Kasak Kisik Esemka

0
27

Kalau membicarakan mobil nasional tentu kita akan langsung terpikir satu nama, Esemka. Namun, sebenarnya Esemka bukanlah mobil nasional yang pertama dicetuskan di Indonesia. Bila kita telisik ke belakang, telah beberapa proyek mobil nasional. Ada beberapa nama yang mungkin familiar di telinga kita, namun banyak juga yang mungkin kita tidak pernah mendengarnya sama sekali. Ada beberapa proyek mobil nasional yang dirasa penting untuk diketahui.
Kita mulai dari zaman Presiden Soeharto. Pada Pekan Raya Jakarta tahun 1975, Presiden Soeharto bersama Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, meluncurkan mobil Toyota Kijang. Toyota Kijang sendiri merupakan singkatan dari Kerja Sama Indonesia Jepang. Sesuai dengan namanya, mobil ini merupakan hasil kerja sama pemerintah Indonesia dengan Toyota, yang merupakan produsen mobil asal Jepang. Mobil berjenis pick up atau bak terbuka ini menjadi tonggak sejarah industri otomotif di Indonesia karena mobil ini merupakan mobil pertama yang diproduksi di Indonesia. Mobil ini menyasar konsumen yang sangat luas karena mengusung konsep mobil niaga serbaguna dengan perawatan minim.
Sebelum hadirnya Kijang, mobil-mobil yang mengaspal di Indonesia didatangkan secara utuh (CBU/Completely Built Up) dari luar negeri. Karena diproduksi di dalam negeri, maka harga mobil ini dapat ditekan dan terjangkau masyarakat. Tak ayal mobil ini menjadi primadona baru di masyarakat. Melihat kesuksesan Kijang, banyak produsen mobil dari berbagai negara kemudian mengikuti langkah Toyota untuk memproduksi mobilnya di Indonesia.
Masih di era Presiden Soeharto, tepatnya pada tahun 1996 diluncurkan mobil Timor. Teknologi Industri Mobil Rakyat, atau disingkat Timor, muncul atas dasar Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 1996 tentang percepatan terwujudnya industri mobil nasional. Keluarnya Inpres ini menuai banyak polemik, pasalnya kala itu perusahaan yang ditunjuk untuk menjalankan proyek mobil Timor ini adalah PT Timor Putra Nusantara milik Tommy Soeharto, anak Presiden Soeharto. Sedangkan, pada saat yang sama telah berjalan proyek mobil nasional bernama Maleo yang dikomando Mentri Riset dan Teknologi kala itu, B.J. Habibie. Tentu saja proyek Maleo terhenti karena dana dialihkan ke proyek Timor.
Sebagai mobil nasional, Timor mendapatkan hak istimewa dengan dibebaskannya mobil Timor dari pajak barang mewah yang membuat harga Timor mencapai separuh harga mobil di pasaran. Meski demikian, proyek Timor tak bertahan lama. Produksi timor terhenti pada tahun 1997 karena krisis moneter.
Setelah reformasi, wacana mobil nasional dan mobil merek Indonesia kembali mencuat. Ada beberapa proyek mobil yang dijalankan, di antaranya Tawon, Kancil, Gang Car, GEA, Komodo, Lowo Ireng, Molina, AmmDes, hingga Esemka. Ada beberapa proyek yang masih berjalan, meskipun dengan terseok-seok. Ada pula yang sudah diproduksi dan masih berjuang bertahan di pasar otomotif nasional, namun tak sedikit yang gagal bersaing di pasaran hingga akhirnya gulung tikar. Sulitnya perizinan dan minimnya support dari pemerintah juga menjadi faktor utama gagalnya beberapa proyek mobil di atas.
