Muktamar Muhammadiyah ke-47: Tantangan dan Harapan

0
104

logo muktamar

Pada tanggal 3-7 Agustus 2015 nanti, Persyarikatan Muhammadiyah akan melangsungkan Muktamar ke-47 di Makassar, Sulawesi Selatan. Muktamar akan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo di lapangan Karebosi, Makassar, pada tanggal 3 Agustus 2015. Diperkirakan lebih dari 10.000 muktamirin akan meramaikan Muktamar yang diadakan lima tahunan ini.  Muktamar merupakan permusyawaratan tertinggi pimpinan pusat untuk mengevaluasi dan merumuskan program Muhammadiyah ke depan. Tidak kalah pentingnya, yakni pemilihan tim formatur yang beranggotakan 13 orang untuk menentukan siapa yang menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sesuai aturan yang berlaku, Prof. Din Syamsuddin yang sudah menjadi Ketua Umum dalam dua periode, tidak boleh mencalonkan maupun dicalonkan kembali, maka Muktamar kali ini akan melahirkan Ketua Umum baru. Prof. Din Syamsuddin terbilang berhasil membawa Muhammadiyah dari tahun 2005-2015. Terbukti dari peran beliau di kancah internasional dalam isu perdamaian, dialog antaragama, multikulturalisme, dan rekonsiliasi konflik. Pada tingkat nasional, Muhammadiyah mampu menjadi motor penggerak “Jihad Konstitusi”, karena dengan gerakan inilah mampu memotong akar permasalahan bangsa dari tingkat hulu. Gerakan ini beberapa kali sukses menggugat perundangan dan kebijakan yang dinilai bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945.

Muktamar Muhammadiyah ke-47 ini mengusung tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Tema yang digagas merupakan komitmen Muhammadiyah untuk ikut serta memajukan Indonesia dengan sentuhan Islam melalui gerakan amar ma’ruf nahi munkar dengan mengusung tagline “Islam Berkemajuan”. Tema ini juga dilatarbelakangi pemikiran bahwa Islam memiliki watak universal. Permasalahan yang diatasi tidak hanya bernuansa lokal, tapi lebih ke arah yang lebih luas.  Peran dan komitmen Muhammadiyah selama 100 tahun lebih tidak perlu diragukan lagi, karena Muhammadiyah juga ikut andil dalam pembentukan negara yang kita cintai ini. Muhammadiyah pada abad kedua ini, akan terus berkomitmen penuh untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan ini merupakan aktualisasi Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan, baik berbangsa dan bernegara maupun berislam yang rahmatan lil alamin.

Perjuangan Muhammadiyah dalam mengisi abad kedua ini memang tidak akan mudah. Sama halnya dulu ketika di awal-awal tahun berdiri, Muhammadiyah mengalami berbagai hambatan dan tantangan, namun semua itu dapat dihadapi dengan penuh perjuangan baik itu berupa jalur diplomasi maupun politik. Saat reformasi terjadi, Muhammadiyah dapat mengepakkan sayap selebar-lebarnya, terbukti dengan berdirinya bebagai amal usaha Muhammadiyah di berbagai pelosok negeri, setiap tahun selalu tumbuh dan berkembang. Muhammadiyah memasuki abad kedua akan dihadapkan pada tantangan baru yang harus segera direspons dan dicari solusi yang tepat. Tantangan baru itu melingkupi aspek kehidupan umat Islam, bangsa-negara, dan dunia kemanusiaan yang semakin kompleks.

