#KultumVirtual | Di Balik Fenomena Sosialita

0
281
©Sholeh Ade Cahyadi / IMM BSKM

Oleh Aniskurlillah

    ….Ros khawatir ia tidak bisa lagi membeli baju-baju cantik mentereng dan makeup warna-warni terbaru di kota. Ia malu jika tidak bisa pamer pada ibu-ibu tetangga di acara arisan desa….
    (Cemani yang Tak Mau Pergi – Angelina Enny)

Fenomena gaya hidup sosialita di era digital seperti saat ini bukan merupakan sesuatu yang baru lagi. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, orang-orang semakin dimudahkan dalam memperoleh informasi dan atau membagikannya. Dalam hal ini teknologi memiliki kaitan erat dengan fenomena sosialita, bahkan turut menjadi penentu dalam perkembangannya. Kaum sosialita adalah orang-orang yang senang memamerkan gaya hidup yang mereka jalani kepada dunia sehingga sangat jeli memanfaatkan media sosial sebagai alat publikasi.

Istilah sosialita sendiri sebenarnya berasal dari kata socialite yang merupakan gabungan dari kata social dan elite. Dahulu, kata sosialita digunakan untuk mendefinisikan sekelompok orang dari kaum elit yang gemar melakukan kegiatan sosial. Akan tetapi, saat ini istilah sosialita telah bergeser maknanya dan merujuk pada gaya hidup mewah serta hedon sebagai ajang pembuktian bahwa pelakunya adalah seorang yang up to date. Sosialita di Indonesia identik dengan kemewahan, arisan, rumpi, shopping, dan berfoya-foya untuk saling berlomba mendapatkan pengakuan. Tidak heran jika istilah sosialita identik dan sering dikaitkan dengan seorang perempuan.

Sebagaimana kita tahu, dari segi psikologis perempuan adalah sosok yang mudah terpengaruh, menyukai pujian, dan tidak mau kalah dari perempuan lain terutama dalam hal gaya hidup sehingga kaum perempuan umumnya sangat memperdulikan penampilan. Selain itu, yang mempengaruhi seorang perempuan untuk memperhatikan penampilan adalah adanya rasa kurang percaya diri. Dikutip dari www.beritasatu.com, Presiden Director Miracle Aesthetic Clinic Indonesia dr Lanny Juniarti mengatakan memang secara alamiah wanita selalu ada saja atau hanya sekian persen merasa kurang percaya diri. Hal itulah yang menjadi alasan wanita menggunakan make up ataupun baju yang bagus. Sebab, itu dilakukan untuk menunjang penampilannya dan menambah rasa percaya dirinya. Hal ini kemudian menjadi bagian dari gaya hidup sebagian besar kaum perempuan. Sayangnya, saat ini gaya hidup tersebut telah merambat pada kegiatan mewah lain yang berlebihan yang juga bertujuan untuk menaikkan prestis saja.

Fenomena sosialita merupakan salah satu dampak dari adanya gaya hidup glamour. Idealnya, fenomena sosialita terjadi pada perempuan kalangan menengah ke atas karena sosialita identik dengan kemewahan. Akan tetapi, realitas di dalam masyarakat menunjukkan bahwa fenomena ini turut meramaikan dunia gaya hidup perempuan menengah ke bawah. Tidak jarang kaum perempuan dari kalangan menengah ke bawah yang menunjukkan sifat tidak percaya diri jika tidak bisa tampil “mentereng” di depan sesama teman-teman perempuannya. Sebagian besar karena merasa malu tidak memiliki sesuatu untuk dipamerkan.

Dalam cerpen “Cemani yang Tak Mau Pergi”, Angelina Enny menampilkan fenomena ini melalui tokoh Ros yang merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah. Kekhawatirannya pada terancamnya pekerjaan suaminya berdasar pada rasa takut tidak bisa memenuhi gaya hidupnya. Hal yang lebih dikhawatirkannya adalah jika ia tidak bisa tampil mewah di depan teman-temannya, dan yang terpenting ia tidak mau statusnya sebagai istri muda nan cantik digantikan oleh orang lain.

Apa yang dirasakan oleh tokoh Ros merupakan sesuatu yang tidak mungkin dipungkiri relevansinya dengan realita yang ada dalam masyarakat kita. Rasa ingin tampil mewah di depan teman-teman sesama perempuan menghinggapi hampir sebagian masyarakat. Akibatnya, gaya hidup mewah bukan lagi milik kaum elit saja, tetapi juga kaum menengah ke bawah. Selain itu, tokoh Ros juga mewakili sosok perempuan pada umumnya yang menunjukkan eksistensinya dalam masyarakat dengan cara mengikuti arisan dan menjadikan arisan sebagai sarana saling menjalin hubungan dengan tetangga atau komunitas.

Cerpen “Cemani yang Tak Mau Pergi” merupakan karya yang menarik untuk dipahami lebih lanjut. Angelina Enny dalam menampilkan sisi lain kehidupan perempuan dapat dikatakan cukup cerdik karena dapat meramunya dalam suatu cerita yang bertema sama sekali lain. Jika diamati dengan seksama, tokoh Ros merupakan tokoh penting dalam cerpen “Cemani yang Tak Mau Pergi”. Ia bahkan dapat dikatakan sebagai poros cerita. Jika bukan karena saran Ros yang meminta agar suaminya, Sobari, mengusulkan kepada Datuk untuk mendatangi Mak Etek, permasalahan Riza yang melibatkan ayam cemani kesayangannya tidak akan terjadi.

Kembali, apa yang dilakukan Ros adalah upayanya untuk menyelamatkan status dirinya dalam masyarakat. Ia tetap saja adalah perempuan kalangan menengah ke bawah yang bergaya elit, yang hidup bermewah-mewah untuk mendapatkan pengakuan. Meski masih dalam taraf sosialita sederhana, yang tidak sampai terobsesi untuk mempublikasikannya ke seluruh dunia di luar komunitasnya, tokoh Ros menjadi bukti adanya kecenderungan sosialita pada kalangan menengah ke bawah.

Berkaitan dengan masalah sosialita ini, jika dikaji dalam pandangan islam, hal ini merupakan sesuatu yang salah. Selain karena pemborosan, juga merupakan sifat tercela karena dimaksudkan untuk riya’. Seperti disebutkan dalam QS. Al-Isra’ ayat 27 yang artinya, “sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” Sementara itu Al-Maqdisi berkata, “yang tercela, ialah seseorang mencari ketenaran. Adapun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta’ala tanpa usaha menusia untuk mencarinya, maka demikian itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah (imannya)”, bahkan Rasulullah SAW menegaskan bahwa perbuatan riya’ merupakan bagian dari syirik, sebagaimana Rasulullah bersabda, “yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu? Beliau menjawab,’yaitu riya’.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Baghawi dalam syarhus-sunnah).

Dengan adanya peringatan-peringatan seperti di atas dan pelajaran dari kisah Riza dan ayam cemaninya yang dipengaruhi oleh tokoh Ros, pembaca dapat mengambil hikmah dan bersikap lebih bijak dalam menghadapi era global seperti saat ini sehingga tidak akan terjerumus pada gaya hidup yang lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya. (aks.)

Penulis saat ini aktif di PK IMM Sutan Mansyur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here