Membongkar Pembaruan Kiai Ahmad Dahlan: Menyegarkan Kembali Spirit Intelektualisme Dalam Tubuh Muhammadiyah

3
307

Oleh: Salman Ahmad Ridwan*

Awalnya;

Bagi warga Muhammadiyah, tentunya sudah tak asing ketika mendengar nama Kiai Ahmad Dahlan. Seorang kiai yang berasal dari Kauman (Yogyakarta) ini merupakan seorang sosok yang sangat fenomenal di mata para cendikiawan muslim atau non muslim, peneliti sosial, peneliti kebudayaan, peneliti pendidikan dan lain sebagainya (termasuk para aktivis gerakan keagamaan). Bagi mereka (termasuk kita) yang sering mengupas dan mengkaji sejarah perjalanan Islam di negeri ini, nama Kiai Ahmad Dahlan adalah sosok yang tidak bisa dilepaskan dalam potret sejarah kebangkitan Islam pada awal abad ke-20. Bahkan berkat perjuangan amal dan pemikirannya, nama Kiai Ahmad Dahlan atau  kemudian sering disebut Kiai Dahlan disejajarkan dengan tokoh pemimpin organisasi Islam pada zamannya seperti HOS Tjokroaminoto yang merupakan tokoh sentral Sarekat Islam (SI).

Melalui usaha dua tokoh inilah maka sejarah perjalanan Islam di republik ini menjadi sangat penting karena, usaha mereka telah melahirkan dua pilar organisasi Islam dengan corak modern. Namun, Jika Sarekat Islam (SI) yang kemudian menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) lebih cenderung bergerak dalam bidang politik, maka Kiai Ahmad Dahlan dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya lebih cenderung bergerak dibidang dakwah kemasyarakatan.

Selama ini, jika kita melihat gerakan Islam modern, melalui pencermatan kata modern, maka kita dapat mengambil sebuah makna modern tersebut sebagai adanya upaya pembaruan. Secara umum, Pembaruan adalah sesuatu upaya perubahan hal-hal lama dan terbelakang kemudian menjadi sesuatu hal yang baru dan maju. Dalam bahasa Haedar Nashir pembaruan merupakan kesadaran baru untuk bangkit dari keterbelakangan atau penjajahan menuju suatu era baru (Nashir, 2010:72).

Dengan demikian, pembaruan merupakan sesuatu ruh dari pemahaman dan gerakan yang berkemajuan (progres) yang mengakui adanya proses perubahan secara terus-menerus yang konstruktif dengan pengalamannya yang tidak selalu tunggal atau tetap. Oleh karenanya, dalam mewujudkan suatu pembaruan, suatu realitas perlu sekali untuk dilihat secara tajam bahkan dilihat kembali agar realitas itu selalu dihadapkan dengan keadaan kondisi kekinian sebagai upaya untuk menjawab suatu permaslahan zaman, namun tentunya, tidak keluar dari nilai-nilai dasarnya.

Banyak para peneliti Muhammadiyah sampai saat ini telah menilai bahwa, kehadiran Muhammadiyah di negeri ini merupakan buah dari ijtihad pemikiran dan amaliyah Kiai Dahlan yang terdorong oleh semangat pembaruan. Lihat saja Junus Salam, yang mengatakan bahwa Kiai Ahmad Dahlan adalah seorang sosok manusia amal (Salam, 2009: 81). Begitu juga Nurcholis Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur ini, menilai bahwa pembaruan yang dilakukan oleh Kiai Dahlan merupakan suatu terobosan yang telah melewati zamannya. Bagi Cak Nur, Kiai Dahlan adalah sosok manusia yang menangkap jiwa dari tafsir Al-Manar dan berusaha mengupayakan untuk  mengkontekstualisasikan dengan zamannya (Madjid, 1983: 310).

