Kepala Puasa yang Tak Biasa

0
77

 

Ada yang berbeda dari awal puasa kali ini, bukan hanya saya berpuasa tidak di rumah, namun karena puasa kali ini saya awali di tanah pusaka, Maluku. Saya mengikuti program Sekolah CERDAS yang merupakan kerjasama dari Peace Generation dan Muhammadiyah. Melalui program ini saya mendapatkan lokasi penugasan di Maluku tepatnya di Dusun Amaholu. Menuju Amaholu membutuhkan perjuangan yang tak mudah dan tak murah. Dari Ambon kami harus menggunakan angkot menuju Pelabuhan Tahoku, dari pelabuhan kami menggunakan speedboat untuk menuju Amaholu.

Rumah kami berada tepat di pinggir pantai, debur ombak menjadi lantunan pengantar tidur. Belakang rumah kami adalah gunung bebatuan, yang dari ketinggiannya nampak seluruh wilayah pesisir Huamual. Nah, kenapa saya menyebut rumah? Karena di sana saya tinggal dengan keluarga yang disebut dengan “Bapa Piara dan Mama Piara” memang begitulah penyebutannya. Tinggal bersama orangtua piara membuat saya belajar untuk menjadi bagian dari Amaholu, bagian dari Maluku.

Awal puasa di Maluku disebut kepala puasa, tentu sama dengan awal puasa di daerah lain. Tapi malam penentuan puasa menjadi suatu hal yang berbeda. Saya masih ingat malam itu, waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIT tapi belum ada tanda sholat tarawih akan dilaksanakan. Sholat Isya berjamaah telah usai, beberapa jamaah sudah membubarkan diri dari Masjid Raudhatul Athfal, beberapa masih tetap tinggal sembari menunggu pengumuman. Saya dan seorang adik piara berjalan mondar-mandir dari rumah menuju masjid mencari kepastian kapan akan dilaksanakan tarawih. Apakah esok atau lusa mulai puasa. Ya, kami di Amaholu saat itu harus menunggu pengumuman dari televisi yang menyiarkan Menteri Agama menentukan awal puasa. Bayangkan, waktu di Maluku lebih cepat dua jam dibandingkan di Jawa. Waktu sudah sangat larut ketika diputuskan esok mulai puasa dan kami dengan setengah mengantuk menuju Masjid untuk melaksanakan tarawih mungkin sudah sekitar jam 22.00 WIT saat itu.

Tolong jangan bayangkan, kami berjalan dibawah lampu jalan yang berkedip-kedip, syukur Alhamdulillah jika listrik mengalir (apakah listrik itu mengalir atau listrik itu nyala?). Tidak ada lampu jalan, kami hanya mengandalkan lampu dari gawai atau dari teras rumah orang. Namun, semangat masyarakat Amaholu untuk tadarus bersama sungguh luar biasa, usai sembahyang tarawih akan ada suara lantunan Alquran sampai menjelang sahur, tidak ada jeda. Meski listrik padam. Bagaimana caranya? Seolah-olah mereka telah terbiasa dalam gelap, sehingga mampu membaca meski dalam kondisi temaram.

Mengawali puasa di sana tentu banyak hal yang istimewa dan diistimewakan, diantaranya adalah pemilihan lauk pauk untuk sahur dan berbuka. Amaholu adalah daerah pesisir yang lebih mudah dan murah untuk mendapatkan ikan dibandingkan dengan ayam. Namun di awal puasa, masyarakat berbondong-bondong menyembelih ayam peliharaan mereka untuk menjadi lauk sahur dan berbuka. Betapa sangat istimewanya mengawali puasa di sana. Bagimu berlauk ayam itu hal yang biasa, namun bagi masyarakat Amaholu itu adalah sajian teristimewa. Menjelang berbuka puasa, Mama sudah sangat sibuk di dapur, mulai menyiapkan kue untuk cemilan berbuka puasa hingga makanan utama.

Menjelang waktu pulang, saya dan seorang teman dari Sekolah CERDAS pindah lokasi menuju Kecamatan Kairatu. Di sana kami mengadakan Peacesantren, yakni kegiatan pesantren kilat yang menanamkan 12 nilai dasar perdamaian. Namun kami mengadakan dengan sedikit berbeda. Bekerjasama dengan Kak Bai Hajar Tualeka dari LAPPAN Maluku, kami mengundang adik-adik muslim dan kristen untuk mengikuti kegiatan Peacesantren yang berlokasi di Gedung PPLKT Parpem Uraur, yakni salah satu gedung miliki Gereja Protestan Maluku Uraur.

Maluku yang belasan tahun lalu terjadi konflik agama, membutuhkan banyak ruang dan waktu untuk menjalin perjumpaan lintas iman. Peacesantren yang diadakan selama dua hari yakni tanggal 19-20 Mei menjadi momen tepat untuk itu dan perjumpaan anak-anak itu terlihat begitu harmoni dalam untaian persaudaraan. Kami belajar bersama mengenai mitigasi bencana dan 12 Nilai Dasar Perdamaian. Saat itu, kami disediakan makanan batal puasa dari Mama yang beragama kristen, kamipun disediakan tempat untuk sholat. Kami tidak banyak bercerita mengenai 12 Nilai Dasar Perdamaian dari Peace Generation, namun kami melihat praktik perjumpaan yang sesungguhnya. Bagaimana adik-adik dari muslim berteman dengan adik-adik dari Kristen, bagaimana Ketua Klasis Kairatu menjelaskan makna persahabatan dan persaudaraan, bagaimana Kepala KUA Kairatu menerangkan makna ramadhan untuk kaum muslim. Dua hari itu sungguh terasa singkat namun padat. Acara kemudian ditutup dengan penampilan dari masing-masing komunitas. Dalam senyap ditengah kesunyian, dibalik jendela saya melihat adik-adik yang menyanyikan lagu Maluku Tanah Pusaka dan seketika itu saya menangis dalam diam. Betapa saya sudah sangat jatuh cinta dengan Maluku.

Terima kasih Maluku, telah menjadikan kepala puasa ini menjadi sangat berharga, memberikan pengalaman yang berbeda dan bermakna. Keramahan, senyum, untaian kisah telah menjadi kasih. Terima kasih untuk setiap cerita, kenangan, dan sungguh, berangkat dari Maluku adalah untuk kembali pada suatu hari nanti.

 

Penulis adalah Amsa Nadzifah, alumni IMM BSKM dalam bidang media yang merupakan pelopor lahirnya Kultum Virtual.

 

 

Penyunting: Nad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here