Menguatkan Multikulturalisme Pada Jaringan IMM

0
126

Oleh : Priyo A. Sancoyo a.k.a Cak Prio*

Seorang kawan baru saya, menceritakan dengan semangat tentang mengapa dia bisa begitu tidak sukanya dengan orang jawa. Dia menggambarkan begitu kawasan daerah asalnya dikuasai oleh para pendatang dari jawa. Maksudnya dikuasai dalam hal ini adalah dikuasai secara ekonomi dan juga birokrasi. Sedangkan penduduk asli situ tidak diberikan kesempatan untuk mengolah tanah nenek luhur mereka sendiri. Suatu realita yang hingga saat ini mungkin masih terjadi ditengah-tengah era reformasi ini, bukan hanya di daerah tertinggal saja tetapi juga kita bisa melihat bagimana penindasan seperti itu terjadi di hampir sebagian tempat di negeri antah berantah ini.

Secara tidak langsung hal tersebut isa memicu konflik yang bisa merambat pada semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari budaya , agama, poitik serta stabilitas keamanan tentu akan berdampak satu dengan lainnya. Mungkin itu hanya sekelumit dari beberapa masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa yang besar dan bernama INDONESIA.

Tak kurang dari 30 suku yang berada dari Merauke hingga Sabang terbentang, lebih dari 10 macam bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu pada setiap suku itu sendiri. Dalam kekayaan itu sendiri nampaknya Indonesia dalam usia yang menginjak 65 tahun masih terlihat tertatih-tatih dalam menyelaraskan segala keragaman yang ada.

Sebagian besar dari kita saya yakin telah mengenal tentang keragaman yang dimiiki oleh bangsa ini, dan sebagian besar dari kita pula meyakini bahwa asas Bhineka tunggal Ika adalah jargon pemersatu dari segala keragaman yang kita (baca : bangsa Indonesia) miliki. Tetapi sudah sadarkah kita bagaimana mengelola dan merawat keragaman ini dalam kehidupan yang harmonis dan kondusif?

Dalam keadaan Indonesia yang sedemikian plural (baca: majekmuk) ini, tentu kita harusnya sudah memahami hal tersebut. Sebagai generasi muda calaon pemimpin bangsa kedepan serta generasi bangasa yang aktif sebagai cendekiawan dan cendekiawati muda Indonesia sudah barang tentu sudah memiliki sebuah formulasi yang ampuh untuk menghadapi hal yang tersebut diatas tadi. Walaupun bisa dibilang bukan satu-satunya formulasi yang terbaik, tetapi semoga menjadi yang terbaik dari yang buruk.

Multiculturalism , yang menurut Prof. Abdul Munir Mulkhan diartikan sebagai gagasan yang lahir dari suatu kenyataan antarwarga yang bersumber etnitas bersama kelahiran sejarah (2005), adalah suatu jalan penyadaran yang menurut saya haruslah kita pegang teguh sebagai dasar kita untuk berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Suatu kesadaran akan perbedaan yang dilhami sebagai sunnatulah adalah suatu hal yang masih belum banyak anak bangsa ini miliki. Kebanyakan dari kita hanya mengerti dan mengenal saja, tetapi masih belum berupa kesadaran

Disampaikan pada makalah DAM PC IMM Malang 2010 di Wisma Bima Sakti Kota Batu Jawa Timur Penulis adalah Ketua Bidang Sosial Ekonomi PK IMM Al Khawarizmi Universitas Gadjah Mada sacara hakiki yang keluarnya dari lubuk hati yang paling dalam. Masalah yang kita hadapi berkenaan dengan upaya menuju masyarakat Indonesia yang bisa dan mampu memahami hakikat sebuah multikulturalisme adalah sangat kompleks. Apakah kita sebagai generasi muda sudah siap untuk keadaan tersebut? Apakah kita juga sudah memiliki solusi dalam keadaaan seperti itu?

Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak kawan-kawan sekalian bahwa mungkin ada baiknya bila kita sebagai generasi muda Indonesia bisa memeriksa diri kita masing-masing mengenai kesiapan tersebut. Pertama terkadang kita secara teori sudah siap dan paham akan masalah tersebut, tetapi terkadang kita masih memberikan batasan artinya kita sebagai generasi muda masih terkungkung mindset untuk keterbukaan dalam perbedaan pemikiran dan budaya. Tetapi yang terjadi adalah kita masih berkutat masalah-masalah yang tidak esensial.

IMM sebagi salah satu organisasi otonom dari gerakan dakwah pembaharuan muhammadiyah. Seperti yang kita ketahui hampir disetiap Perguruan Tinggi Muhammadiyyah ada IMM, belum lagi jaringan IMM diluar Perguruan Tinggi Muhammadiyah seperti UGM, UNY, UNIBRAW, juga memiliki masa yang tidak sedikit, sehingga dalam penjaringan serta kaderisasi lebih mudah.

Dalam organisasi IMM pun pembangungan paradigma multikultur belum seberapa mendetail, artinya masih ada gerakan-gerakan yang tidak mau terbuka dengan perbedaan. Menurut hemat saya, hal tersebut bisa kita gunakan untuk meneguhkan IMM sebagai gerakan pembentuk cendiakawan berprestasi (baca: intelektual muda bangsa Indonesia) Seperti kita ketahui IMM didalamnya juga sudah terdiri multietnis dan multi kebudayaan sehingga hal ini akan mempermudah penanaman ideologi multikultur kepada masyarakat Indonesia.

*Penulis adalah Kabid Sosial Ekonomi PK IMM Al Khawarizmi UGM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here