#KultumVirtual | Ritme Kebaikan

0
166
©Sholeh Ade Cahyadi / IMM BSKM
©Sholeh Ade Cahyadi / IMM BSKM

oleh Lady Farhana*

Dalam hidup ini, tentunya kita ingin selalu dalam kebaikan; baik kebaikan yang kita lakukan maupun kebaikan yang kita terima, terutama selama Ramadhan. Ada yang bercerita bahwa ia sulit sekali menemukan ritme kebaikannya. Banyak sekali ujiannya. Ujian dari diri maupun ujian dari lingkungannya. Keinginan untuk berubah miliki banyak tantangan yang sering kali tiada diduganya.

Hakikat ritme kebaikan adalah bagaimana kita membuat kebaikan yang kita lakukan miliki tempo yang teratur. Beberapa ketukan dapat lebih kuat, lebih lama, lebih pendek, atau lebih pelan dari lainnya. Begitu pula kebaikan, ada saatnya kita kuat melakukannya; dengan selalu bersemangat, miliki kekuatan, menghasilkan kebaikan lebih banyak. Ada yang melakukan kebaikannya lebih lama bahkan lebih pelan; saat melakukan kebaikan dengan yang sedikit namun konsisten dilakukan secara terus menerus. Ramadhan sebenarnya telah mensetting kita untuk miliki kebaikan yang teratur selama perjalan 30 hari ini.

“Barangsiapa dikehendaki allah akan mendapat hidayah (petunjuk), dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) islam. Dan barangsiapa dikehendaki-nya menjadi sesat, dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [al-an’aam: 125]

Untuk mendapatkan ritme kebaikan yang konsisten, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan:
Teman satu ritme. Saat ingin menghasilkan kebaikan yang teratur, kita harus miliki teman yang memiliki satu ritme dengan kita. Artinya, teman kita adalah teman yang mengajak kita pada kebaikan. Bukan sebaliknya. Jika belum satu ritme dengan kawan kita, maka samakan frequensi kebaikan itu agar menjadi satu ritme kebaikan. Jika tidak bisa mengajaknya, maka carilah teman lainnya yang dapat membawa kita pada ritme kebaikan tersebut.

Mba, apakah jika seperti itu saya memilih-milih teman?” Tentu tidak. Berteman boleh dengan siapapun. Namun harus kita yakini bahwa siapa diri kita dapat ditentukan dimana kita tinggal, bercengkrama yaitu dengan teman akrab kita. Bahkan Umar Bin Khattab mengatakan bahwa jika kita ingin tahu kepribadian seseorang dapat dilihat siapa temannya; yaitu teman yang pernah bersamanya minimal tiga hari perjalanan.

Lingkungan yang miliki ritme kebaikan. Saat kita inginkan kebaikan kita selalu dalam ritme yang teratur, penting kita berada di lingkungan yang ritmenya sama dengan kita; yaitu ritme dalam kebaikan. Orang yang berada di lingkungan yang tidak satu ritme, ia akan tertekan secara tanpa sadar. Misalnya orang yang baru memakai hijab, jika ia berada di lingkungan yang tidak satu ritme, ia akan banyak direndahkan “Halahh tumben, ga tau apa masa lalumu kayak apa.“, dikucilkan, tidak disukai dan lain sebagainya.

Maka, silahkan saja cek, misal bagi orang yang ingin sekali berhenti merokok, namun berada di lingkungan merekok, keinginan ia untuk berubah sebenarnya belum serius. Lingkungan yang dalam satu ritme juga akan akan menghantarkan kita pada semangat untuk berlomba dalam kebaikan. Saat kita beramal sekedarnya, namun teman kita jauh lebih banyak..setidaknya kita bisa iri padanya dan mengencangkan kembali amalan kita lainnya. Lingkungan miliki peranan penting agar kita mendapatkan kebaikan yang satu jalan.

Miliki ilmu. Hal yang terpenting untuk membuat ritme kebaikan kita menjadi selaras, maka kita harus memiliki ilmu tentang kebaikan yang ingin kita lakukan. Contohnya, tentu kita tahu setiap orang tua kita beliaulah orang yang menyayangi dan mencintai kita. Namun sering kali tanpa sadar orang tua tidak tahu cara untuk mengekspresikan rasa sayang dan cintanya seperti mengatur-ngatur, memarahi, dan lain sebagainya, sehingga justru yang diterima anak bahwa orangtua tidak menyayanginya.

Nah, ketiga hal di atas menjadi penting untuk membuat ritme kebaikan kita menjadi seirama atau sejalan dengan yang kita inginkan. Melakukan perubahan dalam diri adalah sebuah keniscayaan yang harus kita lakukan, termasuk mengubah ritme kehidupan kita sejalan dengan kebaikan yang ada. Jangan ragu dan jangan bimbang, ritme kebaikan bisa kita hadirkan saat kita bersungguh ingin mendapatkannya.

Penulis saat ini diamanahi sebagai Ketua Tabligh dan Kajian Keislaman DPD IMM DIY, dan Sekretaris Korps Muballigh Muhammadiyah PDM Kota Yogyakarta, serta Sekretaris MDMC Kota Yogyakarta. Menempuh pendidikan Magister Psikologi Sains Universitas Ahmad Dahlan Yk. Penulis dapat dihubungi melalui IG: lady_farhana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here