Pesan Hati Milad IMM BSKM 13 | 22 Desember Itu Hari Apa?

0
169

Pesan Hati kiriman dari
Sona Ardhyan
Ibnu Al-Baitar
foto dari pinterest

Perkenalkan, aku Dennis, mahasiswa rantau asal Bekasi yang sekarang menempuh kuliah S1 di kawasan Yogyakarta. Sekarang aku sudah semester lima. Disini, aku tinggal bersama teman-temanku, mengontrak sebuah rumah bergaya Joglo berukuran sedang, cukup untuk tujuh orang.

Pagi itu, seperti biasa, aku menyapu ruang tengah kontrakan, dapur, dan teras, seperti yang biasa dilakukan oleh Mama di rumah. Setelah itu tak lupa mencuci piring di dapur, dilanjut dengan menanak nasi untuk sarapan kami bertujuh. Setelah mencolokkan kabel magic jar ke colokan listrik, aku ke ruang tengah dan menanyai teman-teman kontrakan satu persatu, “Mau nitip nggak? Aku mau beli lauk di warung Mbok Marni”.

“Tempe goreng 3 ya”.
“Aku titip ayam bakar 1 aja Den”.
“Mas, aku nitip sayur 3000 sama Perkedel 2 ya”.
“Aku nggak sarapan dulu pagi ini”.
“Titip sayur aja”.
“Aku juga nggak sarapan dulu”.

Setelah mengumpulkan uang dari mereka, aku membeli semuanya di warung Mbok Marni. Setelah itu kembali ke kontrakan dan makan bersama dengan mereka. Lekas itu aku mencuci piring yang aku gunakan dan siap-siap untuk berangkat ke kampus.
~***~

Di perjalanan menuju ke kampus, aku teringat mamaku. Aku terinspirasi dari mama yang selalu menyapu, mencuci, dan mengerjakan banyak hal di rumah, dan yang paling aku kagumi adalah beliau tak pernah mengeluh. Selain itu, mama selalu ingin anak-anaknya siap ke sekolah dengan perut sudah terisi sarapan dan baju rapi yang telah disetrika. Mama tak ingin anaknya kalah ganteng dan kalah cantik dengan teman-temannya, maka dari itu beliau selalu mempersiapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sambil berjalan, aku mengetik SMS, “Apa kabar ma?” lalu ku kirim ke nomor mamaku. Tak lama, di layar HP terlihat “Message sent”. Oke, pesan sudah terkirim, lalu ku masukkan kembali HP ke sakuku. Hari itu berjalan seperti biasa. Kuliah, kantin, masjid, laboratorium. Keempat tempat itu yang menjadi persinggahanku selama di kampus. Pagi kuliah, siang istirahat, sholat, makan, lalu praktikum, dan kemudian kumpul bersama teman-teman organisasi, hingga waktu maghrib.

Seusai sholat maghrib, aku pulang dalam keadaan lapar karena siang belum makan, efek dari padatnya tugas dan laporan praktikum yang menumpuk. Di jalan, aku berharap nasi sudah matang dan siap untuk disantap, perut yang lapar membuat pikiran terfokus pada makan malam. Sesampainya di rumah, kenyataan berkata lain, nasi belum matang, yang ada hanya dandang nasi yang belum dicuci, dapat terlihat dengan sisa-sisa nasi yang sudah kering mengerak di pinggirannya. Aku kecewa. Tak ada yang mau menanak nasi. Tak hanya itu, aku melihat di ruang tengah ada sampah bungkus makanan yang tidak dibuang ke tempat sampah, padahal di dekat situ ada plastik besar untuk menampung sampah.

