Muktamar XVIII IMM, Muktamar Terakhir Pilih Formatur

0
142
Serius: Peserta sidang komisi memperhatikan draft sidang yang dimusyawarahkan di Muktamar XVIII IMM. foto: Habib El Fikri

Muktamar XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Malang akan menjadi sejarah baru bagi seluruh kader IMM. Pasalnya, muktamar di Malang adalah muktamar terakhir yang memilih 13 formatur. Mendatang, muktamar akan memilih ketua umum secara langsung.

Hal tersebut disampaikan ketua umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Ali Muthohirin sesaat sebelum sidang pemilihan ketua umum DPP IMM periode 2018-2020, Ahad (5/8). Perubahan itu, sebut Ali, sebagai bentuk penyesuaian gerakan IMM dengan konteks kemahasiswaan.

“Perubahan itu mengusung semangat bahwa generasi muda harus bersaing dan berkompetisi secara fair. Kalau pemilihan formatur itu, dalam konteks kemahasiswaan menjadikan kita sebagai pengecut sebenarnya, karena melatih kita memainkan politik ke semua kelompok yang mementingkan dirinya terpilih tanpa ada komitmen mendukung salah satu,” tegas Ali.

Meski IMM adalah organisasi otonom Muhammadiyah, namun pelaksanaan pemilihan formatur seperti Muhammadiyah tak serta-merta wajib dilaksanakan di lingkup gerakan mahasiswa ini.

Hal tersebut, tegas Ali, lantaran kedewasaan IMM berbeda dengan kedewasaan yang dimiliki Muhammadiyah. Maka, pemilihan formatur bisa dilakukan pada generasi tua.

Tentu, perubahan Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) tersebut menjadi keputusan yang paling menarik bagi muktamirin. Respon dari keputusan tersebut, ada dua kutub besar yang dinamikanya begitu luar biasa.

“Banyak yang menganggap kita kader Muhammadiyah sehingga mencontoh Muhammadiyah untuk menggunakan sistem formatur. Tapi, dalam kontestasi di lingkup gerakan mahasiswa, sepertinya itu belum pas,” ujar alumni komisariat Tamaddun UMM ini.

Perihal 13 nama formatur terpilih, Ali menilai nama-nama tersebut merupakan komposisi yang tepat. Pasalnya, ketiga belas nama tersebut adalah perpaduan pengurus lama DPP dan pengurus DPD. Keunggulan personal dinilai Ali sebagai perpaduan menarik yang jadi landasan untuk bergerak lebih progresif.

“Mereka duduk di kursi formatur di saat yang tepat, karena kondisi IMM yang sedang goncang secara internal dan mereka merupakan satu kesatuan. Diharapkan, ada konsolidasi yang matang karena mereka satu kelompok yang sudah lama kenal, tidak hanya di struktural,” urai Ali.

Ali berharap, keputusan perubahan ini menjadi pedoman dan ruang konsolidasi bagi IMM yang selama satu periode ini dinilainya terjebak dalam konflik internal dan rutinitas organisasi.

“Sudah saatnya IMM menguatkan konsolidasi internal dan memperkuat ruang geraknya di sektor publik supaya bisa menjadi tambuk pimpinan umat,” pungkas Ali. (isn)

sumber: muktamar-imm.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here