NASIONALISME: TEORI, IDEOLOGI DAN SEJARAH

0
1034

IMG-20150122-WA0025

Oleh Ardita Markhatus Solekhah

Makalah ini disusun dengan maksud menghubungkan dan menggabungkan antara teori mengenai nasionalisme dengan analisis permasalahan yang akan saya paparkan yakni mengenai krisis nasionalisme yang sedang dan akan dialami oleh bangsa Indonesia sebagai akibat dari globalisasi.

Sumber kajian saya berasal dari buku yang berjudul “Nasionalisme: Teori, Ideologi dan Sejarah” karangan Anthony D. Smith. Buku ini ditujukan bagi peneliti sosial, para generasi bangsa serta pembaca pada umumnya yang haus akan pengetahuan dan wawasan  mengenai nasionalisme. Di dalamnya dipaparkan mengenai teori atau konsep nasionalisme termasuk definisi serta berbagai  aspek yang berkaitan dengan nasionalisme, ideologi nasionalisme beserta paradigmanya, serta sejarah lahirnya nasionalisme yang dilihat dari sudut pandang dan contoh negara-negara barat sesuai dengan latar belakang penulis. Dari perbedaan yang ada, diharapkan dapat saling melengkapi, selain itu suatu konsep yang diakui akan berlaku dalam berbagai ruang dan waktu.Secara terperinci, buku ini terbagi dalam 6 bab yakni;

Konsep asionalisme, yang memaparkan arti nasionalisme beserta maknanya. Ideologi Nasionalisme, yang terpapar di dalamnya adalah ide-ide pembentuk nasionalisme, macam-macam faktor munculnya ideologi nasionalisme serta pembagian nasionalisme dilihat dari ideologinya.

Paradigma dalam nasionalisme, yang membagi nasionalisme dari 4 sudut pandang berbeda serta dipaparkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing paradigma tersebut. Teori mengenai nasionalisme, lebih terkait pada penerapan teori dan hubungannya dengan politik dan budaya.

Sejarah terbentuknya nasionalisme yang menggambarkan bagian-bagian pembentuk bangsa dan pembagiannya. Juga akan dipaparkan pada bab ini mengenai hubungan antara nasionalisme dengan bangsa, serta

Prospek Nasionalisme pada masa yang akan datang yang diramalkan oleh beberapa ahli menurut Anthony D. Smith.Buku ini berjudul “Nasionalisme: Teori, Ideologi, Sejarah” karya Anthony D. Smith. Buku terbitan Erlangga ini merupakan buku terjemahan dengan judul asli “Nationalism: Theory, Ideology, History” terbitan tahun 2003.

Anthony berusaha menyajikan suatu pengantar ringkas mengenai konsep nasionalisme untuk memberikan kesimpulan kritis mengenai bahasan teori, ideology dan sejarah nasionalisme beserta paradigma-paradigmanya kepada pembaca dan pelajar.

Bangsa menjadi objek utama pembahasan materi disertai dengan beberapa perbedaan pendapat dari para ahli. Penyampaian materi dalam buku ini sedikit berat dan memerlukan waktu untuk memahaminya karena penggunaan bahasa terjemahan walaupun cukup terperinci. Selain itu penulis menjelaskan materi dengan selalu mengaitkan  dan terlalu banyak melibatkan  contoh sedangkan beberapa contoh tersebut berkaitan dengan kebudayaan sekitar penulis sehingga pembaca sedikit kesulitan dalam memahami materi karena tidak sesuai dengan ruang dan waktu di Indonesia. Akan tetapi inti pengetahuan yang ada di dalam teori dan konsep akan berlaku sama, sehingga buku ini tetap bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan umum atau referensi. Sehubungan dengan penggunaan bahasa, penulis memaparkan pemikirannya dengan gaya bahasa tinggi, terlalu banyak istilah dan sedikit bercampur antara teori dengan penjabaran subjektifnya. Sehingga dengan ini diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menafsirkan isi buku. Di sisi lain, akan semakin merangsang kekritisan pembaca dan pelajar untuk lebih mendalami materi.