Melalui dua pernyataan di atas, semua itu merupakan suatu pengakuan yang kuat untuk dapat kita terima karena, pengakuan itu dapat diperkuat dengan mengambil dari kisah sejarah dimana pada saat Nyai Walidah Dahlan (Istrinya) telah menasehati Kiai Ahmad Dahlan untuk beristirahat di tengah kondisi kesehatannya yang tidak sehat atau dalam keadaan sakit, Kiai Dahlan pun mengelak bujukan dari sang istri untuk berstirahat. Ia berusaha untuk terus berkerja keras dalam meletakan fondasi awal gerakan mulianya tersebut. Di sisi lain, dalam Anggaran Dasar pertama Muhammadiyah pada tahun 1912, kita dapat menemukan bahwa maksud dan tujuan Muhammadiyah yaitu, untuk menyebarkan ajaran kanjeng Nabi kepada penduduk Bumi Putera. Jika kita melihat secara kritis dan analitis, pesan yang tercantum dalam Anggara Dasar pertama Muhammadiyah itu, pesannya lebih terlihat bersifat praktis ketimbang teoritis.

Darisinilah kita dapat melihat bahwa, sebagian besar usaha pembaruan yang telah dilakukan oleh Kiai Dahlan itu merupakan suatu wujud usaha pembaruan yang bersifat amaliyah (praksis). Dan hal itu tentunya akan bertolak belakang dengan topik dan tema yang diangkat dalam tulisan ini, karena tema atau topik dari pembahasan tulisan ini telah mengangkat tema intelektualisme. Pertanyaannya, apakah hal ini akan salah? Bagi saya tentunya tidak. Karena persoalan yang menyangkut intelektualisme dalam tubuh persyarikatan Muhammadiyah belakangan ini telah mengalami kemerosotan yang sangat menyedihkan, bahkan bisa kita katakan tenggelam dari semangat pembaruan intelektualitasnya Kiai Ahmad Dahlan. Lalu, berkenaan dengan hal tersebut, apakah semangat pembaruan yang selama ini dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah selama satu abad perjalananya ini telah mengesampingkan spirit intelektualisme? Mari kita simak lebih lanjut tulisan ini.

Pembaruan Kiai Ahmad Dahlan

Sosok Kiai Ahmad Dahlan adalah sosok yang memiliki spirit perjuangan keagamaan Islam yang telah melewati keadaan di zamannya. Kepeloporan dan kegigihannya dalam menjunjung tinggi agama Islam sesuai dengan sumber utamnya yaitu al-Qur’an dan As-sunnah, telah meyakinkan dirinya bahwa apa yang mendobrak segala otoritas keagamaan, budaya, dan tradisi yang dibakukan oleh para ulama yang berhaluan konservatifisme dan fundamentalisme dalam memahami nilai-nilai keagamaan. Semanagat inilah yang tidak bisa lepas dari api pembaruannya.

Di tengah zamannya, Kiai Dahlan berhadapan dengan realitas kehidupan manusia yang terjebak pada kemerosotan akhlak dan tindakan dehumanisasi yang dibentuk oleh sistem kolonialisme para penjajah (Belanda). Dalam keterjebakannya masyarakat pada dua sifat tersebut secara berproses telah membawa kejumudan masyarakat pada saat itu. Di sisi lain pun, tindakan para pemimpin keagamaan prihal memahami ajaran dan nilai-nilai Islam ternyata tidak dapat memberikan suatu langkah alternatif untuk mendobrak kehidupan masyarakat. Sehingga, kultur seperti malas, kebodohan, dan kemiskinan semakin mengental kuat dalam diri setiap masyarakat di zamannya itu. Dari kondisi riil sosio-kultural seperti inilah, maka Kiai Ahmad Dahlan mencoba berupaya untuk melakuakan pembongkaran terhadap tembok kebudayaan masyarakat yang telah mengalami keterbelakangan agar bisa menjadi masyarakat terbaik (khairu ummah), seperti apa yang yang di pesankan oleh Tuhan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Kemunculan semangat pembaruan ini muncul dalam diri Kiai Ahmad Dahlan setelah pulang melaksanakan Haji di Mekkah, melalui pembelajaran dan perkenalan dengan pemahaman para pemikir-pemikir Islam pembaruan seperti Muhammad Ibnu Abdul Wahab, Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Ahmad Khan, telah dikatakan bahwa Kiai Dahlan telah terkonstruk semangat revolusi kesadaran dalam dirinya untuk memahami dengan mendalam akan ajaran dan nilai Islam yang sangat penting sebagai rahmat seluruh alam semesta. Dari perkenalannya dengan para tokoh pembaruan Islam Timur Tengah inilah, yang membentuk pribadi Kiai Ahmad Dahlan yang membawa pemahaman keagamaan bercorak pembaruan, dengan semangat untuk mengembalikan ajaran Islam kepada sumber aslinya yang murni yaitu Al-Qur’an dan As-sunnah (Al-ruju ila al-Qur’an wa As-sunnah), namun tetap tidak menutup pula pintu ijtihad bagi kalangan ummat Islam.