Dari sekian nama di atas, mungkin yang paling menggemparkan adalah Esemka. Esemka sendiri pertama kali muncul di Solo ketika Joko Widodo masih menjabat sebagai Wali Kota Solo pada tahun 2007. Kala itu Jokowi memesan dua unit mobil Esemka yang berjenis SUV yang rencananya akan digunakan sebagai kendaraan dinas wali kota dan wakil wali kota Solo. Mobil Esemka ini merupakan mobil karya anak-anak SMK Negeri 1 Trucuk, Klaten, dibawah bimbingan Sukiyat yang sekaligus pemilik bengkel Kiat di Klaten. Namun, perjalanan mobil ini harus tersendat lantaran tersandung masalah uji laik jalan dan uji emisi. Akibatnya, dua mobil yang telah dipesan Jokowi mangkrak di kantor wali kota Solo karena tidak memiliki izin laik jalan. Setelah itu, kabar tentang Esemka mulai meredup. Meski demikian, ternyata proyek Esemka terus berjalan.
Beberapa hari terkahir, kabar tentang Esemka kembali mencuat dengan diluncurkannya mobil Esemka Bima 1.2, Bima 1.3 serta peresmian pabrik Esemka di Boyolali, Jawa Tengah oleh Presiden Joko Widodo pada hari Jum’at, 6 September 2019. Mobil Esemka ini bukanlah mobil nasional yang pendanaannya dari negara. Pabrik Esemka sendiri merupakan 100 persen milik swasta nasional, yaitu PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK). Jadi, bukan mobil nasional yang didanai oleh negara sepertihalnya Timor. Diluncurkannya produk pertama berupa mobil pick up diharapkan mampu mengikuti kesuksesan Toyota Kijang pada tahun 1975 sebagai tonggak industri otomotif dalam negeri. Meski telah diluncurkan, namun spesifikasi dan harga mobil ini belum disebar ke khalayak.
Di balik peluncurannya, ternyata ada beberapa hal yang menghebohkan. Salah satunya adalah desain dari Esemka Bima 1.2 dinilai menjiplak desain dari mobil asal Tiongkok, Changan Star. Banyak masyarakat yang mencibir hal ini karena dinilai tidak kreatif bahkan dicurigai Esemka hanya melakukan rebadging dari produk asal Tiongkok tersebut.
Sebenarnya fenomena jiplak dan rebadging dalam dunia otomotif sudah biasa terjadi. Fenomena jiplak desain kendaraan mulai muncul seiring dengan tumbuhnya ekonomi di Tiongkok. Banyak industri otomotif di Tiongkok yang mengeluarkan produk otomotif yang desainnya dinilai mirip dengan produk-produk otomotif dari Eropa dan Jepang. Banyak dari pabrikan Eropa dan Jepang yang keberatan atas hal tersebut, namun karena tidak adanya hukum hak cipta internasional yang membatasi secara langsung adopsi desain lintas negara, menyebabkan proses hukumnya menjadi cukup sulit. Selain itu, banyak pabrikan tidak menempuh jalur hukum juga dilatarbelakangi oleh kualitas “produk kloning” ini yang jauh di bawah kualitas produk mereka, sehingga pabrikan tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut.
Berbicara soal desain, masyarakat Indonesia masih menganggap desain kendaraan sebagai hal yang penting. Banyak produk otomotif, termasuk mobil nasional, gagal bersaing di pasaran Indonesia lantaran desainnya dinilai kurang cocok dengan selera masyarakat Indonesia. Memang penilaian desain sangat subjektif, namun penulis menilai desain dari Bima 1.2 ini dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Terlepas dari apakah desain Bima 1.2 menjiplak atau tidak, namun langkah Esemka untuk menghadirkan desain yang up to date patut diapresiasi. Esemka dinilai mampu membaca selera desain masyarakat Indonesia sehingga diharap mampu eksis di jalanan Indonesia dan tidak tenggelam seperti proyek mobil Indonesia terdahulu.
Sedangkan rebadging merupakan bentuk kerja sama antar dua pabrikan untuk memproduksi mobil yang serupa dengan tujuan tertentu dengan tetap mempertahankan brand masing-masing pada produk tersebut. Meski dilakukan Rebadging, produk yang dipasarkan tiap pabrikan biasanya sedikit dibedakan, baik dari desain, fasilitas, bahkan mesin atau transmisi. Sebagai contoh adalah rebadging Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia yang dipasarkan di Indonesia, serta rebadging antara Suzuki Ertiga yang dipasarkan di India serta Indonesia dan Proton Ertiga yang dipasarkan di Malaysia. Rebadging biasanya dilakukan untuk menekan biaya riset produk baru yang terbilang cukup tinggi. Hingga saat ini belum ada pernyataan dari PT SMK terkait isu rebadging ini.
