#KultumVirtual | Maafkan Dirimu, Berdamailah Dengan Masa Lalu

0
411
©Sholeh Ade Cahyadi / IMM BSKM

Penulis, Dini*

Ramadhan telah berlalu, berganti dengan hiruk pikuk hari kemenangan. Menyisakan harapan untuk dapat bersua kembali tahun depan. Semoga amal ibadah kita diterima oleh-Nya. Momen idul fitri adalah momen spesial, bukan hanya umat muslim yang merayakan namun umat non muslim pun turut merayakannya. Akan tetapi sebuah perayaan bukan berarti memperbolehkan kita untuk berfoya-foya hingga lupa diri, membelanjakan Tunjangan Hari Raya (THR) seenak hati lalu lupa membayar zakat untuk sucikan harta dan diri.

Ada satu hal yang sudah mendarah daging menjadi tradisi saat momen idul fitri : meminta maaf dan memberi maaf.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang – orang yang bertaqwa, (yaitu) orang – orang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang – orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S Ali Imran : 133-134)

Sudah tuluskah kita meminta maaf dan memberi maaf pada orang lain? Atau momen salam-salaman dan maaf-maafan seusai sholat idul fitri hanyalah sebagai basa-basi semata namun hati masih diganjal perasaan sebal? Perihal memaafkan memang bukan hal yang mudah, apalagi memaafkan orang yang sudah membuat perasaan kita sakit. Namun bukankah setiap orang pernah melakukan kesalahan? Ada satu hal yang perlu kita ingat, jika kita merasa sulit memaafkan kesalahan orang lain, coba renungkan: sudahkah aku memaafkan diriku?

Apa perlu kita memaafkan diri sendiri? Tentu saja perlu. Memaafkan diri sendiri berarti menerima kekalahan kita, hal negatif yang kita perbuat, dan mengakui bahwa kita sudah tidak jujur pada diri sendiri, kemudian berusaha memperbaiki kesalahan itu, dan berhenti mengutuk diri sendiri atas kesalahan yang pernah diperbuat. Memaafkan diri sendiri akan membuat kita lebih ikhlas, lebih tenang, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih tulus meminta dan memberi maaf kepada orang lain.

Lantas bagaimana cara memaafkan orang lain?

Sadari bahwa setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan menyakiti perasaan orang lain. Maafkan seseorang sebagaimana kita ingin dimaafkan. Ikhlaskan apa yang telah terjadi. Mengikhlaskan memang butuh waktu, tapi hidup terlalu singkat untuk terus meratap. Jika masih sulit mengikhlaskan berarti kita belum bisa memaafkan diri sendiri. Mulailah berbicara dengannya. Mendiamkan dia bukanlah sebuah solusi, jadilah seorang yang menyambung tali silaturahim. Jika ada hal tentangnya yang tidak kamu suka, katakan saja. Jangan menyiksa diri dengan berusaha melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Segala hal di masa lalu tidak perlu dilupakan, ia hanya perlu dilihat dari sudut pandang yang tidak menyakitkan. Kita terlalu agung untuk dikalahkan rasa sakit.

Jika kita sudah ikhlas maka tidak akan mengungkit lagi di masa depan dan berusaha agar tidak menyakiti perasaan orang lain.

Diriwayatkan dari Abu Musa r.a., dia berkata : Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah! siapa muslim terbaik?” Beliau menjawab, “Muslim yang lidah dan tangannya tidak menyakiti muslim lain.” (H.R Bukhari, nomor hadist : 11)

Meminta maaf dan memberi maaf bukan hanya sekedar membuat seseorang lega, tapi membuat diri sendiri tenang. Kata Tere Liye, kamu memberi maaf bukan karena dia salah dan kamu benar. Tapi kamu memberi maaf karena kamu berhak atas kedamaian di dalam hati. Memalui catatan kecil ini, penulis memohon maaf atas segala kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Semoga kita bisa menjadi muslim yang lebih baik. Takkan mulia kau menunggu permintaan maaf. Takkan hina kau meminta maaf terlebih dahulu.

Selamat hari raya Idul Fitri. Taqabbalallahu minna wa minkum. Taqabbal yaa kariim.

Penulis saat ini sedang menempuh pendidikan di UNY dari PK Ahmad Badawi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here