Perkaderan Terbuka, Santun, dan Berwibawa

0
75

Dalam menjalani rutinitas kehidupan kampus, sungguh rugi orang yang awam akan pergerakan mahasiswa di kampus. Latar belakang sebuah organisasi ekstra kampus dapat dibedakan dengan pola gerakannya. IMM sebagai organisasi ekstra kampus adalah salah satu organisasi yang pola gerakannya menginduk kepada organisasi utamanya, yaitu Muhammadiyah. Bahkan menurut Korps Instruktur IMM BSKM (2018 : 36) kehadiran IMM dianggap sebagai esensi dari kehadiran Muhammadiyah dalam mewujudkan generasi islam yang memiliki pemikiran dan perlakuan mulia dan luhur. Selain itu pada realitas dapat dilihat Muhammadiyah merupakan organisasi yang diklaim memiliki jamaah kedua terbesar setelah Nahdhatul ‘Ulama (MMN, 2004/5). Baik dari Muhammadiyah maupun Nahdhatul Ulama memiliki pola yang hampir sama dalam segi perkaderan. Bahkan hampir dari Organisasi Otonom Muhammadiyah, NU (Nahdhatul Ulama) juga memiliki ‘tandingan’. Adapun Perkaderan Muhammadiyah dan NU lebih menitikberatkan pilihan khilafiyah dan amaliyah-amaliyah masing-masing, karena memang terjadi polaritas yang cukup kontras antar keduanya. Selain itu sistem rekrutmen pada kedua ormas diatas dapat didasarkan oleh hegemoni masyarakat maupun sejenis ‘dinasti’/keluarga secara turun-temurun. Namun tak dipungkiri, pilihan organisasi karena faktor pendidikan juga banyak terjadi.
Terdapat juga poros tengah yang menjadi inhibitor kompetitif, ialah gerakan yang mengilhami gerakan Ikhwanul Muslimin, gerakan puritan ini melabeli diri mereka dengan Tarbiyah yang berarti pendidikan (Nashir, 2006). Gerakan ini disebut-sebut memiliki orientasi sama dan dasar gerak yang hampir sama seperti Muhammadiyah. Bahkan tidak ada hal yang terlalu kontras dalam mengidentifikasikan kader Muhammadiyah dan Kader Tarbiyah. Namun terdapat pola yang tidak santun yang selalu digunakan sebagai andalan dalam hal perkaderan gerakan ini, yaitu pola underground atau pola gorong-gorong. Gerakan ini melabeli golongannya sebagai gerakan yang inklusif, tak heran teman-teman IPM yang menganggap “sama saja” antara amaliyah Muhammadiyah dan gerakan di atas menjadi tergiur untuk mengikutinya. Hal ini didasari dari teman-teman yang sudah bosan dengan ‘cap’ Muhammadiyah.
Saya dapat memisalkan gerakan ini seperti halnya bakteriofag (bacteriophage), yaitu dapat diidentikkan dengan fag/virus pemakan sel, di mana penelitian terbaru menunjukkan bahwa asam nukleat berupa Deoxyribonucleat Acid (DNA) maupun Ribonucleat Acid (RNA) dari virus atau viral DNA/RNA dapat mengontrol sel (Campbell et. al. 2017 : 315). Hal ini sejalan dengan pola gerakan Tarbiyah dengan berdiaspora pada organisasi berlatarbelakang apapun. Dengan pola yang jitu meneladani IM (Ikhwanul Muslimin), gerakan ini dapat menjaring kader sebanyak-banyaknya. Selain itu bakteriofag saat menginfeksi bakteri inangnya, terdapat 2 siklus. Di mana saat awal infiltrasi tidak akan terjadi pergolakan apa-apa, namun di dalam sel yang saya ibaratkan sebagai persyarikatan ini terjadi duplikasi dan propagasi laten yang sedikit demi sedikit (Lisogenik). Ada saat siklus di mana terjadi sebuah hegemoni besar pada virus T ini yang membuat sel mengalami fase lisis/hancur/bocor, sehingga kebocoran perkaderan ini adalah hasil dari hegemoni dan permainan tren yang dipakai gerakan Tarbiyah.
Secara umum gerakan Tarbiyah memiliki dasar dan patokan yang sama dalam pencapaian kompetensi kader dalam bermuhammadiyah, karena dasar yang diambil adalah sama yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Secara fundamental gerakan tarbiyah menekankan kepada Salimul Aqidah dan Shahihul Ibadah, di mana ini adalah hal umum yang sering digunakan pada pola-pola di LDF/Lembaga Dakwah Fakultas) dan LDK/Lembaga Dakwah Kampus (Abdurrakhman, 2013). Tak dapat dipungkiri, mereka dengan cerdiknya dapat masuk ke dalam lembaga-lembaga tersebut dan secara masif dan menghegemoni. Hal ini yang telah diresahkan oleh saudara-saudara kita NU, ketika kultur pada lembaga-lembaga dakwah sudah dikuasai oleh suatu golongan, sehingga saudara kita dari Nahdhiyin lebih memilih untuk mundur dan menutup diri. Berbeda dengan kader-kader jebolan dari sekolah-sekolah muhammadiyah yang merasa ada gerakan senada dengan Muhammadiyah namun memiliki corak baru yang dipandang lebih tidak menonjolkan identitas padahal itu sisi gelap mereka yang mereka tutup-tutupi.