Heran. Emosi sebenarnya. Ingin aku marah kepada yang lain, tapi aku teringat kata mama, “Daripada capek nyuruh orang ngerjain sesuatu, mending energinya kita pake buat ngerjain sesuatu itu”. Untuk meredam emosi, aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, setelah itu memasak nasi. Dan seperti biasa, yang lain hanya menitip makanan, tak mau pergi keluar untuk membeli makanan, sehingga aku lagi yang keluar untuk membeli lauk.
Emosiku tak terhenti disitu, setelah makan, aku mencuci peralatan makan yang aku gunakan, namun dengan enaknya mereka hanya menaruh piring di ruang tengah. Jangankan untuk mencucinya, untuk meletakkan piring-piring itu ke dapur saja mereka tak mau, padahal di awal waktu kami mengontrak rumah bersama, temanku ada yang mengusulkan untuk selalu mencuci peralatan makan setelah selesai digunakan, entah itu piring, gelas, sendok, garpu, pisau,
mangkuk, panci, atau apapun itu, dan kami semua sepakat. Heran aku. Si pengusul ide itu pun hanya tidur-tiduran sambil bermain HP. Aku coba berpikir positif, “Ah, mungkin hari ini mereka belum mau mencuci. Mungkin besok pagi”. Mungkin.
~***~

Paginya, aku lihat di ruang tengah masih tergeletak piring-piring bekas makan malam, tak berpindah, dan sudah dikerumuni semut-semut. Pikirku, “Ah, mungkin kalau sudah dikerumuni semut begini, mereka akan langsung mencucinya”. Mungkin.
Sorenya, setelah aku pulang kuliah, aku lihat di ruang tengah masih juga tergeletak piring-piring bekas makan semalam. Tak tahan dengan kerumunan semut yang sudah banyak dan berbaris di ruang tengah, dan barisan semut itu juga melewati kamarku, bahkan ada yang sampai naik-naik ke kasurku, aku langsung mengambil piring-piring itu dan mencucinya.
~***~

Esoknya, hari Selasa, bertepatan dengan hari libur nasional. Rabu masuk seperti biasa, tapi aku tak ada jadwal kuliah di hari itu. Kamis-Jumatnya tanggal merah, dan Sabtu-Minggu libur. Berarti aku kosong dari hari Selasa-Minggu, 6 hari, cukup untuk ke rumah kakekku yang sudah lama tidak aku kunjungi. Selasa pagi langsung aku mengetuk pintu kamar temanku, meminjam motornya, mandi, siap-siap, lalu berangkat menuju rumah kakekku di daerah Kulon Progo, provinsi DIY, sekitar 90 menit perjalanan jika ditempuh dengan sepeda motor. “Semoga kontrakan baik-baik saja aku tinggal selama 6 hari, haha”.

Sebelum bepergian, kemanapun itu, aku punya kebiasaan mengirim SMS ke Papa dan Mama. “Assalamu’alaikum pa, hari ini Dennis mau ke rumah mbah, perlu ngebawain sesuatu nggak? Hehe”, tidak lama kemudian, Message Sent.

“Assalamu’alaikum ma, hari ini Dennis mau ke rumah mbah, perlu ngebawain sesuatu nggak? Hehe”, tidak lama kemudian, Message Sent.

“Sip, udah kekirim semua”, batinku. Setelah itu aku berdoa, kemudian memulai perjalanan.
Di tengah perjalanan, lampu merah menyala, aku berhenti untuk mengecek HP, “Wah ada SMS”. Itu SMS dari Papaku,

“Wa’alaikumussalam, iya ati-ati Den. Beliin buah aja sama kue bolu lapis kesukaannya mbah, sama roti kering juga, haha”.

“Ooke, siap komandan! Haha”, 13 detik setelah aku membalas SMS itu, lampu hijau menyala, dan aku segera tancap gas mencari toko buah dan toko kue, lalu melanjutkan perjalanan.