Bagi pabrikan baru, sebenarnya rebadging bukanlah hal tabu. Penulis menilai rebadging menjadi langkah awal yang tepat bagi pabrikan lokal untuk mencicipi pasar roda empat Indonesia. Kita bisa lihat banyak produk hasil rebadging yang sukses dan laku keras di Indonesia.
Meski rebadging merupakan hal biasa di industri otomotif tanah air, namun indikasi rebadging Esemka Bima 1.2 ini dibesarkan karena dinilai ada unsur politis di dalamnya. Pabrik di Boyolali dinggap tidak melakukan proses produksi dan PT Solo Manufaktur Kreasi hanya mengganti merk Bima 1.2 yang didatangkan dari Tiongkok secara CBU. Sehingga masyarakat menilai Esemka bukan mobil karya anak bangsa.
Entah apa yang ada di pikiran pimpinan PT SMK sehingga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait isu di atas. Mungkin agar produk ini booming di kalangan masyarakat Indonesia. Toh sebenarnya bukan masalah kalaupun Esemka Bima 1.2 ini merupakan produk rebadging, asalkan mobil ini dikerjakan oleh anak bangsa di dalam negeri dan mayoritas komponennya dari dalam negeri. Semoga PT SMK melihat masyarakat yang masih ragu soal produksi mobil Esemka ini dan segera memberikan keterbukaan soal produksinya.
Terakhir, Esemka tidak akan berkembang jika hanya menggembar-gemborkan produknya merupakan karya anak bangsa dan terus menjiplak atau terus melakukan rebadging, pabrikan harus memiliki produk sendiri yang dirancang dan diproduksi sendiri. Selain itu, perlu ada peningkatan kualitas produk secara konsisten dengan tetap mempertahankan value for money yang memuaskan untuk mengimbangi persaingan pasar. Konsumen tentu tidak mau memilih brand dalam negeri jika kualitasnya jauh dibawah brand mancanegara. Selain kualitas produk, pelayanan purna jual berupa paket garansi dan keterjangkauan suku cadang serta bengkel resmi perlu juga diperhatikan oleh pabrikan.
Pemerintah juga perlu ambil bagian dalam upaya mengembangkan brand-brand otomotif dalam negeri dengan membuat beberapa regulasi yang menguntungkan konsumen dan pengusaha dalam negeri. Misal dengan menerapkan regulasi diskon tarif tol atau diskon pajak tahunan untuk setiap pembelian brand kendaraan bermotor lokal. Masyarakat pun tak perlu nyinyir terhadap hadirnya brand otomotif lokal yang tentunya masih banyak kekurangan. Kita hanya perlu mendukung dengan membeli, menggunakan, dan/atau merekomendasikan produk dalam negeri tersebut agar bisa terus berkembang, dengan catatan produk tersebut memang benar-benar brand dalam negeri yang diproduksi oleh anak bangsa di dalam negeri dan mayoritas komponennya dari dalam negeri.

Oleh Zidan Yusron Wijanarko, Ketua Umum PK IMM Al-Khawarizmi 2019, Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin angkatan 2016

Sumber:
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20190908134318-384-428536/spesifikasi-mobil-esemka-dinilai-mirip-produk-china
https://www.kompas.com/otomotif/read/2014/07/10/134000915/Mobil.Plagiat.Asal.China.Tak.Bisa.Dituntut
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Mobil_nasional_(Indonesia)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rebadging

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here