Membaca sebagai Upaya Memperkaya Sudut Pandang

0
144

 

“Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan….”( QS Al-Alaq:1)

Membaca sebagai laku kehidupan yang pertama diperintahkan oleh Allah Ta’ala melalui Malaikat Jibril ditujukan kepada seorang yang buta aksara. Pada awalnya bagi saya hal ini begitu ganjil apabila dimensi yang diperhatikan hanya sebatas Teks dan Kemampuan membaca aksara. Kita mengetahui dari banyak pelajaran yang sedari Taman Kanak-kanak sudah dijejalkan ditelinga kita kisah tentang sosok Manusia Buta aksara , Ialah Nabi Muhammad SAW. Kisah yang diperdengarkan begitu khas dan membuat kita mewajarkan Bahwa Nabi adalah orang yang tepat mendapatkan Wahyu “Membaca”. Sesekali saya sendiri kecelik bahwa ada isyarat yang jelas seorang ummi diberikan perintah untuk membaca  menandai bahwa laku membaca tidak terpaku hanya membaca Teks.

Dalam Pengertian ayat-yang dulu saya pernah pelajari di pesantren- bisa digolongkan menjadi dua jenis, Yakni ayat Qauliyah, dan ayat Kauniyah. Ayat Qauliyah sendiri didasarkan pada Firman Allah Ta’ala melalui Malaikat Jibril dan disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, berupa ayat-ayat yang sekarang bisa kita jumpai dalam bentuk Mushaf Alquran. Sedangkan Ayat kauniyah adalah ayat-ayat, pertanda-pertanda yang Allah Ta’ala ciptakan diluar ayat Qauliyah.

Dari pembagian dua golongan ayat tersebut, sebagai seorang (yg berusaha menjadi) muslim, tentu saja saya memiliki kewajiban membaca keduanya. Sedari sejak dilatih membaca Iqra, sampai lancar membaca sampai belajar tafsir ayat-ayat adalah upaya yang sering kita yakini sebagai laku mempelajari ayat Qauliyah. Di lain sisi membaca ayat Kauniyah memliki keunikan tersendiri. Kita membaca isyarat alam, membaca interaksi antar manusia, makhluk hidup dan lingkungannya adalah upaya yang bisa kita maknai tentang Ayat Kauniyah. Alat-altnya yang beragam bisa kita pilih sesuai kebutuhan diri masing-masing. Membaca buku misalnya, sebagai alternatif termudah semenjak ditemukannya kertas dan teknologi percetakan.

Pernah sesekali saya datang ke acara Maiyahan  saya sejauh ini setuju dengan pesan Cak Nun tentang membaca. AlQuran adalah wahyu tekstual yang diturunkan terakhir karena kebodohan manusia. Kebodohan ini terjadi karena banyak sekali manusia yang tidak sanggup memahami 2 ayat sebelumnya yang turun sejak Nabi Adam, yakni ayat yang bersifat mikrokosmos (diri sendiri) dan Makrokosmos( alam raya/alam semesta). Semua ayat tersebut sama pentingnya, untuk mengenal diri sendiri dan mengenal tuhannya. Man ‘arofa nafsahu, fa’arofa robbahu

Saya sering terkecoh dengan laku membaca ini. Pada mulanya saya memperbanyak membaca buku sebagai upaya memperkaya kemampuan membaca. Awal-awal proses membaca buku sering membawa pembacanya pada sikap yang –mendekati-angkuh. Merasa memiliki kepentingan Pengetahuan dan ketagihan bacaan, membawa pembaca memperkukuh rangka “Kebenaran” yang selama ini dipahami. Tak jarang ketika kita melakukan diskusi dengan teman yang memiliki kegemaran membaca akan sangat mengasikkan berbagi pandangan dan kebenaran. Memulai perdebatan karena perbedaan Kebenaran yang dianut didukung dengan bahan bacaan versi masing-masing. Semakin saya memperbanyak bahan bacaan, saya menyadari bahwa laku membaca sebenarnya tidak berfokus kepada kebenaran. Kebenaran sendiri pada hakekatnya parsial dihadapan manusia.

Mengutip analogi “Kebenaran” versi Iqbal Aji Daryono dalam buku out of the truck box, bahwa kebenaran itu ibarat Cermin besar yang diciptakan oleh Tuhan, kemudian Cermin itu pecah berkeping-keping. Setiap manusia mendapatkan kepingan cermin tersebut. Setiap orang akan mendaku bahwa itu adalah ‘Cermin’. Yang menjadi permasalahan adalah ketika orang tersebut mendaku bahwa cermin yang didapatnya itulah satu-satunya ‘cermin’, sedangkan pecahan cermin yang didapat orang lain bukanlah ‘cermin’. Akan terus terjadi perselisihan apabila perdebatan tentang ‘cermin’ itu terus digemborkan secara egois. Padahal sebagai manusia secara rendah hati seharusnya kita meyakini kebenaran yang mutlak adalah milik Allah Ta’ala. Alhaqqu min robbikum– kalo boleh mengutip ayat alquran.

Pada tahapan tertentu, membaca bagi saya adalah masalah sudut pandang. Dalam hal ini yang saya maksudkan membaca adalah, pembacaan secara umum membaca apa saja, tidak terpaku membaca secara disiplin ilmu pengetahuan (penelitian, esai ilmiah dan sebagainya).Perkara didalamnya terdapat fakta dan data-data kualitatif itu wajar, namun sebagai pembaca sudah seharusnya kita memiliki kesimpulan dan sikap terhadap bahan bacaan, sesuai apa yang kita miliki. Saya sendiri tidak memperbolehkan ‘menyerahkan’ diri saya pada bahan bacaan , sebab bahan bacaan secanggih apapun adalah teks yang membawa gagasan kepentingan penulisnya kepada pembaca. Dan pembaca seperti saya menjadikan tulisan tersebut sebagai sudut pandang yang memperkuat pemikiran.