Tata letak subjudul belum cukup sistematis, sehingga jika kurang mencermati isi materi, pemahaman akan terpetak-petak dan  tidak saling berhubungan. Di samping itu, pengunaan catatan kaki terlalu banyak sehingga harus selalu melihat bagian belakang buku untuk memahami lebih lanjut.

Krisis Nasionalisme Bangsa Indonesia

Merebaknya virus globalisasi mengundang banyak sekali permasalahan bagi dunia global. Kebijakan-kebijakan yang melampaui kewenangan suatu Negara membuat segala macam budaya dan pengaruh terutama komunikasi dan infomasi semakin mudah mencampuri urusan dan pemikiran warga dunia.

Hal yang paling ditakutkan adalah ketika pengaruh  ini ditelan mentah-mentah oleh masyarakat global, maka hilanglah  identitas serta jati dirinya. Sebelum memasuki wilayah yang lebih luas, saya akan mencoba memberikan gambaran sederhana yang menyangkut meresapnya pengaruh asing daripada mempertahankan atau mendalami pengaruh yang sudah ada atau bahkan selalu ada di sekitar kita.

Secara teori, perilaku terbentuk karena pembiasaan yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan. Seorang guru membiasakan muridnya untuk gemar membaca agar murid bisa mendapatkan wawasan luas lewat buku. Akan tetapi jika lingkungan tidak mendukung dengan ketiadaan fasilitas, maka sugesti guru akan menjadi sia-sia. Maka keinginan harus diikuti dengan kemauan dan kemampuan yang dapat muncul karena suka rela ataupun diawali dengan paksaan.

Tidak ada seorangpun yang akan merasa puas dan berkecukupan atas apa yang telah didapatkan, sehingga muncullah perasaan bosan. Bosan, monoton, tidak kreatif, itu-itu saja, hal yang sudah biasa. Kata-kata ini biasa terlontar jika manusia merasa jenuh dan mnginginkan sebuah hal yang baru. Begitu pula dengan masyarakat dunia saat ini. Globalisasi bisa dikatakan sebagai sebuah sarana melunturkan  ideologi dan identitas suatu bangsa atau tatanan masyarakat tertentu yang sebelumnya telah memiliki batasan dan aturan tersendiri yang harus dijunjung tinggi melalui pemawaran fasilitas yang bebas tanpa batas..

Globalisasi datang dengan tanpa paksaan, karena sejatinya globalisasi  membawa sebuah perubahan mendunia dengan  memperkenalkan berbagai budaya. Justru permasalahan ada pada individu atau anggota yang kurang bisa memfilter, memanfaatkan fasilitas yang ditawarkan oleh perkembangan global, dan mempertahankan budaya aslinya. Kegagalan ini dipicu juga oleh sifat ketidakmudahpuasan dan selalu antusias dengan hal-hal yang dianggap baru sehingga memudarkan ideologi awalnya ditambah lagi dengan bantuan globalisasi yang memudahkan akses untuk mendapatkan kepuasan.

Bangsa Indonesia sebagai Negara berkembang menjadi sasaran empuk bagi Negara-negara maju dalam  pemasaran produk-produk yang bukan hanya barang konkrit beserta  pengaruh teknologi informasi dan teknologi  seperti computer beserta softwarenya. Internet yang memuat Yahoo, Facebook yang telah menjadi situs terlaris di seluruh dunia, dan perangkat lunak lain. Namun juga sasaran dalam penyebaran pengaruh budaya melalui beberapa sarana yang mengandung unsur food, fun and fashion.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia baru terkena dampak globalisasi saja. Bangsa ini belum merasakan dan melaksanakan globalisasi secara langsung karena belum menjadi produsen tapi  hampir sepenuhnya menjadi penikmat.