Bagi banyak para peneliti, tokoh, maupun aktivis Muhammadiyah saat ini telah mencatat, upaya Kiai Dahlan dalam memurnikan ajaran Islam dengan upaya untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan akibat adanya interaksi Kiai Dahlan dengan paham wahabisme. Pemahaman keagamaan puritan dari Arab Saudi yang menolak secara keras dan “kasar” atas sikap masyarakat Islam yang pada saat itu (bahkan sampai saat ini) telah mencampurkan ajaran keagamaan Islam dengan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan dua sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti takhayul, bid’ah, khurafat, taqlid yang membabi buta tanpa ada sumber yang begitu jelas.

Begitu pula dalam memaknai ijtihad, bagi berbagai kalangan para pengamat dan aktivis Muhammadiyah, upaya Kiai Dahlan dalam mengajak umat Islam untuk kembali membuka pintu ijtihad secara luas dinilai karena terpengaruh oleh Muhammad Abduh melalui tafsir Al-Manar. Ijtihad disini merupakan pembebasan akal pikiran dari taklid yang membabi buta. Walau pun Bagi Abduh, tidak ada pembaruan dalam bidang ibadah, karena hal itu sudah begitu jelas, namun ketika melakukan pembaruan dalam bidang muamalah, hal itu sangat diperlukan untuk menjawab tuntutan zaman. Dari sini, upaya untuk membuka kembali pintu ijtihad merupakan suatu keniscayaan yang harus dikembangkan di tubuh umat Islam. Penilaian tentang adanya pengaruh dari Abduh dalam membukakan kembali pintu ijtihad dapat kita saksikan dari salah satu pernyataan Nurcholis Madjid yang menyatakan bahwa Kiai Dahlan adalah sosok pencari kebenaran sejati yang mampu menangkap jiwa tafsir Al-Manar dan mengkontekstualisasikan dengan zaman.

Dari dua nilai dasar tersebutlah, Kiai Ahmad Dahlan dapat merespon tuntutan zaman serta dapat membawa bentuk perubahan signifikan bagi umat dan bangsa ini. Sampai saat ini kita dapat menyaksiskan dengan beberapa karya nyatanya dalam bentuk lembaga amal, seperti: Sekolah Islam Modern dari Bustanul Atfhal (TK) sampai tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), Rumah Sakit yang dikenal pada masa awal Muhammadiyah dengan nama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat), lembaga amal zakat, panti asuhan, dan pelayanan sosial lainnya.

Pembaruan Kiai Ahmad Dahlan; Apakah

Terpengaruh Dari Para Pemikir Pembaru Islam?

Apakah pembaruan yang dimanifestasikan oleh Kiai Ahmad Dahlan dengan  karakteristik amaliyah tersebut merupakan suatu cerminan dan hasil interaksi dari para pemikir pembaruan seperti Muhammad Ibnu Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan para tokoh pembaruan Islam dari Timur Tengah lainnya?

Jika kita mencari lebih dalam, karakteristik pembaruan yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan kita pasti akan menemukan corak gerakan dan pemikiran yang sangat berbeda dengan para tokoh-tokoh pembaruan Timur Tengah tersebut. Mari kita coba analisis melalui pendekatana studi komparasi antara Kiai Dahlan dengan wahabisme, memang gerakan yang selama ini dilakukan oleh wahabisme dalam melakukan penolakan terhadap takhayul, bid’ah, dan khurafat cenderung keras, dan kasar, serta tanpa tedeng aling-aling memfatwakan mereka yang melakukan hal itu adalah orang-orang yang sesat (kufur). Sedangkan jika kita melihat gerakan yang dilakukan oleh Kiai Dahlan, itu tidak seperti yang dilakukan oleh para penganut paham Wahabisme tersebut.

