#KultumVirtual | Menghafal Al Qur’an: Luar Biasa Dan Semua Bisa

0
553
©Sholeh Ade Cahyadi / IMM BSKM

Oleh: Anis Tuing Isti Nur Syarifah*

Assalamu’alaikum sahabat. Apa kabar Ramadhan kita sampai saat ini? Semoga hari-hari Ramadhan yang telah kita jalani mendapatkan rahmat dan maghfirah dari Allah SWT; sehingga setelah Ramadhan nanti kita menjadi pribadi yang ‘lahir kembali’. Pribadi yang berhasil merubah diri, dan siap untuk membuat perubahan penuh arti.
Menghafal Al Qur’an.

Masih banyak orang yang memandang hal tersebut adalah hal yang luar biasa, sulit, dan banyak resiko. Menghafal Al Qur’an sebenarnya bukan proyek langka untuk orang-orang tertentu yang punya kemampuan lebih dalam mengingat dan menghafal. Menghafal Al Qur’an adalah proyek bagi setiap muslim di sepanjang hayat. Menghafal Al Qur’an menjadi satu hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim sebagai wujud cintanya kepada Al Qur’an. Menghafal bukan hanya menikmati hasil, namun juga menjalani proses dengan semantap hati.

Banyak sekali dalil atau hadits yang menjelaskan tentang keutamaan menghafal Al Qur’an. Salah satunya adalah hadits yang kemudian menjadi favorit saya dan membuat saya terus yakin untuk menghafal Al Qur’an. Rasulullah SAW bersabda:
“Allah berfirman : ‘Barang siapa yang disibukkan oleh Al Qur’an dari dzikir pada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku memberinya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keistimewaan firman Allah (Al Qur’an) atas segala perkataan, adalah seumpama keunggulan Allah melebihi makhluk-Nya” (H.R. Tirmidzi).

Bercerita tentang diri saya; Alhamdulillah Allah memberikan saya kesempatan untuk menghafal Al Qur’an. Dimulai dari kegiatan TPA, lalu tuntutan kewajiban semasa sekolah, dan akhirnya mencoba lebih serius semasa kuliah. Dengan izin-Nya, saya bisa mengkhatamkan hafalan 30 juz dalam waktu 1,5 tahun (semester 1 – semester 3). Banyak yang berdecak. Kagum dan luar biasa, katanya. Tapi sebenarnya bukan itu intinya. Bukan hanya tentang luar biasa, tapi sesungguhnya semua bisa melakukannya.

Apakah sulit menghafal Al Qur’an? Jawabannya: tidak!. Menghafal Al Qur’an itu sederhana. Menghafal Al Qur’an sama dengan kita menghafal rumus matematika, nama latin biologi, pemikiran para filsafat atau psikolog, atau menghafal materi pelajaran lainnya. Tidak ada yang beda dengan cara kita menghafal, yang berbeda hanya pada materi; pelajaran dan Al Qur’an. Sesungguhnya, kita hanya perlu menyederhanakan pikiran, berpikir bahwa menghafal Al Qur’an itu sama dengan menghafal materi pelajaran; dan yakin jika kita bisa.

Lalu, bagaimana cara/tips untuk menghafal Al Qur’an? Jika ditanya tentang hal itu, jujur saya bingung harus menjawab bagaimana dan menjawab dengan apa. Saya tidak pernah mempelajari teori khusus tentang cara menghafal Al Qur’an. Berbekal dengan tekad kuat yang tak terbendungkan, saya menghafal Al Qur’an. Belajar dari pengalaman; menyimak, meniru, dan kemudian mengembangkan sesuai diri kita masing-masing. Berikut beberapa hal yang selama ini saya lakukan dalam menghafal Al Qur’an:

1. Bulatkan Tekad
Sebelum memulai menghafal, kita perlu bertanya pada diri kita: mengapa saya harus menghafal? Jika jawabannya berupa segudang niat yang mengandung makna ‘masih coba-coba’; maka jangan dulu memulai. Coba-coba menghafal Al Qur’an akan berpengaruh pada proses dan hasil yang kurang maksimal. Kuat lemahnya tekad berpengaruh pada kekuatan kita berjuang. Niat yang coba-coba membuat seseorang terlihat sangat semangat di awal, rapuh di pertengahan dan akhirnya hilang di akhir perjuangan. Namun, jika niat sudah kuat; seberapa besar apapun tantangannya, Insya Allah perjuangan dalam menghafal Al Qur’an tetap akan selalu berjalan.
Oleh karena itu, coba tengok hati kita lagi. Mantapkan hati! Untuk siapa saya menghafal? Mengapa saya harus menghafal? Apa yang akan saya lakukan nanti dengan hafalan yang saya miliki? Semua perlu dirumuskan, perlu direncanakan dengan jelas, dan ditanamkan kuat di dalam hati. Jadikan tekad sebagai kekuatan terbesar kita dalam menghafal Al Qur’an.