Dengan itu, sistem perkaderan IMM dapat secara bertahap diperbaiki dari segi capaian kompetensi kader, dan mencari jalan integrasi IMM dengan ortom lainnya, lebih spesifik IPM. Ada beberapa poin yang mungkin bisa kita tiru atau kita akuisisi kembali seperti pola liqa’/halaqah. Mungkin kita penah ingat ada kalanya K.H. Ahmad Dahlan pada usia matangnya semangat untuk berjihad mencari ridho Allah memiliki pemikiran untuk mendirikan suatu jam’iyah/organisasi, namun pada saat itu, beliau merupakan ulama’ cerdas dengan ilmu agama namun hampir buta bagaimana cara berorganisasi maupun berpolitik. Dengan itu beliau mencoba untuk masuk Boedi Oetomo yang di kala itu memiliki cap ‘kurang baik’ di kalangan murid-muridnya karena merupakan organisasi yang bercorak kejawen pada saat itu. Namun Kyai Dahlan dengan niatnya yang lurus dan tekun mengambil pelajaran dari organisasi tersebut untuk mendirikan suatu persyarikatan yang sampai saat ini memiliki nama besar, yaitu Muhammadiyah. Dengan itu, IMM hendaknya melakukan pendidikan organisasi di kampus secara langsung dan atau memberikan pengawasan pada diaspora kader pada organisasi intra kampus baik di lembaga eksekutif seperti BEM, LM, dan LEM, maupun lembaga legislatif seperti senat, DPM, dan sebagainya. Diperlukan pengawasan karena jangan sampai kader lebih asyik dengan kegiatan ‘penugasan’ yang diberikan daripada menghidup-hidupi persyarikatannya melalui IMM.
Adapun menurut Sulomo (2010) disebutkan beberapa profil pimpinan Muhammadiyah yang ideal, hal ini dapat juga diterapkan pada konteks pergerakan dan politik kampus: “bukan peloncat pagar, bukan oportunis” yang dapat dimaknai denga diksi lain yaitu “bukan kutu loncat”, hal ini merupakan hal yang harus dipastikan dalam pemilihan pimpinan ketua, maupun unsur vital dalam organisasi lainnya. Mengapa menggunakan istilah “pagar”? Pagar adalah istilah batasan yang tidak boleh dilewati. Terdapat suatu kasus dimana seorang kader IMM sudah mengikuti DAD dan memiliki syahadah, namun ditemui bahwa sekarang sudah melewati batas-batas organisasi, terindikasi ada dualitas bahkan trialitas organisasi ekstra kampus yang diikuti. Untuk hal seperti itu penulis memandang harus adanya tindakan tegas dari instruktur dan perangkat yang berwajib. Selain itu, oportunisme adalah hal yang harus dideteksi dari awal, sehingga hal-hal seperti kasus di atas jangan sampai menjadi penyakit menahun ikatan.
PC IMM BSKM terdiri dari dua kampus yang memiliki nama besar di Yogyakarta maupun di Indonesia. Dua kampus ini adalah Perguruan Tinggi Negeri/PTN (Korps Instruktur BSKM, 2018). Dalam pengelolaan kader pada cabang kita ini tidak dapat disamakan dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Tugas utama dari bidang kader IMM se-BSKM minimalnya adalah menjaga eksistensi kader yang sustainable sehingga tiap periode kepemimpinan ada suksesor dalam kepengurusan inti/pengurus harian. Selebihnya, sistem perkaderan yang harus dilalui seorang kader minimal adalah DAD dan tentunya, follow up dari DAD janganlah hanya sebuah penugasan sekali selesai namun harus berupa pemantauan potensi, pemetaan, dan pengelompokan. Preferensi peserta DAD harus diperhatikan supaya lebih mengutamakan ruang lingkup internal cabang terdahulu sebelum menerima peserta dari luar.
Selain itu, publikasi/syiar dan propaganda adalah tonggak utama pada perkaderan di kampus-kampus besar ini. Selama bertahun-tahun, pasti ada kader yang lolos dari jaringan ikatan menuju gerakan tarbiyah yang lebih ‘hijau’. Hal ini dapat diminimalisasi dengan integrasi dengan sekolah maupun gerak cepat saat masuknya mahasiswa baru. Selain itu, sangat perlu inisiasi dari PC IMM BSKM untuk melakukan konsolidasi dengan sekolah Muhammadiyah tentang sosialisasi Ortom di dunia perkuliahan, khususnya IMM. Soal kader IPM yang masih asyik dengan kepemimpinannya di tingkat daerah maupun sampai tingkat pusat sehingga tidak dapat/tidak mau ditarik ke IMM, itu adalah mata rantai yang belum terpecahkan sampai sekarang. Atribut merupakan elemen penting dalam syiar eksistensi di kampus. Menurut beberapa testimoni kader baru, hal ini berakar dari adanya atribut IMM sehingga dia tahu eksistensi IMM di kampusnya. Maka produksi, distribusi, dan pemasaran atribut adalah elemen pendukung perkaderan yang menjadi penting. Desain atribut perlu dibuat sedinamis mungkin menyesuaikan tren sehingga kader mengenakan atribut dengan percaya diri.
Perkaderan IMM dalam lingkungan kampus bersifat terbuka dan terus terang. IMM sudah seharusnya mengacu pada induk organisasinya yaitu Muhammadiyah yang tidak melakukan perkaderan secara gorong-gorong. Selain itu, penjagaan kader dapat dimulai dari sebuah kelompok kecil. Kelompok ini hendaknya dirumuskan secara dinamis dan “mirip-mirip beda”. Bukan hanya sebuah kelompok kecil semacam halaqah liqa’ belaka, namun pola perkumpulan berdasarkan minat perlu didukung. Sebagai contoh, dibuat lingkar kelompok pecinta kucing yang membahas ilmu tentang kucing, fiqih tentang kucing, dan kegiatan yang berhubungan dengan perawatan kucing atau sejenisnya. Dengan itu, diharap bisa menjadi jalan penjagaan kader mulai dari PK sampai PC. Selain itu, dalam organisasi yang dinaungi persyarikatan yang besar, wibawa organisasi juga harus dijaga. Kutu loncat/peloncat pagar harus ditindak secara tegas.
Kita pasti ingat kutipan K. H. Ahmad Dahlan: “ HidupHidupilah Muhammadiyah….” Maka kalau memang dirimu tak mampu untuk menghidupi Muhammadiyah, jangan merusak perkaderan Muhammadiyah!