Dalam proses menyadarkan umat agar bisa kembali pada ajaran murni Al-Qur’an dan As-Sunnah lebih bersifat toleran dan dilakukan melalui pendekatan kultural. Tak hanya pada penganut agama Islam saja, kepada para penganut pemahaman agama yang berbeda pun Kiai Dahlan telah membuka diri serta memberi kesempatan tanpa sesuatu hal yang sangat memberatkan. Adalah Abdul Munir Mulkhan (2010: 1-2), yang memberi penjelasan dalam “Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan”, bagaimana dalam hal ini Mulkhan telah mencatat tentang kesaksian Dr. Soetomo yang telah dipercaya untuk menjadi Medisch Adviseur H.B. PKO Muhammadiyah. Dari sini Mulkhan menilai adanya bukti keterbukaan Kiai Dahlan yang tidak hanya pada kalangan Islam saja (santri), tetapi juga bagi kalangan priyai bahkan belajar bersama pastur-pastur agama lain (Nasrani) pun diberikan kesempatan untuk bekerjasama dalam menjalankan misi kemanusiaan.

Selain itu, dalam hal perbandingan yang berkaitan dengan pemikiran Jamaluddin Al-Afghani. Seperti kita ketahui, gagasan yang paling terkenal dalam pemikiran Al-Afghani adalah usahannya untuk menggerakan adanya persatuan umat Islam. Al-Afghani sangat berusaha untuk mempersatukan umat Islam di seluruh dunia, sehingga gagasannya sering kita kenal dengan nama Jami’ah Islamiyah, atau lebih dikenal dengan istilah Pan-Islamisme.

Pan-Islamisme pada umumnya dipahami sebagai upaya untuk membuat suatu bentuk negara Islam dengan sistem satu kepala negara satu pemerintahan khilafah, yang pada mulanya untuk mengikat secara erat tali persaudaraan antara sesama ummat Islam di seluruh bumi ini, sehingga ummat Islam bisa menjadi suatu kekuatan besar yang dapat melawan segala bentuk prilaku penjajahan yang selama ini telah dilakukan oleh bangsa Barat (Eropa).

Namun dalam konteks saat ini, gagasan Al-Afghani dalam menciptakan adanya persatuan dalam umat Islam telah terjadi perubahan interpretasi terhadap cita-cita Al-Afghani. Munculnya gerakan-gerakan Islam yang cenderung terinspirasi oleh gagasan Al-Afghani ini, lebih condong pada misi politis, dengan misi agar terwujudnya suatu negara Islam. Lahirnya kelompok Thaliban di Afghanistan yang melawan dengan keras setiap kebijakan politik negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Australia, dll. Munculnya kelompok-kelompok inilah yang sering dikatakan sebagai kelompok yang terinspirasi dari gagasan Al-Afghani. Di lain itu, munculnya kelompok Hizbut Tahrir dan Gerakan Ikhwanul Muslimin pun, tak lain merupakan kelompok-kelompok yang mengadopsi gagasan Pan-Islamisme Al-Afghani.

Melihat hal itu, kita dapat memandang bahwa, gagasan Al-Afghani lebih cenderung pada dimensi politik. Serta menolak terhadap sesuatu yang berbau Barat. Sedangkan jika dikaitkan kembali dengan gagasan pembaruan Kiai Dahlan, sampai saat ini pandangan yang mengatakan bahwa gagasan pembaruan Ahmad Dahlan yang mengarah pada dimensi politik masih belum ditemukan, karena gagasan Kiai Ahmad Dahlan cenderung pada gerakan kemasyarakatan. Walaupun ada catatan sejarah bahwa, Kiai Dahlan pernah bergabung dengan Sarekat Islam, peran Kiai Ahmad Dahlan hanya sebagai penasehat urusan agama (PP. Muhammadiyah, 1993: 57), bukan urusan politik.

Lalu bagaimana kaitannya dengan pengaruh dari Muhammad Abduh? Gagasan pembaruan yang lahir dari Muhammad Abduh memang relatif memiliki kemiripan dengan pembaruan Kiai Dahlan. Upaya menyerukan kepada umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, membuka kembali pintu ijtihad, dan menempatkan akal sebagai instrument dalam menafsirkan Al-Qur’an, dan pembaruan pada bidang pendidikan, serta ketidakterlibatannya pada politik, telah  menandakan ada kemiripan. Sikap untuk tidak menolak dengan apa yang berbau Barat secara mutlak, akan tetapi mencoba mengambil hal yang baik, serta sikap moderatnya, menjadi pembuktian yang begitu kuat antara interaksi Abduh dan Kiai Dahlan. Namun, apakah semuanya gagasan pembaruan Kiai Dahlan itu dipengaruhi oleh gagasan pembaruan Abduh?

