Membuka Kembali Ingatan Tentang ‘Mbak Ayu’

0
325

Membuka kembali ingatan tentang ‘Mbak Ayu’ begitu sapaan saya untuknya yang bernama lengkap Ayu Chandra Sukmawati. Dulu ia menggunakan nama Diwirjo (nama kakeknya) di belakang nama aslinya di akun media sosial yang ia miliki. Belakangan ini ia menggunakan nama Purnomo sebagai nama belakang akun media sosial kepunyaannya. Simpel saja, nama ‘Purnomo’ itu ia sematkan di belakang namanya karena memang tidak boleh ada nama laki-laki lain di belakang nama perempuan selain nama ayah kandungnya.

Mbak Ayu, sejak pertama kenal di tahun 2014, saat itu di IMM Suman dan Abad UNY sedang mempersiapkan agenda Bhakti Sosial Idul Adha. Beberapa kali pelaksanaan rapat, saya hadir tepat waktu (sesuai undangan) namun memang selalunya rapat dilaksanakan setelah ibadah sholat maghrib. Pesan Mbak Ayu yang saya ingat saat itu, “Jangan kapok datang tepat waktu ya, Thur…”. Ya, salah satu yang menjadi identitasnya di IMM (kurasa) ke’galak’annya masalah waktu. Ia sangat geram dengan kegiatan yang tidak tepat waktu. Kecewa pasti, tetapi ia tidak pernah tenggelam dalam kekecewaannya. Sebab nyatanya dia tetap bersemangat di kegiatan, sekalipun mungkin kegiatan tersebut mundur dari waktu yang direncanakan.

Berbicara tentang prioritas, pada saat persiapan baksos Idul Adha bertepatan dengan pelaksanaan latihan teater untuk tugas akhir semester di jurusan Mbak Ayu. Kita tahu seberapa melelahkan latihan teater itu? Tetapi, ia berusaha hadir ke TK ABA Karangmalang untuk rapat. Ya, saat itu ia menceritakan lelahnya mempersiapkan teater untuk pentas di akhir tahun. Tetapi ia memilih untuk tetap hadir, karena bertemu dengan teman-teman IMM akan mampu me-recharge semangatnya. Betapa ia memprioritaskan IMM, menganggap IMM sebagai rumah keduanya. Dan tak lupa ia mengingatkan agar saya juga harus membuat IMM menjadi rumah, saya harus menemukan keluarga baru di IMM ini. Dan saya rasa saya mendapatkannya, Mbak Ayu adalah salah satunya.

Kader IMM yang aktif pada saat itu memanglah tidak banyak, masalah klasik katanya. Tetapi itu tak pernah menyurutkan semangatnya untuk berdakwah lewat IMM. Saat kegiatan Infaq for Veil misalnya. Saat itu hampir dari semua yang ikut adalah IMMawati (sebutan untuk kader IMM putri), ya hanya ada satu IMMawan yang bertugas mendokumentasikan kegiatan baksos kami di pantai Parangtritis. Jika dibandingkan dengan jumlah kader IMM di UNY, tentulah jumlah yang hadir saat itu hanya sebagian kecil. Tetapi, kebersamaan yang dilalui secara menumbuhkan rasa kekeluargaan di antara kami. Usai kegiatan itu, untuk kali pertama dan kali terakhir saya mengunjungi rumahnya (sebelum kepergiannya).

Saat masuk kestruktural IMM di PK AR Sutan Mansur, saya menduduki jabatan yang sebelumnya dijabat oleh Mbak Ayu. Otomatis ia mendampingi saya, menggembleng saya khususnya masalah administrasi. Ya, sejauh ini di IMM Suman UNY, saya belum menemui orang yang lebih ketat memperhatikan persoalan administratif kecuali Mbak Ayu. Secara tidak sengaja saya menjadikan beliau sebagai role model saya untuk percontohan menjadi seorang sekretaris. Tertib Administrasi. itu yang selalu ia tanamkan disela-sela aktivitas saya ber-IMM. Harus tetap ada orang yang meluruskan perkara administrasi, karena ini kelak akan menjadi dokumen, arsip berharga. Saking tegasnya persoalan ini, beberapa kali saya harus menangis karena ditegurnya (mungkin ini karena saya memang sangat baperan, dan hampir tidak pernah ditegur). Kakak saya yang lain selalu mengingatkan, “Mbak Ayu nggak marah sama Fathur, percaya deh, besok udah nggak kenapa-kenapa. Mbak Ayu cuma mau mbimbing Fathur”, setiap kali saya curhat, kalau saya takut dimarah Mbak Ayu. Tapi kenyataannya, hal itu yang membuat saya semakin berhati-hati perkara administrasi.