Sumber :
Abdurakhman, A. 2013. Gerakan Tarbiyah 1980-2010 : Respon Ormas Islam dalam Gerakan Transnasional. Program Pascasarjana Fakultas Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia : Depok
Campbell, N. A. , L. A. Urry, M. L. Cain, S. A. Wasserman, P. V. Minorsky, dan J. B. Reece. Biology Eleventh Edition. Pearson : New York
Korps Instruktur PC IMM Bulaksumur-Karangmalang, 2018. Modul Darul Arqam Dasar (DAD) IMM al-Khawarizmi. Korps Instruktur PC IMM Bulaksumur-Karangmalang : Yogyakarta
Nashir, H. 2006 . Manifestasi Gerakan Tarbiyah; Bagaimana Sikap Muhammadiyah?. Suara Muhammadiyah : Yogyakarta
Sudja’, H. M. 2018. Cerita Tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan : Catatan Haji Muhammad Sudja’. Suara Muhammadiyah : Yogyakarta
Sulomo, A. , 2010. Sebuah Renungan Muktamar 1 Abad Muhammadiyah. CV. Purnama : Jakarta
http://www.muslimedianews.com/2014/05/jumlah-warga-nu-83-juta-jiwa-di.html (diakses pada 22 Maret 2019 Pukul 16.56 )
https://tirto.id/masa-depan-nu-dan-muhammadiyah-di-antara-gerakan-tarbiyah-dan-fpi-cQdJ (diakses pada 22 Maret 2019 Pukul 17.02)

Penulis adalah Afghan Azka Falah, Ketua Bidang Organisasi PK IMM Al-Khawarizmi yang merupakan mahasiswa jurusan Biologi Universitas Gadjah Mada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here