#KultumVirtual | Fenomena Bisnis Menjelang Lebaran Idul Fitri

0
243
©Sholeh Ade Cahyadi / IMM BSKM
    Oleh : Burhan Aminudin*
    Lebaran sebentar lagi,
    Rejeki berlimpah lagi.

Antrian panjang di supermarket, pasar, bahkan mall menjadi hal wajar menjelang lebaran. Meski demikian kaum hawa maupun kaum adam rela berdesak-desakan untuk mendapatkan berbagai barang. Walaupun barang yang diinginkan harus dibeli dengan harga yang menjulang. Baju baru, sarung baru, mukena baru, kue lebaran, seolah-olah menjadi barang wajib untuk dimiliki saat lebaran. Menurut Gilarso (2003), Idul Fitri merupakan salah satu penyebab perubahan permintaan dan penawaran selain karena kenaikan gaji PNS.

Namun selain muncul keinginan untuk mengonsumsi, lebaran justru menjadi ladang rejeki bagi mereka yang kreatif. Libur lebaran kerap dimanfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga, tidak heran muncul bisnis seperti jasa travel dan rental kendaraan yang memanfaatkan waktu mudik lebaran. Usaha kue dan pakaian juga secara mendadak kerap muncul di bulan Ramadhan terutama menjelang lebaran.

Lalu, bagaimana kita memposisikan diri? Akankah kita hanya mengonsumsi barang dan jasa saja? Ataukah kita bisa memaksimalkan diri kita untuk memanfaatkan celah di hari lebaran?

Tentu memulai sebuah usaha memang tidak mudah, namun hal ini bukan berarti tidak mungkin. 14 abad silam Rasulullah pernah mengungkapkan dalam sabdanya bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah berniaga (HR. Ahmad). Hadits tersebut menunjukkan bahwa 90% persen peluang rezeki terdapat pada perniagaan/bisnis, sedangkan 10% sisanya terdapat pada profesi lain. Ungkapan dari Rasulullah ini memang tidak menegaskan bahwa berbisnis harus dilakukan di bulan Ramadhan, tetapi menarik untuk dikaji apa saja tips menghadapi peluang bisnis yang dapat kita geluti serta bagaimana Islam mengatur etika berbisnis khususnya pada momen menjelang lebaran ini.

Ada banyak pilihan bisnis yang bisa kita pilih sesuai dengan passion dan keinginan kita. Namun sebelum ikut menjalankan berbagai contoh bisnis diatas, alangkah baiknya kita memperhatikan sedikit tips berikut: Pertama, survey kebutuhan pasar. Sebelum menentukan bisnis yang mau dijalankan, kita harus melakukan survey pasar. Survei pasar dilakukan untuk mengetahui minat konsumen. Seperti diketahui, meski banyak bisnis yang menghasilkan omset berlipat-lipat jelang ramadhan dan lebaran, namun kita tetap harus melakukan survei pasar untuk mengetahui produk mana yang benar-benar diminati konsumen di sekitar kita. Jangan sampai salah produk. Karena ini bisnis musiman, sekali kita salah produk, maka dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali mendapatkan momen yang sama (tahunan,red). Seperti contoh, menjelang lebaran, permintaan konsumen akan fashion muslim/ah meningkat, sedangkan kita sebagai pelaku bisnis justru menggeluti bisnis karangan bunga.

Kedua, pilih waktu yang tepat. Ada baiknya untuk memahami kalender penerimaan gaji dan THR para pegawai ataupun karyawan. Hal ini cukup penting karena biasanya para konsumen mulai belanja setelah menerima gaji dan THR dari tempat mereka bekerja.

Ketiga, siapkan stok produk kita. Mengingat besarnya permintaan menjelang lebaran, tak ada salahnya jika kita mempersiapkan stok produk dari jauh-jauh hari. Strategi bisnis seperti ini dapat dilakukan untuk untuk memperoleh harga grosir yang cenderung lebih murah dan mendapatkan pilihan barang dengan varian yang lebih lengkap.
Bisnis apapun yang kita jalankan baik saat Ramadhan dan menjelang lebaran maupun saat pasca Lebaran, perlu kiranya kita memperhatikan koridor-koridor berbisnis yang diatur dalam Islam. Ada beberapa aturan dan etika berbisnis dalam Islam. Pertama, jujur. Kejujuran merupakan modal utama dalam berbisnis. Jangan sampai bisnis kita gulung tikar danmendapat mudharat karena tidak jujur dalam berbisnis. Sebagaiman firman Allah dalam Al-qur’an “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk prang lain, mereka mengurangi.” (QS Al-Muthofifin). Nah, dalam berbisnis kita harus jujur dan tidak boleh curang.

Kedua, Amanah. Sifat ini juga yang dijalankan rasulullah saw dalam riwayat perniagaannya, jika ia dititipi barang, ia menjaganya dengan baik sehingga bisnis Rasul semakin besar. Sebagaimana dalam sebuah hadits “Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu bahwa Rasululullah SAW bersabda, Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti)”. Jika kita amanah, maka kita juga bisa mendapat keuntungan yang besar di akhirat kelak.

Ketiga, bersedekah. Perlu diingat bahwa konsep kepemilkan dalam Islam menyatakan bahwa harta pada hakikatnya adalah milik Allah (Djakfar: 2012). Dalam berbisnis, yang kita cari adalah keuntungan, tetapi kita jangan sampai melupakan keuntungan yang sebenarnya, yaitu keuntungan di akhirat. Selain itu, sedekah juga dapat menjadi perangsang tumbuhnya bisnis yang dibangun sebagaimana janji Allah dalam Al-qur’an “perumpamaan orang-orang yang menfkahkan hartanya dijalan Allah seperti sebuah biji yang menumbuhkan tujuh buah bulir, dari setiap bulir lalu tumbuh seratus biji, Allah melipat-gandakan (ganjaran)bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karuniaNya) lagi maha mengetahui” (QS: Al-baqarah: 261)

So, jangan takut memulai berbisnis ya, kita bisa dapat rejeki dunia & akhirat, jika menjalankan dengan baik dan benar. Ingat, usaha yang baik adalah usaha yang dijalankan, bukan hanya ditanyakan atau diangan-angan saja, begitu wasiat Bob sadino. Pakdhe Robert Kiyosaki juga nitip pesan dalam bukunya “The Casflow Quadrant”, Jangan takut gagal, karena kita belajar paling banyak tentang diri kita ketika kita gagal. Gagal adalah bagian dari proses menjadi sukses. Kau tak bisa sukses tanpa mengalami kegagalan. Jadi, orang yang tidak berhasil adalah orang yang tak pernah gagal.

Namun, jika saat ini kita ada posisi menjadi pembeli, tentu kita harus mampu memilih dan memilah untuk membeli sesuai dengan kebutuhan bukan sekadar keinginan. Karena Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan.
Selamat Mencoba, salam sukses, jangan lupa sedekah. Selamat hari raya idul fitri 1438 H.

Gilarso,T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Kanisius. DI Yogyakarta
Djakfar, Muhammad. 2012. Etika Bisnis: Menangkap Spirit Ajaran Langit dan Pesan Moral Ajran Bumi. Penebar Swadaya. Bogor
Kiyosaki, Robert T. 2014. Rich Dad’s Cashflow Quadrant: Rich Dad’s Guide to Financial Freedom. Business Plus.

*buruh di kencana jogja (rentcar&paketwisatajogja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here