Tantangan Muhammadiyah

Muhammadiyah dalam melakukan gerakannya pastinya akan menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik yang tengah melanda masyarakat. Dalam kaitannya dengan politik, Muhammadiyah memang tidak didesain untuk berpolitik. Tokoh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan agaknya memang tidak begitu mempercayai politik sebagai alat perjuangan. Meskipun demikian, Muhammadiyah dalam rekam jejaknya tidak antipolitik. Buya Syafii Maarif, dalam tulisannya di kolom Resonansi Republika yang berjudul Siapa Pemimpin Muhammadiyah 2015-2020?, memberikan saran agar Muhammadiyah harus terjun ke gelanggang kebangsaan dengan menyiapkan para kadernya yang berkualitas tinggi untuk ambil peran utama dalam proses perbaikan bangsa dan negara agar terhindar dari kegagalan. Kegaduhan politik di Indonesia yang akhir-akhir ini diperlihatkan oleh para elit merupakan akar masalah dari pertumbuhan ekonomi yang semakin melemah dan ketidakadilan sosial masih saja terjadi, puncaknya yaitu terjadi konflik. Kedua, Arus sekularisme-materialisme yang juga melanda dunia menjadi tantangan besar bagi warga Muhammadiyah. Pada era globalisasi seperti saat ini, Indonesia mau tidak mau harus masuk ke dalam arus tersebut, namun dengan catatan tidak boleh terseret oleh arus. Keterbukaan warga Indonesia yang semakin baik dan demokratis merupakan kondisi yang menguntungkan bagi Muhammadiyah, karena peran Muhammadiyah akan semakin mudah diterima, namun dengan catatan bahwa Muhammadiyah harus bisa bergerak secara dinamis, luwes, dan kooperatif agar mudah diterima masyarakat dalam radius yang lebih luas.  Ketiga, cengekeraman kapitalisme global yang berdampak langsung kepada pembangunan dan orientasi kehidupan yang memuja materi dan kesenangan duniawi. Jangan sampai amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah terjadi pergeseran paradigma, yakni berorientasi kepada profit dan menjauhkan dari nilai teologi Al Ma’un sebagaimana gerakan awal Muhammadiyah berdiri.

Harapan untuk Muhammadiyah

Dalam mengisi abad kedua ini, banyak harapan dari warga Muhamamdiyah secara khusus mapun warga di luar Muhammadiyah secara umum. Reputasi Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang besar, sekaligus memperoleh kepercayaan luas dari umat Islam dan bangsa Indonesia, sehingga berdampak pada kemudahan bagi Muhammadiyah sendiri dalam menyelenggarakan kegiatan di tingkat nasional maupun internasional. Tanpa harus meninggalkan jati diri, Muhammadiyah harus mampu memperluas jangkauan dakwah, sehingga tercipta arena baru dalam melakukan pencerahan. Maka menjadi penting bagi setiap kader dan pimpinan Muhammadiyah untuk memahami ideologi Muhammadiyah yang menjadi fondasi gerakan Islam ini. Dengan memahami dan mengaktualisasikan ideologi Muhammadiyah, siapapun yang berada dalam lingkungan Muhammadiyah akan memahami siapa dirinya dan bagaimana harus berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku dalam Muhammadiyah.

Muhammadiyah harus memperluas arena dakwah yang selama ini belum tergarap dan tersentuh, seperti ikut serta dalam menyiapkan para kadernya yang berkualitas di bidang politik untuk ambil peran utama dalam proses perbaikan bangsa. Selain pada ranah politik, Muhammadiyah diharapkan mampu bersinergi dengan pemerintah dalam menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat pada era globalisasi, termasuk MEA 2015. Salah satu majelis yang dimiliki oleh Muhammadiyah, yaitu Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) diharapkan mampu berkontribusi lebih, meskipun kita tahu nahkoda dari majelis ini telah dipanggil oleh Allah swt, yaitu alm. Said Tuhuleley, namun kita tahu semangat beliau masih tetap membersamai generasi penerus. “Selama masih ada orang menderita, tidak ada kata istirahat”, itulah spirit yang diwariskan oleh almarhum yang telah dibuktikan semasa hidup beliau.

Karakter dan jati diri yang selama ini melekat pada gerakan modern ini juga harus dijaga dan dikembangkan, yaitu kedermawanan (feeding) yang sesuai dengan teologi Al Ma’un, pendidikan (schooling) yang sudah menjadi ciri khas Muhammadiyah yang tidak bisa dilepaskan dengan suburnya pertumbuhan sekolah dan perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia, kemudian yang terkhir pelayanan kesehatan (healing) dengan berdirinya klinik dan rumah sakit (PKU) yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Karena itu, Muhammadiyah sangat menonjol pada keunggulan lembaga pendidikan, rumah sakit dan balai pengobatan, serta panti asuhan. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama warga Muhammadiyah ke depan dalam keiikutsertaan dalam pengembangan karakter yang sudah diakui dunia internasional.