2. Buat rincian target
Setelah tekad sudah bulat dan kuat, langkah selanjutnya merencanakan target. Target ini berupa rencana pencapaian yang akan kita raih dalam waktu tertentu. Target bisa dibuat dalam dua bentuk; jangka panjang dan jangka pendek. Target jangka panjang merupakan perencanaan yang akan dicapai dalam waktu sangat lama, dan target jangka pendek merupakan perencanaan yang akan dicapai dalam waktu lebih singkat; dan target jangka pendek yang saya terapkan dimulai dari target tiap tahun.

Langkah pertama yaitu tentukan jumlah hafalan yang ingin dikuasai, dan berapa lama ingin selesai menyelesaikan hafalan tersebut. Misalnya, seseorang ingin selesai menghafalkan 4 juz selama kuliah. Maka target jangka panjangnya adalah 4 juz 4 tahun; dan target jangka pendeknya adalah 1 juz 1 tahun.
Target yang dibuat sebaiknya bukan kalimat umum yang masih mengundang berbagai intrepretasi. Buat secara jelas dan terinci. Target perlu dibuat dalam beberapa periode waktu, yaitu tiap tahun, tiap bulan, tiap minggu, sampai tiap hari.

Target bukan menjadi beban bagi kita; namun sesunggguhnya menjadi bagian dari penguat motivasi kita dalam menghafal. Lihat target setiap hari, dan katakan pada diri kita, ‘Saya harus mencapai apa yang saya rencanakan’. Jadi, buat target sesuai dengan batas kemampuan kita. Tidak terlalu mudah, namun juga tidak mempersulit diri.
Tentu saja kita harus berusaha untuk berikhtiar untuk mencapai apa yang sudah kita rencanakan. Namun, jangan khawatir jika kita tidak memenuhi target pada suatu waktu. Saat tidak memenuhi target, maka segera evaluasi target dan diri kita masing-masing. Koreksi, perbaiki, dan segera kembangkan. Perbaiki dengan baik dan tetap mempertimbangkan target utama kita. Berikan beberapa hal semacam punishment kepada diri kita saat tidak memenuhi target hafalan kita.
Pencapaian hafalan saya selama 1,5 tahun dimulai dengan menetapkan target hafalan 30 juz harus saya capai selama satu tahun. Setelah itu saya membuat target selama per bulan, per minggu, per hari, sampai per setoran. Target tersebut sudah saya pertimbangkan dengan waktu setoran saya selama ini (2 kali dalam 6 hari), adanya libur panjang, dan kegiatan lainnya.

Tentu saja saya terkadang tidak mencapai apa yang sudah saya tetapkan. Kemudian saya membuat semacam punishment, dimana untuk bulan depan saya harus memenuhi target dua kali lipat. Awalnya saya khawatir dan merasa gagal saat tidak mencapai target, namun saya yakin bahwa Allah memberikan kemampuan pada setiap hamba-Nya untuk menghafal Al Qur’an. Saya yakin dan terus berikhtiar, hingga akhirnya target-target yang awalnya molor akhirnya bisa tercapai sesuai dengan apa yang saya rencanakan.

