Hidup sejatinya adalah untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana termaktub dalam surah Az-Zariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribdah kepada-Ku.

Allah menciptkan manusia di muka bumi ini dengan dibekali al-Quran sebagai pedoman hidupnya (Al-Baqarah ayat 2). Selain sebagai pedoman hidup, al-Quran juga sebagai rahmat, dinyatakan dalam surah ad-Dukhan: 6 yang berbunyi:

رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Ayat ini juga berhubungan dengan tujuan pengutusan Nabi Muhammad sebagai tercantum dalam Q.S. al-Anbiya’: 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.

Agar kita lebih memahami mengenai al-Quran sebagai rahmat, marilah kita coba memahaminya dari salah satu ayat dalam al-Quran yang pasti dan sangat sering dilantunkan tiap harinya, yaitu ayat pertama pada surat pertama. Ayat ini juga berhubungan dengan firman Allah yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah (Surah al-‘Alaq: 1-5).

Ayat pertama pada surat pertama dalam Al-quran yang popular disebut dengan bacaan basmallah. Ayat ini sangat istimewa, terutama dalam letaknya di awal seluruh surat Al-quran, kecuali surah at-Taubah. Surah at-Taubah tidak diawali basmallah mengingat basmallah mencerminkan rahmat ilahi, sedangkan kandungan surah at-Taubah menggambarkan pemutusan hubungan Allah dan rasul-Nya terhadap kaum musyrik yang membangkang.

Bacaan basmallah ini berbunyi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

kerap diterjemahkan dengan kalimat “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Pada ayat ini tercantum dua sifat utama yang dimiliki oleh Allah, yaitu pengasih dan penyayang.

Kata ar-rahman (الرَّحْمَنِ) adalah saah satu sifat Allah yang berarti yang melimpahkan rahmat, yang berbuat baik kepada hamba-Nya, tanpa pengecualian dan tanpa batas. Lafat ar-rahman (الرَّحْمَنِ) adalah khusus hanya bagi Allah swt, dan tidak dipergunakan bagi selainnya Allah. Kata ar-rahman (الرَّحْمَنِ) dan ar-rahim (الرَّحِيمِ) sama-sama berasal dari kata rahmah. Menurut pakar kosakata al-quran, al-Raghib al-Ashfahani, kata rahmah mengandung arti kelembutan yang mendorong untuk melakukan atau memberikan kebaikan kepada yang dikasihi.

Dalam bahasa Arab, pola kata rahman sama denga pola kata Fa’lan. Pola seperti ini biasanya menunjukkan makna “sangat” atau “maha”, sehingga kata ar-rahman (الرَّحْمَنِ) dalam bahasa Indonesia kerap diterjemahkan dengan kata “Maha Pengasih”. Pola kata ini dalam Bahasa arab juga kerap digunakan untuk menunjukkan sifat atau keadaan yang tidak permanen.

Arrahim (الرَّحِيمِ) adalah sifat rahmah yang melekat pada Allah yang tidak akan lepas selamanya dari Allah swa, dan dari sifat itulah lahir segala kebajikan. Dalam Bahasa Arab, pola kata rahim sama dengan pola kata fa’il. Pola seperti ini dalam bahasa Arab kerap digunakan untuk menunjukkan sifat yang tetap atau permanen. Dari pemahaman kebahasaan seperti ini muncul pendapat sejumlah ulama yang menyatakan bahwa arrahim (الرَّحِيمِ) menunjukkan rahmat atau kasih saying Allah yang bersifat permanen di hari akhirat nanti khusus bagi hamba-hamba-Nya yang taat dan berbuat kebajikan di dalam kehidupan dunia. Sedangkan kata ar-rahman (الرَّحْمَنِ) menunjukkan rahmat atau kasih sayang Allah dalam kehidupan dunia yang sementara ini yang diberikan bagi seluruh makhluk-Nya, baik yang taat maupun yang tidak taat.

Pencantuman sifat ar-rahman (الرَّحْمَنِ) dan ar-rahim (الرَّحِيمِ) pada ayat pertama dalam Al-Fatihah ini menegaskan bahwa sifat Allah ini paling utama dan kasih sayang atau rahmat Allah demikian luas tercurah bagi semua makhluk ciptaan-Nya sebagaimana firman Allah dalam surah al-A’raf (7): 156:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ …

… Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu …

Sedemikian luas kasih sayang atau rahmat Allah itu dan meliputi segala sesuatu, sehingga meskipun Allah dalam beberapa ayat al-Quran menyatakan akan memberi human bagi orang-orang yang bersalah atau berdosa, maka hukuman untuk para pendosa juga berdasarkan kasih sayang Allah. Sebagaimana orang tua terkadang memberikan hukuman kepada anak yang disayanginya sebagai sarana pembelajaran bagi sang anak ketika ia berbuat salah.

 

Referensi:

Al-Raghib al-Ashfahani. Al-Mufradat fi Gharib al-Quran. hlm.191

Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. 2016. Tafsir at-Tanwir. Yogyakarta: Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Rasyid Ridha. 2000. Tafsir alManar. Kairo: Muassah Qurthubah. Jilid I. hlm, 39.

 

Bowo ,merupakan Ketua Umum PK IMM Ahmad Badawi UNY Periode 2017-2018. Handal dalam hal Design Grafis.Bisa disapa di Instagramnya @bowo.07 atau blog nya di bowowildan07@blogspot.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here