Pembaruan Muhammadiyah yang sering dikatakan selama ini dirinya anti terhadap Barat, anti tradisi, dan pemahaman agama lain sebenarnya perlu dilihat secara ulang dan mendalam, dengan anlisis historis yang kuat. Sampai saat ini banyak yang melupakan bahwa, lahirnya kegiatan pembaruan Kiai Dahlan yang mengarah pada dimensi kemanusiaan seperti mendirikan sekolah, panti sosial, rumah sakit, dan organisasi kewanitaan ternyata telah dibantah oleh Abdul Munir Mulkhan dalam karya penelitiannya yang berjudul “Konservatisme Literal dan Kritisme Liberal Dalam Dinamika Satu Abad Muhammadiyah” . Bagi Mulkhan selain bentuk dari penafsiran al-Qur’an diantaranya adalah surat Al-ma’un, pembaruan Kiai Dahlan adalah hasil penyerapan pengalamannya dengan orang-orang Kristiani, pastur Belanda, dan para pejabat kolonial (Mulkhan, 2008: 15). Bahkan, jika kita pikir lihat secara mendalam, Kiai Ahmad Dahlan saat ingin mendirikan organisasi Muhammadiyah, sebenarnya itu karena karena keterlibatannya yang kemudian didorong oleh kawan-kawannya di Budi Utomo.

Temuan Munir Mulkhan di atas tentunya merupakan sesuatu pandangan yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini telah dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk aktivis Muhammadiyah sendiri. Selanjutnya Munir Mulkhan telah memperkuat penemuannya yang ditegskan lagi dalam “Islam Sejati Kiai Ahmad Dahlan” (Mulkhan, 2003), bahwa pengalaman Kiai Dahlan saat menjabat sebagai abdi dalem kekuasaan Ngayogyokarto Hadiningrat, peran Kiai Ahmad Dahlan sebagai elite priayi Jawa. Keaktifan Kiai Dahlan menjadi abdi dalem Kraton dan ketika mendirikan Muhammadiyah merupakan bentuk internalisasi kesadaran dari pergaulannya dengan pejabat kolonial Belanda dan pastur-pastur Kristiani yang aktif menjalankan misi-misi kemanusiaan seperti membuat rumah sakit, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, dan lembaga kemanusiaan lain.

Bagi saya, Munculnya penemuan dari Munir Mulkhan yang berbeda dari referensi-referensi sebelumnya tentang Pembaruan Kiai Dahlan dan Muhammadiyah meruapakan suatu pembongkaran yang sangat kritis dan tajam, dari pemahaman-pemahaman sebelumnya. Setuju atau tidak setuju, bagi saya argumentasi Abdul Munir Mulkhan tersebut merupakan suatu keluasan khazanah keilmuan yang dapat membawa pengetahuan kita tentang pembaruan Kiai Dahlan dan Muhammadiyah. Manakah yang akan kita spakati? Silahkan pilih yang mana saja. Karena hal itu akan menjadi tantangan kita bersama ketika kita memahami secara mendalam, untuk menentukan dan memilih karakter pembaruan Kiai Dahlan dan Muhammadiyah. inilah yang akan memunculkan spirit baru pada kita dalam membangun spirit intelektual dan pemikiran. Tentunya, agar kita dapat menentukan suatu sikap seperti yang dilakukan oleh Kiai Dahlan pada zamannya.

Rekonstruksi Intelektualisme Dalam Muhammadiyah

Spirit pembaruan yang dilakukan oleh Kiai Dahlan memang lebih bersifat praktis. Bukan mengarah pada intelektualisme atau pemikirannya. Hal ini dapat dilihat dari sumbangsihnya terhadap bangsa ini yang tidak meninggalkan karya pemikirannya yang berupa tulisan atau buku-buku karangannya. Lalu apakah kita akan menilai bahwa semangat pembaruan yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan tersebut telah mengabaikan atau tidak memiliki nilai-nilai intelektual? Oh.. Tentu tidak. Kiai Dahlan adalah sosok manusia yang memiliki pemikiran yang telah melampaui zamannya. Ia adalah manusia yang gigih dalam mencari kebanaran tanpa harus memenjarakan potensi akal-budi sebagai instrumen untuk menafsirkan Al-Qur’an agar menjadi jawaban bagi tuntutan setiap zaman yang selalu bergerak.