Membaca adalah sebuah laku untuk mempertanyakan segala sesuatu. Pada tahapan ini kita harus sadar betul bahwa membaca tidak sekadar tekstual- text book , namun juga membaca secara kontekstual. Setiap hal akan sulit kita pertanyakan  jika hanya lewat buku saja,  laku mempertanyakan sesuatu dapat secara sah terjadi apabila kita sebagai pembaca juga mampu mebaca hal-hal di luar buku. Mengkaitkan satu simpul pemahaman, dengan simpul pemahaman yang lain di dalam pikiran kita. Mempertanyakan hal-hal yang mengganggu nalar berpikir, sekaligus mencari jawaban itu sendiri. Saya sendiri lebih memahami bahwa sebenarnya semua pertanyaan sebenarnya memiliki jawaban. Hanya saja kita sebagai manusia seringkali pasif menunggu jawaban dalam wujud kata-kata. Jawaban bisa saja menyamar sebagai laku, sebagai rasa, sebagai gejala, sebagai pertanda dan semua yang terlepas dari kata-kata.Terkadang Jawaban harus dialami dan dirasakan sendiri. Dan yang terpenting adalah, kita bisa bersikap menghadapi kehidupan keseharian kita. memproses nilai-nilai yang kita rangkum dalam pikiran dan menjadikan Laku kehidupan yang baik dan cantik pada kehidupan nyata sehari-hari. Mengutip dalam tulisan Najeela Shihab, kita seharusnya tidak sekadar aktif membaca, namun perlu membaca aktif. Membaca aktif adalah sikap dan inisiatif diri dalam memikirkan apa yang dibaca. Mencari sudut pandang, mengkaitkan pemahaman bacaan dengan bekal ide dan imajinasi pembaca itu sendiri.

Alat terpenting yang perlu dimiliki bagi seorang pembaca seperti saya adalah Empati. Bagi saya empati penting dalam segala sesuatu, termasuk membaca.Daya berpikir otak saya terbatas apabila saya membaca banyak hal, terutama pada bidang-bidang yang tidak saya dalami. Pada akhirnya Empati adalah alat yang mampu saya gunakan sebagai seorang pembaca secara pragmatis demi kepentingan membaca. Kepentingan utama pembaca seperti saya bukan pada analisis, dan penguasaan kognisi,melainkan pada penangkapan Sudut pandang apa yang dibaca. Perkara mendapatkan pemahaman kognisi itu akan sendirinya terpenuhi apabila secara kuantitatif durasi membaca ditingkatkan dan praktik langsung, bagi saya itu bonus. Sudut pandang inilah bagi pembaca yang perlu ditagkap sebagai sebuah ‘akik’ dari apa yang dibacanya. Secara ringkas empati adalah alat saya untuk membaca, dan kepentingan untuk membaca adalah mendapatkan sudut pandang baru.

Sikap yang diambil setelah membaca ini yang mendasari saya dalam Laku kehidupan sehari-hari. Hari ini banyak sudah contoh di kehidupan sehari-hari maupun pada sosial media tentang pembelaan mati-matian terhadap kebenaran yang dianggap paling benar. Sikap pembaca yang tidak independen terhadap wacana yang dilemparka kepada publik secara liar ini bagi saya menandakan kepasrahan pembaca terhadap wacana. Menelan bulat-bulat apa yang diwacanakan oleh seseorang yang ‘dianggap kompeten’. Publik sendiri secara ‘serampangan’ menganggap kebanaran itu tunggal, dan yang tidak sejalan adalah salah. Pertanda kekurangan sudut pandang dalam melihat suatu masalah. Lebih parahnya lagi, apabila berlanjut, maka sudut pandang yang akan muncul adalah sudut pandang ‘Biner’. Jika tidak salah, ya benar, jika tidak mendukung, berarti menolak. Padahal kehidupan manusia itu rumit, tidak bisa diputuskan hanya dengan salah dan benar.

Bagi saya membaca adalah proses menuju ‘Melek’ atau istilah populernya adalah Literated dengan syarat membaca secara aktif, dan berani bersikap dengan bacaan yang dihadapi. Kondisi melek inilah yang nantinya mampu melahirkan kerja-kerja yang baik, tidak parsial dan tentu saja komperhensif. Mempertimbangkan secara aktif sebab akibat/ risiko apa yang dilakukan. Tentu lebih jauh apabila secara masif gerakan membaca agar ‘melek’ ini bisa dilakukan masyarakat secara umum, maka pelan-pelan kondisi kehidupan bermasyarakat (semoga) akan membaik. Tentu kegiatan membaca ini diniatkan juga sebagai ibadah. Ibadah yang pertama kali diturunkan dan diperintahkan sebagai wahyu. Iqra!

 

Ade Cahyadi, Pernah menjabat sebagai Kabid Organisasi PC IMM BSKM 2016-2017. Sedang memulai untuk belajar membaca dan menulis. Hobi corat-coret dan bermain software grafis. Bisa disapa di surel adecahyadi87@gmail.com, instagram :@adecahyadi87

 

Penyunting : Aul

l

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here