Orang-Orang yang Beruntung

0
201
Image processed by CodeCarvings Piczard ### FREE Community Edition ### on 2017-06-13 13:14:32Z | http://piczard.com | http://codecarvings.com·£ÿPu°µ

Di kalangan masyarakat awam, kata beruntung disamaartikan dengan ‘hoki’. Kata hoki ini merupakan kata serapan dari Bahasa Hokkien yang berarti nasib baik atau beruntung. Kata ini sering diantonimkan dengan kata sial. Agama islam tidak mengenal nasib baik atau buruk karena semua yang terjadi di dunia merupakan kehendak Allah SWT. Di balik setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini pasti terdapat hikmah yang dapat kita petik pelajaran darinya.

Namun, yang akan kita pelajari bukanlah itu. Melainkan untung yang dalam KBBI berarti ‘faedah’ atau ‘manfaat’. Jadi, orang yang beruntung dalam konteks ini dapat diartikan sebagai orang yang memperoleh manfaat dari apa yang telah ia kerjakan, bukan orang yang rugi dan tidak memperoleh manfaat dari apa yang ia kerjakan.

Tentu ‘beruntung’ dalam perspektif manusia dan Allah memiliki perbedaan. Nah, mari kita pelajari satu per satu seperti apa orang yang beruntung dan orang yang merugi dalam perspektif Allah SWT yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an surah Al-’Ashr ayat 1-3 diesbutkan siapa orang-orang yang merugi itu.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (Q.S. Al-Asr (103) : 1-3)

Dari surat Al-Asr di atas dapat kita ambil bahwa ada empat poin untuk menghindarkan kita dari kerugian, yaitu beriman, beramal sholeh, saling menasehati untuk dalam kebenaran, dan saling menasehati untuk dalam kesabaran. Keempat aspek ini harus ada dalam diri kita agar kita dapat terhindar dari kerugian. Salah satu aspek saja tidak ada dalam diri kita, maka kita tetap tergolong sebagai orang yang merugi.

Sebagai contoh, ketika kita rajin mengerjakan amal sholeh, mengingatkan kepada kawan-kawan kita untuk berbuat kebajikan dan bersabar, namun semua itu tidak dilandasi iman kepada Allah SWT, maka itu disebut riya’. Amalan-amalan yang kita lakukan bukan karena Allah insyaallah amalan kita akan ditolak oleh Allah SWT. Betapa meruginya kita ketika kita sudah susah payah beramal, namun amalan kita tidak diterima di sisi Allah SWT. Mungkin kita mendapatkan keuntungan di dunia, misal menjadi dihormati, disanjung, dan dielu-elukan oleh manusia-manusia di dunia, namun tidak bagi Allah.

Contoh yang lain, kita memiliki iman yang kuat dalam hati kita bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, mengingatkan kepada manusia-manusia untuk beriman kepada Allah dan bersabar, namun kita tidak sholat, tidak zakat, tidak puasa, tidak bersedekah, tidak menafkahi anak istri kita, dan tidak mengerjakan amal-amal sholeh yang lain, sedangkan Allah memerintahkan kita untuk beribadah dan beramal sholeh. Sungguh merugi kita ketika kita meninggalkan amal-amal sholeh, apa lagi yang diwajibkan oleh Allah kepada kita. Berapa besar timbangan dosa kita di hari perhitungan nanti karena kita meninggalkan amal-amal sholeh.

Contoh yang ketiga, kita beriman dan beramal sholeh, namun kita membiarkan keluarga kita, saudara kita, teman-teman kita, dan orang-orang di sekitar kita berada dalam kemaksiatan. Coba kita bayangkan ketika di akhirat kita ditanya oleh malaikat “Mengapa kamu membiarkan keluargamu, saudara-saudaramu, teman-temanmu, dan orang-orang di sekitarmu berada dalam kemaksiatan?”. Apa pembelaan kita nanti di akhirat?

Saling mengingatkan di antara kita ini memiliki manfaat untuk menjaga iman yang kita miliki dan amal-amal sholeh yang telah kita lakukan. Tentu setiap manusia memiliki kondisi lemah dalam beriman, beribadah, dan beramal sholeh. Nah, tugas kita yang sedang dalam keadaan bersemangat untuk mengingatkannya untuk tetap beriman, beribadah, dan beramal sholeh. Begitu pula ketika kita yang berada dalam kondisi lemah, tentulah ada kawan kita yang akan menguatkan kita.

Karakter manusia berbeda-beda ketika kita ingatkan untuk tetap berada dalam kebaikan. Ada orang yang dengan sekali diingatkan langsung sadar dan kembali ke jalan kebajikan, ada juga yang acuh tak acuh dengan ajakan kita, ada juga yang justru mencaci kita, mencemooh kita, bahkan mengatakan “jangan sok mengurusi hidup kita”. Nah, itulah pentingnya kita utuk saling mengingatkan untuk dalam kesabaran. Jangan sampai kawan kita yang sudah mencoba mengajak dalam kebajikan menyerah untuk tetap mengajak kepada kebajikan. Memang perlu kesabaran yang luar biasa untuk mengajak dan mengingatkan untuk dalam kebajikan, sehingga kita juga perlu untuk saling mengingatkan juga untuk tetap sabar.

Nah, itulah empat poin yang bisa menghindarkan kita dari kerugian akhirat. Jangan sampai kita kehilangan salah satu poin itu, karena dengan hilangnya salah satu saja poin itu, kita sudah tergolong sebagai orang yang merugi. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu beriman, beramal sholeh, dan mengingatkan kepada kebajikan serta kesabaran. Amin.

Penulis bernama Zidan Yusron Wijanarko yang merupakan Ketua Umum PK IMM Al-Khawarizmi UGM periode 2018/2019, berkuliah jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UGM. Kawan-kawan dapat bersapa nih melalui akun IG @zidanwijanarko.

Penyunting: Mey

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here