Napak Tilas Sejarah Muhammadiyah di Kotagede

0
420
© Yazid/IMM BSKM
© Yazid/IMM BSKM

Kotagede- Senja (25/05) itu ada yang berbeda dari kader PC IMM BSKM. Kader dari PC IMM BSKM sudah berkumpul di halaman Masjid Al Ikhlas Bulaksumur untuk rihlah dan wisata budaya. Bekerja sama dengan Muhammadiyah Herritage, PC IMM BSKM yang menaungi kader IMM UGM dan IMM UNY melaksanakan diskusi dan napak tilas sejarah Muhammadiyah di Kotagede.

“Ini merupakan bentuk kerjasama antara bidang organisasi dan bidang Seni Budaya Olahraga dari IMM BSKM. Selain bertujuan untuk mengakrabkan diri, juga untuk mengenalkan sejarah Muhammadiyah yang ada di Kotagede. Kami mengawali pada program the peace yakni membahas buku Bulan Sabit di balik Pohon Beringin karya Matsuo Nakamura.” Kata Wirasta C. Pambudi selaku Ketua Bidang SBO PC IMM BSKM.

Rangkaian acara diawali hari Selasa (23/05) dengan diskusi buku Bulan Sabit di balik Pohon Beringin karya Matsuo Nakamura. Kemudian Kamis (25/05) bersama Immawan Ghifari Yuristiadhi dari Muhammadiyah Herritage, PC IMM BSKM mengawali perjalanan di Kotagede dari Masjid Perak.

Masjid Perak berbeda dengan masjid lain, meski telah mengalami pemugaran, namun Masjid Perak masih mempertahankan arsitektur lama. Pemilihan Masjid Perak sebagai titik awal, karena mengingat sejarah pendiriannya yang erat dengan kehadiran Muhammadiyah di Kotagede. Kemudian perjalanan menuju Dhalem Sopingen, lokasi yang menjadi tempat orasi berbagai tokoh dengan latar belakang beragam. Mulai dari K.H. Ahmad Dahlan, H.O.S Tjokroaminoto, Semaun, dan DN Aidit pernah berorasi di sana.

Selanjutnya, tempat yang dituju adalah Pasar Kotagede atau Pasar Legi, merupakan pasar yang menjadi cikal bakal perekonomian masyarakat di Kotagede. karena masyarakat Kotagede banyak yang menjadi saudagar perak, terbukti dengan berjajar toko kerajinan perak di Kotagede. “Pemilihan Kotagede sebagai awal peradaban oleh Ki Ageng Pemanahan adalah sesuatu yang benar. Karena secara geografis, Kotagede tidak pernah banjir dan sumber air berlimpah.” Ungkap Immawan Ghifari saat menceritakan sejarah Ki Ageng Pemanahan dan Kotagede.

Rombongan sekitar 20 peserta tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke Griya Alun-alun dan Masjid Gedhe Mataram. Di halaman Masjid Gedhe Mataram, peserta diberikan penjelasan mengenai sejarah Mataram Islam di Kotagede. Kemudian diskusi terhenti saat kumandang adzan. Usai melaksanakan sholat maghrib berjamaah, Immawan Ghifari memaparkan mengenai sejarah Muhammadiyah dan para tokohnya di Kotagede salah satunya adalah K.H. Abdul Kahar Mudzakkir.

Para peserta mengaku senang dengan adanya program rihlah dan wisata budaya ini, Muhammad Mar’ie selaku Wakil Ketua Korkom IMM UGM menyatakan “wisata budaya sangat menarik, kita dapat menambah wacana keilmuan tentang sejarah peradaban Islam, peradaban Mataram dan kearifan lokal masyarakat Kotagede. Selain itu bisa juga mengakrabkan teman-teman se BSKM.”

Perjalanan kembali dilanjutkan ke Masjid Perak Kotagede dan diakhiri dengan foto bersama. Melalui perjalanan dengan penjelasan yang beragam mulai dari sejarah awal hingga hadirnya Muhammadiyah di Kotagede, meninggalkan kesan dan pemaknaan tersendiri pada benak kader IMM BSKM.

Penulis Catur/IMM BSKM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here