Memaknai Dimensi Vertikal Syair Sosrokartono: Sugih Tanpo Bondo

0
38

Ditulis oleh Hanif Bayu Ismail, Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM Al-Khawarizmi UGM

– “Sugih tanpo bondo, digdaya tanpo aji. Trimah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih.” —

Syair Raden Mas Panji Sosrokartono yang telah lama menjadi ugeman orang Jawa, tidak hanya membawa konsepsi yang bersifat horizontal namun juga melingkupi hal-hal yang sifatnya vertikal. “Sugih tanpo banda,” kaya tanpa harta. Manusia sebagai makhluk yang memiliki nafsu selalu memiliki keinginan untuk mengisi hatinya dengan segala yang ada, harta, wanita, kekuasaan. Kontrol terhadap itu semua, sejatining kontrol terhadap belenggu duniawi manusia (Khotbah di Atas Bukit, Kuntowijoyo). Sampai akhirnya manusia mencapai pemaknaan vertikalitas yang lain, bahwa tidak ada keabadian di dunia termasuk sukacita dan dukacita. Wa ma utitum min syai`in fa mata’ul hayatiddunya wa zinatuhaa, wa maa ‘indallahi khairuw wa abqa (Surat Al Qasas / 28 : 60). Apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.

Selanjutnya, “Digdaya tanpo aji.” Berkuasa tanpa kesaktian. Manusia yang mampu menahan nafsunya adalah manusia yang telah berkuasa tanpa kesaktian. Ia telah berkuasa bagi dirinya sendiri, untuk bebas dan membebaskan diri dari belenggu duniawi.

“Trimah mawi pasrah.” Menerima dengan pasrah, maksudnya menerima dengan pasrah hal-hal yang tidak dapat dikontrol oleh manusia, yaitu takdir. Manusia harus memahami bahwa lumakuning jagad itu telah dijaga keseimbangan serta alurnya oleh Gusti Allah. Sesuai dengan surat Al Baqarah / 2 : 30, inni a’lamu ma laa ta’lamun. Sesungguhnya kami (Allah) mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.

“Sepi pamrih, tebih ajrih.” Tidak memiliki pamrih, jauh dari rasa takut. Orang-orang yang telah kaya tanpa harta, telah berkuasa tanpa kesaktian, dan telah menerima dengan pasrah lumakuning urip, maka orang tersebut seharusnya sudah tidak memiliki pamrih dan ketakutan. Tidak ada yang ia inginkan melainkan ridho Allah dan tidak ada yang ia takutkan melainkan murka Allah.

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ (7) أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (8)
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan dunia itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah di neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Qur’an Surat Yunus / 10 : 7-8).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here