Bangsa Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap negara-negara lain  yang semakin mengendurkan  ikatan dengan Negara sendiri, menggambarkan bahwa melalui globalisasi, pengaruh besar telah merasuk ke dalam diri bangsa beserta ideologinya . Dapat dilihat seberapa kuat pengaruh itu melalui keadaan bangsa yang semakin terpengaruh oleh budaya asing karena telah ada interfensi budaya yang hampir menyeluruh, kurangnya rasa cinta bahkan lebih banyak pernyataan masyarakat kita yang tidak merasa bangga dan menjelek-jelekkan.

Perlu diketahui bahwa keadaan  ini merupakan  salah satu bentuk kekesalan  rakyat Indonesia terhadap tindakan pemerintah yang seharusnya bertindak sebagai cerminan utama pelaksanaan pancasila justru  membelot dan merusak ideologi melalui pelanggaran habis-habisan lewat korupsi, kolusi dan nepotisme. Pelanggaran ini pada akhirnya mengakar dan menjalar ke seluruh lapisan masyarakat. Indonesia akan semakin terlihat “lemah dan  menyimpang” dengan berkurangnya dukungan bangsa sendiri terhadap ideologi fundamental  bangsa yakni pancasila. Masyarakat yang melemah sentimen nasionalisnya karena globalisasi yang mengikis budaya dan  membekukan batas kewibawaan  sehingga negara terlihat tidak lagi relevan.

Gambaran nasionalisme di masa yang akan datang adalah perubahan dan perkembangan menuju nasionalisme yang mendunia atau yang dikenal dengan internasionalisasi nasionalisme, dimana kecintaan terhadap suatu tanah air dapat dirasakan oleh bangsa ataupun individu sekalipun bukan merupakan dari nasionalisme suatu bangsa. Buktinya  telah banyak terlihat pelajar mancanegara atau beberapa individu asing yang lebih mencintai budaya gamelan dibandingkan kita para generasi penerus budaya ini.

Dengan pengaruh budaya yang  cukup bebas keluar masuk melewati batas-batas negara,  pencampuran budaya melalui perkawinan campur dapat pula terjadi. Akibatnya akan tercipta identitas hibrida atau identitas ganda bagi generasi selanjutnya. Pencampuran identitas akan  ikut andil dalam penentuan budaya yang akan terpilih nantinya untuk diikuti dan dilestarikan tergantung ideologi  mana yang lebih kuat penanamannya dan yang  lebih pantas untuk dibanggakan.

Melihat prospek nasionalisme ke depan, penguatan ideologi menjadi hal dasar yang akan dijadikan pedoman untuk menghadapi angin kencang dalam kondisi yang  bebas hampir tanpa batas untuk seluruh lapisan mayarakat baik dari pemerintah maupun rakyatnya.

Kekuatan  ideologi akan mendorong lahirnya nasionalisme yakni  paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negaranya sendiri dengan menciptakan kesadaran keaanggotaan  untuk mencapai, mempertahankan dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa itu.

Nasionalisme sendiri bermakna sebagai:

Pembentukan bangsa, seperti pada awal kebangkitan nasional Indonesia dalam usaha-usaha perlawanan terhadap belanda dan usaha menuju kemerdekaan.

Suatu gerakan sosial-politik yang ditentukan oleh representasi budaya. Dapat dilihat perbedaan yang sangat jauh antara nasionalisme pada saat pergerakan nasional dengan nasionalisme masa kini. Dengan adanya pengaruh globalisasi yang tidak disaring dan dibatasi oleh kemampuan masing-masing  individu sebagai warganegara, menunjukkan bahwa pengaruh budaya global menentukan seperti apa nasionalisme bangsa ini. Sedikit sekali kecintaan terhadap bangsa, produk dalam negeri dan kepercayaan terhadap bangsa sendiri.

