#KultumVirtual | Orang Yang Puasa Tapi Tidak Berpuasa

0
153
©Sholeh Ade Cahyadi / IMM BSKM

Oleh Calits Mumbahij Bahi*

Part 1
Segala puji bagi Allah SWT yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan yang mustahil untuk di hitung, salah satu nikmat yang dapat dirasakan secara berjamaah bagi umat islam adalah nikmat kesempatan dan usia untuk melaksanakan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan khususnya. Orang – orang yang beriman menunggu datangnya bulan ramadhan dengan kegembiraan karena datang kesempatan yang luar biasa untuk mendapatkan berlapis kebaikan yang disediakan diantaranya, barokah, rahmat, maghfirah dan pembebasan dari siksa neraka. Selain itu Allah juga memberikan momen khusus pada satu malam yang kebaikannya melebihi kebaikan yang terkandung selama seribu bulan, sedangkan puncaknya adalah pencapaian kenaikan derajat dihadapan Allah SWT dari level mukmin menjadi level muttaqin (baca: orang yang bertaqwa)

Apakah kita bergembira menyambut bulan ramdhan tahun ini? Sudah berapa kali kita bertemu dengan bulan ramadhan? Sudah berapa kali kita berpuasa ramadhan? 10 kali, 15 kali, 20 kali? Lantas apa yang suah kita dapatkan dari ramadhan yang telah kita jalankan? Apakah kita pernah mengevaluasi hasil yang kita peroleh setiap ramadhan? Jangan-jangan kita hanya dapat lapar dan dahaga saja. Kualitas keimanan dan kehidupan kita tidak pernah meningkat padahal sudah berpuluh tahun kita menjalankan ibadah puasa ramadhan.

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas dan mencoba semua upaya untuk menggapai derajat ketaqwaan dan mencapai kemuliaan dan menggenggam kehidupan yang bahagia baik di dunia dan akhirat. Mari kita mencoba melakukan muhasabah melalui pertanyaaan besar di atas, apakah kita termasuk orang yang berpuasa tapi tidak puasa (baca: puasanya sia-sia)

Di bulan Ramadhan ini setiap mukmin memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga serta tidak melakukan hubungan badan (baca suami-istri) mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun pada kenyataannya ada di antara kaum mukmin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang menjadi peringatan melalui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabraniy dalam Al Kabir )

Bagaimana mungkin orang yang berpuasa namun tidak mendapat sesuatupun dari puasanya, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?

Mari kita kupas beberapa hal yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia –semoga Allah memberi taufik pada kita agar terhindar dari hal hal dibawah ini.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan).

Jika kita melihat kondisi masyarakat saat ini banyak fenomena penyebaran HOAX (berita palsu) yang begitu mudah terjadi. Hadits ini tidak hanya berlaku pada perkataan lisan, namun juga perkataan yang tertuang dalam tulisan baik berupa status di media sosial bahkan menjadi berita yang banyak dianggap benar bagi orang-orang yang memiliki pandangan yang sama dengan berita palsu tersebut. Tidak hanya kesia-siaan dalam berpuasa dalam penyebaran perkataan dusta dan fitnah yang terdapat di media sosial, akan menjadi dosa jariyah jika sampai pelaku meninggal dan berita palsu berupa fitnah tersebut masih disebarluaskan.

Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Kemudian Al Akhfasy mengatakan, “Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.” Sedangkan yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari Ibnu Hajar mengatakan, “Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”

Itulah di antara hal-hal yang bisa membuat puasa seseorang menjadi sia-sia. Meski puasa tak jarang kita menemui orang yang masih berkata dusta atau berkata kotor, bahkan menggunjing orang lain. Atau bisa jadi, justru kita juga menjadi salah satu pelakunya. Sehingga termasuk orang yang berpuasa tapi tidak puasa. Semoga kita dihindarkan dari perbuatan yang dapat menghilangkan pahala berpuasa kita selama bulan suci ramadhan. Jika bulan ramdhan tahun ini kita anggap yang terkahir, maka tidak ada kecenderungan bermalas-malasan dalam beramal. Jadikanlah bulan suci ramadhan ini menjadi titik untuk berhijrah menjadi pribadi yang pantas menaikkan level keimanan menjadi ketaqwaan di mata Allah SWT.

Penulis adalah mahasiswa UNY tahun 2012, menjadi Kabid Hikmah PC IMM BSKM tahun 2015-2016 dan saat ini menjabat menjadi Sekretaris Umum DPD IMM DIY 2017-2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here