3. Memfokuskan pikiran saat menghafal
Gagal memfokuskan pikiran dan perhatian menjadi masalah yang sering dialami orang sibuk dalam menghafal Al Qur’an; apalagi mahasiswa. Sedang kuliah misalnya, tidak sengaja teringat dengan agenda rapat. Begitu pula sebaliknya.
Al Qur’an itu pencemburu, dan cemburunya luar biasa. Jika kita berusaha untuk menseriuskan diri dengannya, ia akan lari dan sulit untuk kembali. Oleh karena itu, fokus ini menjadi hal yang paling penting. Menghafal Al Qur’an tidak fokus, hasilnya adalah hafalan yang amburadul.
Jika sedang mengalami berbagai kesibukan, akan lebih baik kita menenangkan diri dengan hal yang lain. Bisa dengan minum air putih beberapa gelas, meregangkan badan, tarik nafas, atau kegiatan relaks lainnya. Setelah itu, biasanya saya akan mempersiapkan hal-hal kecil yang berkaitan dengan urusan di luar Al Qur’an sebelum saya menghafal. Misalnya dengan membuat jadwal kegiatan, mempersiapkan bahan tugas sebelumnya dalam waktu tertentu, atau lainnya. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk merilekskan dirinya.
Setelah rileks, tanamkan pada diri bahwa dalam waktu dari jam segini sampai jam segini saya tidak boleh memegang urusan apapun selain Al Qur’an. Bismillah, terus berikhtiar untuk memusatkan pikiran pada Al Qur’an. Ingat, Al Qur’an itu pencemburu.

4. Perhatikan adab terhadap Al Qur’an
Menghafal bukan hanya urusan akal, tapi juga urusan akhlaq perlu diperhatikan. Kita perlu mempelajari dan mengamalkan adab-adab terhadap Al Qur’an. Adab menjadi hal penting, karena salah sikap bisa jadi hafalan kita tidak menjadi berkah. Salah adab terhadap Al Qur’an bisa jadi hafalan bukan menjadi kawan, tapi malah jadi lawan.
Menerapkan adab dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan wujud dari kita mencintai Al Qur’an itu sendiri. Kepada orang yang kita cintai saja kita bersikap penuh cinta dan bersikap baik agar membuat dia juga cinta pada kita; apalagi kepada Al Qur’an yang sesungguhnya nilai cintanya lebih agung dari cinta makhluk. Tentu saja kita harus bersikap penuh ta’dzim dan penuh cinta.

5. Gunakan gaya belajar untuk menghafal Al Qur’an
Bagi saya, menghafal Al Qur’an sama dengan gaya belajar kita masing-masing. Kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana gaya kita belajar selama ini. Misalnya, kita terbiasa belajar dengan mendengarkan musik. Maka saat menghafal Al Qur’an, kita bisa mulai dengam mendegar murattal dan menyimak sedikit demi sedikit. Atau, kita belajar dengan menggunakan sistem jembatan keledai, maka gunakan itu untuk menghafal Al Qur’an. Atau seperti saya yang suka belajar dengan menggunakan kode dan klasifikasi khusus yang hanya saya pahami, maka saya pun menghafal Al Qur’an dengan menggunakan cara tersebut pada ayat Al Qur’an yang akan saya hafal. Jadi, apapun manusianya, bagaimanapun cara belajarnya; semua tetap bisa menghafal Al Qur’an.

6. Tentukan waktu khusus tiap hari untuk menghafal Al Qur’an
Setiap hari? Ya, setiap hari. Kita perlu membuat jadwal kita tiap harinya; di waktu apa kita harus menghafalkan Al Qur’an. Tidak perlu lama-lama. Satu jam pun cukup. Tapi pastikan waktu yang kita tentukan tersebut berkualitas. Dalam menentukan waktu, perhatikan juga kemampuan diri kita, efektivitas otak kita dalam menyerap materi, dan kegiatan rutin yang harus kita lakukan.
Namun jangan lupakan diri kita. Setiap kesibukan pasti membutuhkan istirahat. Ada hari tertentu yang kita diperbolehkan untuk tidak menghafal Al Qur’an. Adapun saya; saya menjadwalkan hafalan Al Qur’an dari hari Minggu sampai Jum’at kurang lebih 4 jam yang saya sebar dalam beberapa waktu. Saya membuat hari Sabtu sebagai hari saya libur untuk menghafal Al Qur’an.

7. Selalu ikhtiarkan untuk tazkiyatun nafs
Al Qur’an itu sangat pemilih. Dia tidak ingin sembarang memilih ahli-nya. Al Qur’an sangan sensitif terhadal hal-hal yang tidak sejalan dengannya. Oleh karena itu, kita harus hati-hati dalam bersikap dan berbuat. Tazkiyatun nafs menjadi hal penting bagi kita dalam menghafal Al Qur’an, agar Allah memberkahi hafalan kita.
Kita perlu berikhtiar untuk berbuat amal shaleh, berprasangka baik, dan ikhlas. Maksimalkan diri untuk menghindari maksiat dan hal-hal syubhat yang ada di sekitar kita. Selalu berusaha untuk mendekatkan diri pada Allah, selalu berusaha untuk menjadikan Al Qur’an sebagai sarana untuk memperbaiki diri menuju kebaikan.

