepuasan rohani. Contohnya adalah tidak terjebak mengejar kepuasan pikir dalam debat yang tak mengindahkan etika.  Dalam perdebatan ilmiah, nilai-nilai luhur tetap harus diperhatikan. Sebab selain tatanan nilai benar salah masih ada tatanan nilai baik buruk, indah jelek, nilai  manfaat, dan nilai- nilai luhur. Contoh lain adalah ketika keterbatasan fisik membuat sesorang lebih mudah makan dengan tangan kiri karena kidal maka identitasnya sebagai seorang muslim akan tetap membuatnya memperhatikan nilai-nilai luhur dan berusaha menggunakan tangan kanannya. (AB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here