Kesadaran memiliki bangsa. Budaya bangsa yang semakin terkikis menunjukkan bahwa pemiliknya sendiri kurang merawat dan melestarikan. Hal ini menunjukkan kurangnya rasa cinta dan kesadaran bahwa kita punya bangsa dan harus menjaga dan melestarika symbol-simbol yang mencerminkan keberadaannya.

Memiliki bahasa dan simbol sebagai ciri khas. Bahasa dan simbol merupakan hasil budaya. Ideologi nasionalisme yang kuat dapat mempertahankan budaya bangsa. Mari kita lihat Negara Amerika sebagai suatu  Negara yang kuat ideologinya, sehingga dalam masa globalisasipun mereka dapat menjaga bahasa dan simbol budayanya dibuktikan dengan semakin mendunianya bahasa Inggris.

Kasus Ambalat, beberapa waktu lalu, secara tiba-tiba menyeruakkan rasa nasionalisme kita, dengan menyerukan slogan-slogan “Ganyang Malaysia!”. Setahun terakhir ini, muncul lagi “nasionalisme” itu, ketika lagu “Rasa Sayang-sayange” dan “Reog Ponorogo” diklaim sebagai budaya negeri jiran. Semangat “nasionalisme kultural dan politik” seakan muncul. Seluruh elemen masyarakat bersatu menghadapi “ancaman” dari luar. Namun anehnya, perasaan atau paham  itu hanya muncul sesaat ketika peristiwa itu terjadi. Seperti yang dikemukakan oleh Anthony dalam  bukunya bahwa nasionalisme adalah sikap yang akan muncul dalam keadaan mendesak dan  penuh dengan ancaman. Lalu apakah harus selalu dibutuhkan stimulus pendesak agar nasionalisme bangsa Indonesia dapat selalu muncul? Lalu dimanakah penerapan  rasa “nasionalisme kultural dan politik” dalam keseharian bangsa?. Fenomena yang membelit kita berkisar seputar: Rakyat susah mencari keadilan di negerinya sendiri, korupsi yang merajalela mulai dari hulu sampai hilir di segala bidang, dan pemberantasan-nya yang tebang pilih, pelanggaran HAM yang tidak bisa diselesaikan, kemiskinan, ketidakmerataan ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, tidak menghormati harkat dan martabat orang lain, suap-menyuap, dan lain-lain. Realita ini seakan menafikan cita-cita kebangsaan yang digaungkan seabad yang lalu. Itulah potret nasionalisme bangsa kita hari ini.

Pada akhirnya kita harus memutuskan rasa kebangsaan kita harus dibangkitkan kembali. Nasionalisme yang mencakup politik, intelektual dan budaya. Menilik nasionalisme pejuang bangsa, sikap ini muncul dan lahir karena pemikiran kaum terpelajar yang berhasil mempengaruhi masa untuk melawan penjajahan dan memperoleh kekuasaan di bidang politik.

Membangkitkan  ideologi Nasionalisme terfokus pada pembentukan  identitas, kesatuan dan otonomi nasional. Pembentukan identitas harus dimulai sejak dini melalui pengenalan identitas sederhana mengenai sejarah kebangsaan dan cara pandangnya serta  rasa cinta terhadap tanah air dan sesama manusia. Kecintaan   akan  menafikan pemberontakan, ketidakpercayaan, pengkhianatan, ketidakadilan dan ketakutan. Akan muncul sikap jujur, adil, disiplin, berani melawan kesewenang-wenangan, tidak korup, toleran, dan  lain-lain sebagai bentuk timbal baliknya. Diharapkan kesatuan nasional perlahan akan terbentuk karena telah dimulainya pembangunan solidaritas antar anggota bangsa. Kekuatan dan ketahanan juga merupakan faktor kepemilikan otonomi, maka jika ketiga sasaran nasionalisme tercapai perlahan harapan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar dan tahan banting dari pengaruh asing dapat terwujud.

Smith, Anthony D. 2003. Nasionalisme: Teori, Ideologi dan Sejarah. Erlangga: Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here