Pesan Hati IMM BSKM 13 | Lumbung

0
197

Pesan hati oleh Addin Delia Nur Azfi Muhajir
PK IMM K.H. Ahmad Badawi

Menunggu. Hanya menunggu. Satu detik dua detik. Satu menit dua menit.

Aku terduduk sendiri. Walau secara literal aku tidak benar-benar sendiri. Tapi secara emosional, aku sendiri. Manusia lalu lalang, datang dan pergi, melewati hadapanku, duduk di area beradius bentangan kedua tanganku. Sesungguhnya, betapa tidak sendirinya aku. Tapi, di dalam dada ini, di hati ini, sungguh, aku sendiri. Tidak ada yang datang apalagi pergi. Tidak ada yang berlalu lalang apalagi bersinggah. Sesungguhnya, betapa sendirinya aku.
Kesendirian ini, sebenarnya, tidak datang tanpa sebab. Jelas, semua ada karena suatu sebab. Tumbuhan memiliki daun untuk memproduksi cadangan makanan. Elang memiliki paruh dan kuku yang tajam untuk menangkap dan menerkam mangsa. Manusia memiliki akal untuk berpikir. Aku memiliki kesendirian, karena aku menghendakinya.

Teman, kawan, kolega, apapun kamu mau menyebutnya, aku punya beberapa. Tapi di sana, di kampung halaman, tidak di sini. Bisa dibilang, teman yang kupunya merupakan teman yang diusahakan olehku yang masih berusia satuan. Mendapatkan teman saat usiamu belum mencapai satu dekade sangat mudah. Kamu suka warna hijau? Aku juga suka warna hijau! Oke mulai dari sekarang kita sahabat! Semudah itu. Ya, itulah teman yang kumiliki. Semakin jauh tahun kelahiranmu dengan tahun ini, tata cara memperoleh teman semakin rumit dan hasrat untuk menciptakan teman-teman baru mulai pudar. Sekarang, aku di sini, dan tidak ada satu pun temanku di sini. Sudah kukatakan bahwa semakin bertambah usia, semakin enggan untuk mencari sosok teman. Ya, inilah kehendakku atas kesendirian yang kumiliki.
Satu per empat jam. Lima belas menit. Aku masih sendiri, masih menunggu.

Selagi aku menanti sendiri, kuceritakan sebuah rahasia. Beberapa waktu yang lalu, diri ini berkehendak lain. Telah kulakukan sebuah usaha subtle untuk, uh, berusaha menggeser gelar kesendirian dari diriku. Bukan dengan cara konvensional seperti ‘hai namamu siapa? oh aku….’ bukan dengan itu. Tidak ada keahlian dan kemahiran akan hal itu. Aku menemukan sesuatu, sebuah lumbung yang berisi dengan calon-calon teman. Hebat ‘kan?

Tapi yang membuat ini menarik, mencari calon teman bukanlah tujuan awalku terhadap lumbung itu. Aku hanya ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Namun tidak seperti ucapan-ucapan standar saat walimahan kelahiran anak: “semoga menjadi anak yang bermanfaat bagi keluarga, agama, bangsa, dan negara”. Itu level tinggi, terlalu tinggi. Aku hanya ingin memberikan manfaat pada lingkungan di sekitarku, pada sekitar lingkungan di mana aku nunut ngeyup. Itu saja. Sederhana.

Dan aku rasa, dengan menjadi bagian dari lumbung itu, tingkat kebermanfaatanku pada masyarakat mengalami kemajuan. Tidak secara drastis, tidak. Mana ada hal yang se-instan itu. Semua berjalan perlahan, bertahap. Aku yang selama ini hanya sendiri, dalam arti lain, tidak memberi pengaruh –apalagi manfaat– terhadap hidup orang-orang di sekitar, kini mulai sedikit memberi pengaruh. Pada masa awal, pengaruh itu bukan mengarah ke lingkunganku seperti yang kutargetkan pada mulanya, namun menginternalisasi. Yap, aku. Lumbung ini membuatku mempengaruhi diriku, memberi manfaat padaku. Ini bukanlah yang kuharapkan, tapi inilah terjadi. Aku menjadi lebih baik.

Ada suatu hal lain yang sama sekali tidak terpikirkan bahwa itu akan datang. Hal yang bukanlah tujuanku. Hal yang aku sama sekali tidak harapkan. Teman. Teman-teman. Secara tidak sengaja, aku membangun hubungan dengan anggota lumbung yang lain. Terang saja, kami berusaha dan berjuang bersama, interaksi pun terjalin selama proses berlangsung, pertemanan pun terbangun. Sekarang, teman bukanlah hanya mitos yang tertinggal di kampung halaman sana, tapi telah hadir di sini, dalam wujud yang berbeda namun perasaan yang sama. Aku punya teman di sini.
Satu per dua jam. Tiga puluh menit. Aku tetap masih menunggu. Tapi sebenarnya, apa yang kutunggu?
Itu, dia, mereka. Merekalah yang kutunggu.

“Maaf aku telat, tadi masih kuliah. Yang lain juga belum datang? Mau nunggu yang lain dulu apa langsung mulai?”
“Hehe aku juga, maaf. Semester ini kuliah sore terus.”
“Langsung mulai aja yuk, waktu buat persiapan acara kita tinggal sebentar, lho.”
“Eh, gimana kalau minggu depan kita ngadain diskusi? Momennya pas.”
“Iya, boleh tuh. Coba cari pembicara dulu ya.”
“Kamu moderatornya, ya? Hehe.”
“Weh kok aku terus. Mbok yang lain sekali-kali.”
“Aku bawa donat, nih. Siapa mau?”

Perkenalkan. Mereka adalah bagian dari lumbung, dan juga hidupku. Orang-orang yang melingkar bersamaku inilah yang kusebut teman, bahkan lebih dari teman, yang pada awalnya hanya sesama anggota lumbung yang berjuang bersama.

Oh, ngomong-ngomong, lumbung itu bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here