Dalam naskah sejarah Muhammadiyah pada periode awal yang ditulis oleh Kiai Suja’, di sini Kita dapat melihat adanya penggambaran intelektualisme, bagaimana para tokoh Muhammadiyah di masa awal dan Kiai Dahlan itu berupaya untuk menerbitkan serta membantu terbitnya kitab-kitab sebaran, kitab khutbah, surat kabar, dan majalah, yang berkaitan dengan ilmu keagamaan Islam. Dari sini Muhammadiyah pada masa awal sebenarnya telah melahirkan para pemuda yang kuat dalam mengarungi dunia intelektualisme yang diajak oleh Kiai Ahmad Dahlan untuk berhadapan dengan tanda-tanda pergolakan zaman. Namun bagaimana dengan sekarang?

Pengalaman Kiai Dahlan dalam bergaul secara intens dengan organisasi Budi Utomo yang berlatar belakang pendidikan modern atau Barat, ternyata telah memicu pemikiran Kiai Dahlan dalam melakukan suatu terobosan yang bercorak intelektual di zamannya. Walaupun telah berhadapan dengan otoritas keagamaan yang mengklaim bahwa, ketika ummat Islam bergaul dengan orang-orang yang bergaul dengan bangsa Barat, dia adalah seorang kafir. Namun, Dalam pergaulannya, Kiai Ahmad Dahlan terinspirasi untuk mendirikan Organisasi Muhammadiyah. Tentunya tidak lupa pula untuk melihat apa yang dipesankan dalam kitab suci bahwa pentingnya untuk membuat segolongan ummat yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemunkaran (Qs, Ali-Imran:104). Disinilah ia semakin yakin untuk mendirikan Muhammadiyah..

Pengalamannya yang luas bergaul dengan siapapun, seperti pernah menjadi penasehat urusan agama di Sarekat Islam (SI) pada tahun 1915, mengundang Alimin, tokoh Komunis yang sering berdialog dengan Kiai Dahlan, telah menandakan pribadinya sebagai manusia yang tidak pernah puas dalam mencari dan belajar pada siapa pun. Tak peduli siapa dia, pahamnya apa, agama, ras, dan warna kulitnya itu apa.

Bahkan dalam Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan”, yang ditulis oleh Munir Mulkhan (2007:139), Kiai Dahlan menghimbau agar kesempurnaan akal-budi selalu dioptimalkan, konsep kesempurnaan akal-budi akan membawa kita pada pengertian baik-buruk, benar-salah, kebahagiaan atau penderitaan dan bertindak berdasar pengertian tersebut sesuatu kebaikan yang akan dicapai oleh manusia jika akalnya sempurna. Yaitu akal kritis dan kreatif-bebas yang diperoleh melalui belajar. Bagi Kiai Dahlan, inti ajaran Islam adalah ilmu dengan memandang semua manusia sama.

Inilah spirit yang selama ini tenggelam di tubuh Muhammadiyah. Entah itu karena persoalannya apa, namun pandangan subjektif saya selalu mengatakan bahwa, yang menenggelamkan perlahan-lahan spirit pembaruan yang bercorak intelektual di tubuh persyarikatan ini, yaitu karena sifat kemapanan yang terlalu berlibahan telah hadir pada diri aktivis Muhammadiyah dalam mengelola lembaga amal-usahanya yang saat ini terlihat mapan.

Kenapa sampai saat ini kita tidak pernah menyadari bahwa sejak sekitar kurang lebih lima-enam abad yang lalu umat muslim telah mengalami kemunduran yang sangat pesat, bahkan kemunduran itu hampir menguburkan Islam? Tak lain dari semua itu adalah karena melemahnya gerakan intelektual dikalangan masyarakat muslim. Padahal, Apapun persolannya, semangat untuk menghidupkan kembali gerakan intelektual adalah bukti penandaan pada kemajuan peradaban yang tinggi bagi manusia (high civilization) sampai kapan pun, sampai dunia rapuh.

