#Kultum Virtual| Dari Masjid Kita Bangkit

0
317

Penulis Hasta Nur Hidayat*

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillah walhamdulillah, washshalatuwassalamu ‘ala Rasulillah, wala haula wala quwwata illa billah. ‘Amma ba’du.

Tak terasa tahun baru sudah menghampiri kita bersamaan dengan kenangan-kenangan yang hadir. Rasa-rasanya baru kemarin kita berebut pahala saat Ramadhan tiba, berbondong-bondong memenuhi shaff di masjid. Adalah sebuah ironi ketika masjid tak ramai lagi setelah Ramadhan pergi, yang tersisa hanya beberapa aki-aki dan nini-nini. Hal yang tidak bisa dianggap remeh oleh kita sebagai umat islam ini seharusnya dijadikan sebuah instropeksi diri, khususnya tren mengapa meramaikan dan memakmurkan masjid hanya pada bulan Ramadhan itu bisa terjadi.

Seperti yang telah kita ketahui, masjid yang berarti tempat sujud, selain digunakan sebagaimana namanya yaitu untuk beribadah juga adalah tempat yang digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam, kajian agama, ceramah, maupun diskusi tentang agama. Masjid juga merupakan tempat dimana rahmat Allah banyak dicurahkan di dalamnya, tempat yang dipenuhi oleh malaikat-malaikat yang siap untuk mencatat amal kebaikan para hamba Allah, dan tempat yang banyak orang-orang shalih dan para hamba Allah berkumpul di dalamnya.

Menilik sedikit ke belakang mengenai sejarah, pada zaman Rasulullah masjid merupakan tempat yang memiliki multifungsi, tidak hanya turut dalam peranan di bidang peribadatan dan bidang sosial kemasyarakatan, akan tetapi menjangkau hingga bidang kemiliteran. Masjid juga digunakan oleh Rasulullah untuk memberikan teladan dalam kepedulian serta membangun ukhuwah. Salah satu teladan yang diberikan yaitu ketika seusai shalat berjam’ah, Rasulullah melihat ke barisan makmum, lalu bertanya, “kemana si Fulan?”. Salah satu makmum yang ada di barisan shaf pun menjawab bahwa si Fulan yang dimaksud Rasulullah tersebut sedang sakit. Rasulullah pun kemudian datang ke rumah fulan untuk menjenguknya. Di lain waktu seusai shalat Jum’at, di atas mimbar, Rasulullah menanyakan apakah jama’ahnya ada yang sedang dalam kesulitan atau tidak, pertanyaan selanjutnya yang diberikan Rasulullah yaitu apakah jama’ah lain da yang sedang lapang dalam rezekinya. Hal itu dengan maksud bahwa agar orang yang sedang lapang bisa membantu saudaranya yang sedang dalam kesempitan. Contoh di atas merupakan teladan yang diberikan Rasulullah bahwa ukhuwah bisa dibangun dan dijalin dengan baik dengan permulaan masjid sebagai sarananya. Hal inilah yang seharusnya disadari oleh masyarakat bahwa ukhuwah bisa dibangun dari masjid, dan seharusnya dari masjid pula kita bangkit.

Hal di atas adalah contoh Rasulullah memakmurkan masjid dan membangun ukhuwah dari masjid. Namun perlu kita ketahui mengenai pengertian ‘memakmurkan masjid’ itu sendiri, yaitu membangun, memperkokoh bangunannya, memberikan wewangian di dalamnya, serta yang paling utama adalah meramaikannya dengan peribadatan yang telah dianjurkan oleh syariat agama. Dengan masjid yang kokoh dan megah, dan dengan semerbaik harum wewangian yang ada, serta dengan adanya orang-orang shalih yang selalu terbuka untuk menerima jama’ah baru berpeluang besar mendorong masyarakat luas yang belum terpaut hatinya ke masjid untuk tertarik, berangkat ke masjid, bahkan menjadi jama’ah tetap di masjid tersebut.

Namun di beberapa masjid, bangunan yang megah tidak disertai dengan terbukanya jama’ah tetap masjid untuk menerima jama’ah baru. Hal ini dibuktikan dengan kedatangan orang atau bahkan warga sekitar yang dipandang sinis atau bahkan dengan terheran-heran yang seharusnya hal ini disambut dengan rasa syukur dan dengan sambutan yang ramah. Di lain sisi anak-anak yang diharapkan menjadi generasi yang kedepannya bisa konsisten memakmurkan masjid malah dihujani dengan ungkapan marah oleh para jama’ah yang sudah berumur hanya karena gelak tawa ataupun hal lain yang dianggap mengganggu shalatnya. Ini adalah hal yang salah yang dapat menimbulkan rasa kapok bagi para generasi muda untuk memakmurkan masjid. Tindakan yang seharusnya dilakukan adalah membimbing anak-anak tersebut agar bisa mengkondisikan diri mereka, bukannya malah diberikan semprotan kemarahan. Rendah hati dan sikap terbuka akan adanya kebaikan merupakan sifat yang akan timbul dalam diri dengan adanya kejadian seperti ini jika kita menyikapinya dengan sikap optimis. Karena sejatinya, dari masjid pula kita bangkit.

Masih banyak pula hal yang menjadi faktor kurang semangatnya masyarakat untuk memakmurkan masjid. Semua hal itu bisa dikurangi perlahan-lahan dengan kesadaran penuh dari masyarakat dan dengan motivasi dan dorongan penuh oleh jama’ah masjid itu sendiri. Kesadaran dan motivasi di atas adalah hal yang saling berkaitan, kesadaran akan semakin kuat bila motivasi dan dorongan selalu diberikan. Banyak keteladan yang dapat kita ambil dengan munculnya beberapa masjid yang memunculkan inovasi untuk menarik minat para masyarakat untuk meramaikan masjid, salah satunya dengan menghiasi masjid, memberikan hadiah untuk para jama’ah yang datang ke masjid, melaksanakn pengajian yang mudah diterima masyarakat, dan segala kegiatan yang dimana masyarakat ikut andil di dalamnya untuk memunculkan kesadaran masyarakat itu sendiri.

Kita sebagai generasi muda rasanya malu jika menjadi target dari segala kegiatan yang bertujuan untuk menarik minat jama’ah tersebut, karena seharusnya kitalah yang berperan untuk mengajak masyarakat luas untuk meramaikan masjid tentunya diawali dari sekarang. Teruntuk dirimu termasuk juga diriku yang belum terpaut hatinya dengan masjid mari kita paksa agar hati ini terpaut dengan masjid, mari kita mulai merutinkan shalat berjamaah di masjid, mari kita ikut andil membersihkan masjid, dan mari kita meramaikan segala kegiatan yang diagendakan di masjid kita masing-masing. Mengingat hadits Rasulullah, dimana pemuda yang terpaut hatinya dengan masjid termasuk salah satu golongan yang akan dinaungi oleh Allah di kala tidak lagi ada naungan pada hari akhir nanti. Ini adalah kesempatan besar bagi kita untuk meraih naungan itu dan untuk menghabiskan masa muda kita dengan berjuang di jalanNya. Dengan memakmurkan masjid, kita pasti bangkit.

Ada benarnya dari segala tulisan ini datangnya dari Allah, ada kurangnya itu murni dari diri penulis dan mohon untuk dimaafkan. Unzhur ilaa maa qaala wala tanzhur ilaa man qiila.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis merupakan mahasiswa aktif Teknik UGM, kader dari PK IMM Al Khawarizmi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here