8. Cari lingkungan yang mendukung untuk menghafal Al Qur’an
Hal yang sangat sulit jika kita menghafal Al Qur’an seorang diri tanpa ada orang yang mendukung kita, atau menyimak hafalan kita. Carilah lingkungan, komunitas, atau paling minimal orang yang bersedia untuk selalu membantu dalam menguatkan semangat hafalan Al Qur’an.
Cari juga orang yang mau menyimak hafalan kita. Hafalan yang tidak disetorkan atau tidak disimak orang lain, sama saja dengan non-sense. Karena kita tidak bisa menilai benar salahnya hafalan kita. Jika bisa, jangan hanya satu orang; namun lebih banyak lagi. Karena menyetorkan hafalan kita pada orang lain secara tidak langsung akan berpengaruh pada kelancaran hafalan.

9. Apa yang harus dilakukan kalau malas?
Rasa malas tidak dipungkiri, bahwa suatu saat ia akan datang pada diri kita. Saat kita malas menghafal Al Qur’an, jangan langsung menjauhi Al Qur’an. Coba tetap ‘dekati’ Al Qur’an, namun dengan cara yang berbeda; seperti dengan tilawah, membaca arti, atau mempelajar tajwidnya. Ingat seorang sabda salafus salih? Yaitu beruntunglah orang yang ketika malas mengerjakan suatu kebajikan, ia bersemangat pada kebajikan lainnya.
Hati-hati dengan rasa malas. Jangan sampai dengan rasa malas tersebut membuat kita menjauh dengan Al Qur’an. Jangan sampai karena kita malas menghafal Al Qur’an, kita tidak mau membuka Al Qur’an sampai berbulan-bulan lamanya.
Nah, selain melakukan kebaikan tersebut; hal lain yang biasanya saya lakukan adalah melakukan hobi saya di waktu khusus, dimana kesibukan apapun tidak boleh mengganggu saya dalam melakukan hobi tersebut. Nikmati, tapi jangan sampai lalai dan ingat kalau kita masih punya tugas untuk memenuhi target hafalan kita.

10. Berdo’a pada Allah
Hal ini jangan sampai kita lupakan. Kita mampu menghafal bukan semata karena kemampuan akal kita, tapi sesungguhnya kehendak Allah yang berperan besar. Apalah kita kalau tidak ada Allah. Berdo’alah kepada Allah yang Maha Pencipta Akal, agar menguatkan langkah kita dalam menghafal Al Qur’an. Berdo’alah kepada Allah Yang Maha Membolak-Balik Hati, agar menetapkan hati yang lemah agar selalu condong untuk menghafal Al Qur’an. Berdo’alah kepada Allah Rabb Yang Memiliki Al Qur’an, agar menanamkan Al Qur’an dalam akal, hati, dan jiwa kita.
Uh…berat? Tidak kok. Bukan hal yang berat, tapi butuhperjuangan. Menghafal Al Qur’an adalah sesuatu yang besar; dan hal yang besar membutuhkan perjuangan yang besar juga.
Jadi, tunggu apa lagi? Bismillah, mari kita sama-sama berikhtiar untuk menghafal Al Qur’an. Bukan semata untuk terlihat luar biasa di depan orang lain, tapi juga sebagai wujud kita mencintai Al Qur’an. Jangan takut untuk menghafal Al Qur’an; karena menghafalkannya adalah hal yang luar biasa, dan yakin semua orang bisa untuk mengikhtiarkannya.

* Penulis adalah mahasiswi S-1 Pendidikan Luar Biasa FIP UNY angkatan 2013. Dan saat ini penulis sedang menempuh tugas akhir skripsi. Penulis menyelesaikan hafalannya di dua tahun pertama kuliah di asrama Langgar Ar Rosyad Kauman. Penulis juga baru saja selesai menyelesaikan masa belajarnya sebagai santri Rumah Tahfidz Qu Deresan pada Juni 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here