~***~

Sesampainya disana, senyum kakekku merekah melihat cucunya datang, “Assalamu’alaikum mbah”, aku mengucap salam.
“Wa’alaikumussalam, ayo sini-sini”, jawab kakekku sambil memanggilku masuk ke dalam.
Aku mencium tangannya, lalu memberikan buah dan kue yang sudah aku beli, “Ini mbah, ada titipan”.
“Ooh iya iya makasih, salam ya buat yang di Bekasi”, ujar beliau.
“Iya mbah”, jawabku. Tak lama kemudian datang om dan tanteku, lalu kami mengobrol dan bercerita tentang banyak hal.
~***~

Setengah hari berlalu, dan hari mulai gelap, waktu makan malam hampir tiba. Aku beranjak dari ruang tengah menuju ke dapur, menemani tanteku yang sedang memasak. “Kalo ada mamamu disini enak nih Den, masakannya nomor satu, haha. Dulu pas masih muda sering masak bareng sama mamamu”, tanteku mulai bercerita.
Aku menjawab, “Wah, iya lek (paklek & bulek adalah panggilan untuk om & tante dalam bahasa Jawa), Dennis juga suka kangen masakan mama, di warung makan rasanya nggak ada yang seenak masakan mama. Kalo di warung makan kan yang penting porsinya banyak”.

“Ha..ha..ha..ha..”, kami tertawa bersama. Tanteku menambahkan, “Mbahmu juga kangen masakan mamamu, apalagi teri kacang dicabein, wuuhhh sedep”.
“Apalagi ditambah sayur asem buatan mama yang masih panas”, belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, tanteku meneruskan, “Waah iya maknyus banget itu”. “Ha..ha..ha..ha..”, kemudian kami tertawa bersama lagi.
~***~

Singkat cerita, 6 hari yang berkesan dan penuh dengan kenangan itu usai, saatnya kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Setelah pamit kepada semua keluarga disana, aku berangkat.
Sesampainya di rumah, aku kaget melihat keadaan teras yang berantakan, daun-daun kering dan sampah-sampah bertebaran. Saat masuk ke ruang tengah, yang aku lihat pertama kali adalah tumpukan piring yang sudah dikerumuni semut-semut, dan lantai terasa ngeres, banyak sampah yang dibiarkan begitu saja. Saat ke dapur, ada sampah yang sudah memenuhi dua tempat sampah di dapur, bahkan sampai luber-luber. Sebetulnya selama 6 hari aku pergi, mereka ada di rumah, namun entah mengapa tak ada yang mau mengurusnya. AAAAAARRRGGGHHH, ingin teriak rasanya, tapi percuma. Daripada digunakan untuk teriak, lebih baik energinya untuk membereskan semuanya saja.

Aku meletakkan barang-barangku, lalu membereskan piring-piring dan mencucinya, menyapu ruang tengah, dan lain-lain. Saat membuang sampah-sampah ke tempat sampah di luar rumah, yang nantinya akan diangkut oleh tukang sampah keliling, aku kaget karena ada banyak belatung bergeliat di tumpukan bawah sampah-sampah itu, hiiii. Sejorok itukah? Sampai-sampai dibelatungi?

Saat menyapu teras, ibu pemilik kontrakan lewat, dan berkata, “Dek, ini kok pohon-pohonnya sampe pada kering begini, ada yang mati juga. Gimana sih, dikasih pohon biar rumahnya keliatan asri, malah gak dirawat. Dasar anak laki-laki!”.

“Maaf bu, bukan begitu. Kemaren saya abis dari rumah mbah, jadi belum sempet nyiramin tanaman”, jawabku. Padahal selama ini aku rawat, setiap hari aku sirami.
“Ini juga, dari kemaren ibu liat berantakan banget, apa gak pernah diajarin sama ibunya?”, ujar ibu pemilik kontrakan, “Diberesin ya!”, lalu pergi.

