#KultumVirtual | Apa Yang Diharapkan Dari Puasa?

0
208
©Nad/ IMM BSKM

Oleh M. Fuad Nasar*

Di bulan suci Ramadhan terbuka begitu banyak jalan bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada-Nya (taqarrub ilallah) melalui ibadah fardhu (diwajibkan) dan ibadah sunnah (dianjurkan), baik ibadah syakhsiyah (ibadah individual) maupun ibadah ijtimaiyyah (ibadah sosial).

Puasa sebagai ibadah utama di bulan Ramadhan mendidik manusia agar kembali pada hakikat humanisme atau kemanusiaan sejati. Puasa menata keseimbangan kehidupan ruhiyah dan jasmaniyah. Puasa menyadarkan orang yang hidup berkecukupan agar merasakan penderitaan sesama yang sehari-hari dalam kekurangan.

Menurut Prof. Dr. Faisal Ismail, urgensi puasa dapat dilihat dari manfaat dan hikmahnya, antara lain sebagai sarana penyucian jiwa, pengendalian diri, rekonstruksi mental, revitalisasi moral, pencerahan iman, karya kemanusiaan, dan penguatan peradaban.

Dalam QS An Nahl [16] ayat 90 dikemukakan tiga perintah Allah, yaitu menegakkan keadilan, berbuat kebajikan, dan memberi karib kerabat. Di samping itu diungkapkan tiga perbuatan yang harus dijauhi karena akan menghancurkan tatanan kehidupan sosial, yaitu fahsya’ (perbuatan keji), mungkar dan kezaliman.

Mengomentari ayat di atas, sahabat nabi, Abdullah bin Mas’ud r.a. menyatakan, ayat tersebut mencakup semua perintah dan larangan di dalam agama Islam. Semua perbuatan baik yang diperintahkan pada dasarnya akan kembali kepada tiga hal tersebut dan semua yang dilarang akan kembali kepada tiga perbuatan yang merusak di atas.

Ditinjau dari sudut ilmu jiwa agama, puasa adalah manifestasi tauhid dan cinta Ilahi. Selama berpuasa seorang muslim dilatih untuk merasakan kehadiran Tuhan yang selalu mengawasi segala perbuatannya dan memerdekakan diri dari belenggu hawa nafsu. Dalam Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda, ”As-shiyamu nishfus shabri”, artinya puasa itu adalah bagian dari kesabaran dan ketahanan.

Dalam sebuah Hadis dinyatakan, ”Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu mencegah diri dari segala perbuatan sia-sia serta menjauhi perbuatan kotor dan keji.” (HR Al-Hakim).

Puasa sangat besar manfaatnya dilihat dari sudut ilmu kedokteran dan kesehatan jiwa. Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah, maka kamu akan sehat”. Hikmah puasa dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan mengobati penyakit telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian kedokteran modern.

Dr. H. Ali Akbar, pendiri Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia (Yarsi) dan Sekolah Tinggi Kedokteran Yarsi Jakarta menyimpulkan; selama sebulan berpuasa akan dapat membentuk tingkah laku psikologis yang sangat baik dan sehat, yaitu sabar menderita, kasih sayang terhadap sesama, terutama terhadap si miskin, dermawan, dan sopan dalam tutur kata.

Oleh karena itu, seyogianyalah umat Islam berupaya menjadikan Ramadhan bagai ”kepompong”, seperti analogi ulat bulu yang menjadi kupu-kupu indah setelah keluar dari kepompongnya. Itulah gambaran hidup muslim dengan menjalani ibadah selama satu bulan Ramadhan akan mengalami transformasi spiritual, menjadi manusia yang lebih bertakwa dan bermanfaat bagi sesama. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah keluarga Muhammadiyah dan konsultan The Fatwa Center Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here