Secara tidak sadar saya selalu mencoba untuk bisa mencontoh Mbak Ayu sebagai profil kader IMM. Komitmennya terhadap organisasi, semangatnya dalam ber-IMM, dan loyalitasnya terhadap IMM. Selain sebagai role model, ia juga menjadi pendengar dan penasehat yang baik. Di posisi saya yang baru ini, awalnya saya belum punya teman untuk berbagi keluh kesah dalam menjalankan amanah. Saya sampai bingung harus bercerita ke mana. Sebab tidak mungkin saya bercerita ke adik-adik, yang pasti mereka memiliki fokus sendiri. Suatu hari emosi saya pecah saat Mbak Ayu mecoba meminta saya untuk bercerita. Saya menangis di telepon. Saat itu ia langsung menanyakan di mana lokasi kos saya dan bergegas menjemput saya hanya untuk mendengarkan curahan hati dan pikiran saya. Malam itu, kami mengobrol sangat lama. Bahkan sampai warung tempat kami makan tutup. Mbak Ayu menceritakan karakter partner kerja saya yang baru ini, kemudian mengajak saya untuk membuka diri. Untuk berbagi, dan sampai akhirnya saya bisa membagi beban pikiran saya ke teman-teman di tempat yang baru ini. Godaan untuk berhenti berjuang, terus datang seiring sulitnya saya beradaptasi di tempat yang baru ini. Tetapi, lagi-lagi hati saya menolak. Saya sampai malu kepadanya jika harus menyerah dengan kondisi.

Terakhir kami disatukan di kepanitiaan Darul Arqam Madya PC IMM BSKM, Mbak Ayu sebagai Sekretaris Master of Training yang mengurusi berkas-berkas peserta, dan saya menjadi panitia di sie kepesertaan. Di sela-sela saat menyelesaikan tugas kami, Mbak Ayu menceritakan kalau badannya terasa tidak enak. Sampai keesokan harinya dia harus memeriksakan diri ke dokter, dan harus istirahat. Tetapi, saya tahu. Istirahat yang dia maksud tetap disibukkan dengan aktivitas mengomunikasikan segala hal tentang pelatihan ini. Saya hanya bisa memberikan semangat. Mengingatkan untuk menjaga kesehatan. Saat pelaksanaan saya tidak banyak menyapanya, karena ia sibuk sebagai instruktur dan saya sibuk sebagai peserta. Kami hanya beberapa kali melempar senyum, dan salam semangat. Sampai di akhir pertemuan (saat itu saya tidak pernah membayangkan kalau itu adalah hari terakhir saya bertemu dengannya), saya sampaikan “Mbak Ayu, selamat istirahat. Sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan”. Selanjutnya kami hanya komunikasi lewat Whatsapp.

Sampai saat hari senin, sekitar pukul dua. Saya mencoba mengidupkan handphone saya yang kehabisan baterai. Ada beberapa panggilan tidak terjawab. Ada banyak pesan berawalan ‘Innalillahi…” hampir di semua grup IMM. Saya belum tahu siapa itu yang meninggal dunia. Setelah mendapat telepon (si penelpon pun tidak menyampaikan siapa yang meninggal, ia hanya berpesan akan menjemput saya), saya mencoba membuka satu grup. Membaca dengan berhati-hati siapa yang meninggal. Di sana tertulis nama “Ayu Chandra”, saya masih mencoba meneliti, siapa yang meninggal. Dan tetap tidak ada petunjuk lain dalam pesan itu yang menyatakan kalau itu bukan Mbak Ayu. Ya, ia telah dipanggil, ia telah menemui kekasihnya. Seperti tidak memberikan pesan apapun sebelum kepergiannya. Sesak, sampai bingung harus melakukan apa. Yang paling ingin dilakukan adalah, datang ke rumahnya. Bertemu, meski hanya melihat jasadnya. Namun, qodarullah… tidak ada kesempatan untuk melihatnya terakhir kali. Mendoakan dan mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir adalah hal yang bisa kulakukan. Selanjutnya, hanya ingatan-ingatan tentangnya yang terus membayang di pelupuk mata.

Di hari kepergiannya, banyak sekali ungkapan-ungkapan cinta yang hadir dari setiap orang yang mengenalnya, sosial mediaku diramaikan pesan tentang memori-memori indah bersamanya. Kami yang ditinggalkan sangat kehilangan, sosok yang selalu ceria, yang selalu menggebu-gebu untuk melakukan kebaikan. Hari itu, saya kehilangan mbak, panutan, sekaligus teman curhat. Mungkin yang lain juga merasa begitu. Harapan terakhir, semoga ia ditempatkan di tempat terbaik dan semoga kelak kami dipertemukan kembali. Aamiin, ya robbal ‘alamiin….

Penulis: IMMawati Fatkhurohmah (Ketua Bidang Organisasi PC IMM Bulaksumur Karangmalang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here