Konteks zaman saat ini memang sangatlah berbeda dengan keadaan zaman pada periode Kiai Dahlan dan Muhammadiyah masa awal. Namun tidak ada salahnya bagi saya, jika kita semua berusaha untuk memupuk kembali spirit dan melanjutkan intelektualisme para tokoh Muhammadiyah di masa lalunya, termasuk pula para tokoh-tokoh Muhammadiyah saat ini. Dengan melanjutkan atau menyegarkan kembali spirit intelektual saat ini, bagi saya adalah upaya untuk menjawab persoalan-persoalan yang terjadi saat ini, bahkan lebih kompleks dengan posisi Muhammadiyah di masa awal. Sehingga setiap pesan Ulil Al-bab yang ada di dalam Al-Qur’an, tidak lagi menjadi pesan yang utopis, namun benar-benar hadir menjadi seorang aktor yang dapat menjawab persoalan dikehidupan sehari-harinya.

Oleh karenanya, sangat diperlukan sekali adanya penyegaran spirit intelektualisme yang tentu pula harus dipupuk kembali pada pribadi setiap kader persyarikatan. Tak lain itu semua adalah upaya untuk melanjutkan kerja pembaruan bagi Muhammadiyah, umat, dan bangsa saat ini dan kedepannya. Namun tentunya meminjam istilah Buya Syafii Maarif, tidak keluar dari koridor keimanan dan kesalehannya.

Akhirnya;

Melalui pembongkaran spirit pembaruan yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan yang bekemajuan di masa lalu, tak ada kata lain selain kata untuk memupuk kembali semangat intelektualisme yang selama ini hampir hilang pada diri umat Islam pada umumnya dan Muhammadiyah pada khususnya. Karena Jika kita memang selama ini masih menempatkan diri pada ruang yang stagnan, karena alasan takut untuk berpikir secara mendalam, maka kita dan Muhammadiyah akan tertinggal jauh oleh laju roda zaman yang bergerak cepat. (padahal Al-Qur’an saja menantang manusia untuk selalu berpikir).

Oleh karena itu, sebagai warga Muhammadiyah tentu kita tidak menginginkan agar kita berada dalam ruang dan waktu dengan kultur yang macet. Maka dari itu, jika kita sampai saat ini masih takut untuk memupuk intelektualisme sebagai jawaban atas tuntutan zaman, maka kita sendiri yang mengubur spirit pembaruan Kiai Dahlan diusia abad ke-duanya ini. Lalu, bagaimana masa depan Muhammadiyah? Bisakah para kader-kader Kiai Dahlan saat ini menempatkan namanya dalam sejarah yang akan datang, seperti pendiri Persyarikatan Muhammadiyah tersebut? Wallahu’alam.

*ditulis dalam rangka Darul Arqam Madya IMM Cabang Bulaksumur – Karangmalang 25 -30 Maret 2011 di Yogyakarta.

Daftar Pustaka

Abdul Munir Mulkhan, “Api Pembaharuan Ahmad Dahlan”, (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2008).

­­__________________, “Jejak Pembaruan Kiai Sosial dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan”, (Jakarta: Kompas, 2010).

­­­­__________________, “Islam Sejati Kiai; Ahmad Dahlan dan Petani Muhammadiyah”, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003).

­­­__________________, “Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammdiyah”, (Yogyakarta: Suara Muhammdiyah, 2007).

Haedar Nashir, “Muhammadiyah Gerakan Pembaruan”, (Yogyakarta: Suara Muhammdiyah, 2010).

Junus Salam, “K.H. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya”, (Jakarta: Al-Wasat Publishing House, 2009).

Nurcholis Madjid, dalam Aswab Mahasin dan Ismet Natsir, editor“Cendikiawan Dan Politik”, (Jakarta: LP3ES, 1983).

PP. Muhammdiyah Majelis Pustaka, “Sejarah Muhammadiyah Bagian Pertama”, (Jogja: 1993).

3 COMMENTS

  1. tulisan yang menarik untuk disebarkan, terutama kepada kalangan Islam tradisional yang sebagian besar menganggap Muhammadiyah adalah representasi gerakan Wahabi di Indonesia.

    Gimana kabar kawan2..? Yuk kita buat jaringan blog IMM Se-Indonesia.

    -Salam Ikatan-

  2. semangat dakwah dan membangun jaringan sosial menjadi pilihan strategis bagi anak muda, harapan Muhammadiyah dan Islam, sukses dan tetap teruskan misi persyarikatan, ridlo dan jalan Allah smoga semakin lapang, amiin. (H. Antono – Kaliwungu Kendal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here