Iman tidak akan sempurna tanpa amal saleh. Bagi Muhammadiyah, iman bukan hanya menunaikan ibadah dengan mengasingkan diri dari manusia dan berbagai permasalahan hidup. Namun lebih dari itu, sikap yang ditunjukkan oleh Muhammadiyah yakni keimanan yang teraktualisasi pada amal saleh yang berupa karya yang bermanfaat dan solutif bagi umat manusia, yang dibuktikan dengan pertumbuhan dan perkembangan amal usaha Muhammadiyah, seperti sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan sebagainya.  Perkembangan amal usaha Muhammadiyah yang sangat besar secara kuantitatif, harus dibarengi dengan kualitas yang baik dalam memajukan kehidupan bangsa dan umat manusia.

Harapan yang terakhir adalah kriteria figur seorang ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada periode 2015-2020 mendatang. Ketua Umum bukan sekadar simbol dari sebuah era kepemimpinan, melainkan sebagai dirijen dalam mengatur irama Muhammadiyah ke depan. Muhammadiyah banyak melahirkan (atau juga dipengaruhi) tokoh-tokoh yang dengan latar belakang seorang ulama, cendekiawan, maupun seorang teknokrat. Tiga generasi ketua umum terakhir, Muhammadiyah dipimpin oleh cendekiawan muslim dengan gelar “profesor” di belakang nama meraka. Sebelum generasi tersebut, Muhammadiyah selalu dipimpin oleh seorang ulama tulen, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. AR. Sutan Mansur, KH. AR. Fakhruddin, dll. Pada konteks kekinian, sepertinya latar balakang bukanlah menjadi persoalan serius, entah itu seorang ulama, cendekiawan, maupun teknokrat yang nantinya akan memimpin Muhammadiyah. Belum lagi persoalan dikotomi kedaerahan, seperti antara tokoh Jogja dan Jakarta, dikotomi generasi: tua dan muda, maupun konservatif dan progresif. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa Muhammadiyah sudah dewasa dalam menentukan siapa pemimpin dalam setiap generasi. Tanpa harus menyebut nama, persoalan siapa yang akhirnya akan menjadi Ketua Umum definitif, akan dikembalikan sepenuhnya kepada tim formatur terpilih yang berjumlah 13 orang dengan tetap memohon ridha Allah swt.

Secara umum, kriteria ideal yang harus dimiliki oleh ketua umum adalah yang paling mendekati sifat Rasulullah saw., yaitu shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Sifat shidiq artinya figur yang memiliki integritas tinggi (satu kata dan perbuatan) sehingga dapat menjadi teladan umat dan bangsa. Amanah dapat diartikan pemimpin yang bertanggung jawab terhadap segala yang dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai oraganisasi, sehingga figur ini akan memperoleh kepercayaan dari segenap warga Muhammadiyah dan warga Indonesia pada umumnya. Selain itu juga memiliki sikap merdeka dari segala pengaruh di luar Muhammadiyah. Fathanah di sini dapat diartikan sebagai figur yang profesional, memahami betul ideologi Muhammadiyah sehingga segala kebijakan tidak akan lepas dari ideologi yang sudah menjadi keputusan persyarikatan serta memiliki pemahaman keislaman yang mendalam dan luas. Tabligh diartikan sebagai kepemimpinan yang berlandaskan kasih sayang, toleran, moderat, dan tidak menutup diri pada organisasi lain. Indikatornya adalah figur yang mampu berkomunikasi dengan baik (karena level Muhammadiyah tidak hanya pada tataran nasional, namun juga dunia internasional), transparansi dalam manajemen organisasi, dan visioner dalam memajukan Muhammadiyah. Sesuai dengan tagline Muhammadiyah pada Muktamar kali ini, yaitu Islam Berkemajuan. Sudah saatnya Muhammadiyah dipimpin oleh figur yang berorientasi pada pengembangan Muhammadiyah secara internal maupun pada sikap bagaimana Muhammadiyah dapat berkontribusi, baik sebagai pembantu maupun penentu bagi keberlangsungan negara Indonesia, serta menjadi aktor dalam misi perdamaian dunia internasional. Semoga ketua umum yang baru merupakan sosok yang lahir, tumbuh, dan berkembang dari rahim Muhammadiyah, bukan sosok yang “kemarin sore” baru mengenal Muhammadiyah. Muhammadiyah hebat!

Selamat dan sukses untuk Muktamar Muhammadiyah ke-47!

Bangga menjadi bagian kecil dari perjuangan Muhammadiyah!

Fastabiqul Khairat!

Faisal Isnan, S.Pd.,

Ketua Umum  PC IMM BSKM Kab. Sleman periode 2014-2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here