Ya beginilah yang aku takutkan jika aku tak membereskan semuanya, yang menjadi buruk bukan hanya yang tidak membereskan, tapi semua orang yang tinggal disana, termasuk aku. Yang paling menyakitkan adalah kata-kata ibu pemilik kontrakan tadi , “Apa gak pernah diajarin sama ibunya?”. Menohok. Padahal mama tak pernah mengajarkanku menjadi orang yang jorok. Pedih. Padahal ibuku selalu mengajarkan anak-anaknya menjadi pribadi yang bersih.
Lagi-lagi aku yang membereskannya, lengkap dengan ‘semprotan’ dari ibu pemilik kontrakan. Kalau kata Balotelli, seorang pesepakola Itali, “Why always me???”. Mengapa selalu aku? Mengapa selalu aku yang harus mengurusnya, sedangkan teman-teman kontrakanku hanya santai-santai saja? Mengapa disaat aku membereskan rumah, mereka tetap menonton TV, bermain HP, bermain Laptop, dan makan dengan enaknya? Entahlah.
~***~

Tiba-tiba malah pikiranku yang serasa disentil oleh pertanyaanku tadi. Aku teringat kalau di rumah Mama yang selalu mengerjakan semuanya. Aku termenung. Aku bergegas ke belakang, membersihkan badan, lalu ke kamar. Aku mengeluarkan kertas dan pulpen, lalu mulai menulis.
_________________________________________________________________________________________________
Yogyakarta, 21 Desember 2014.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Apa kabar ma? Udah lama nggak ketemu, hehe.
Disini Dennis sehat-sehat aja kok ma. Dennis mau cerita banyak ma, tapi lagi kepengen aja nulis surat. Biasanya kan ceritaya lewat SMS, tapi ini rasanya lagi pengen nulis biar lebih puas, haha. Dennis bukan lagi pengen cerita tentang kuliah atau kesibukan ma. Dennis lagi pengen cerita tentang kerjaan ma. Maksudnya bukan kerja nyari duit, haha. Tapi pekerjaan rumah.

Disini kadang Dennis ngerasa capek ma. Capek ngurus ini itu sendirian. Bersihin rumah sendirian. Nyapu rumah, ngepel, nyapu teras, buang sampah, masak nasi, nyuci piring, sendirian.

Bayar listrik, bayar air, sendirian. Bersihin kompor, bersihin kamar mandi, sendirian. Dennis semua yang ngerjain ma. Apa-apa Dennis. Temen-temen juga nyruhnya apa-apa Dennis. Temen-temen yang lain pernah ngerjain, tapi cuma sekedar pernah. Dulu pernah dibikin jadwal piket, tapi cuma jadi pajangan. Mereka alesannya ada PR, ngerjain laporan, ada rapat, ya Dennis juga ada. Dipikir Dennis cuma pengangguran sama mereka.

Mereka juga kadang bilang capek, mumet banyak kerjaan, ya Dennis juga sama-sama capek, sama-sama kerjaannya banyak. Kalo mau santai-santai ya Dennis juga bisa santai-santai ma, tapi ntar disemutin, kotor, bau, Dennis nggak betah. Apalagi kalo ada orang dateng trus bilang “Ih jorok banget ini rumah”, kan gak enak.

Lebih gak enak lagi kalo ada yang sampe bilang, “Gak pernah diajarin sama ibunya?”. Padahal mama sering ngajarin, maaf ma, mama jadi kena tuduh juga. Dennis gak seneng ma. Padahal yang jorok yang lain, Dennis paling sering bersih-bersih disini, mereka yang sering ngotorin, tapi yang kena semuanya, termasuk Dennis. Capek ma. Capek badan. Capek ati. Capek pikiran. Capek dibilang jorok. Capek ngerasain rumah kotor. Capek.

Di surat ini Dennis juga mau minta maaf ma. Maaf. Mungkin apa yang Dennis rasain sekarang ini, itulah yang mama rasain kalo di rumah. Mungkin ini hukuman buat Dennis yang jarang bantuin mama. Hukuman buat Dennis yang males bersih-bersih kalo di rumah. Maaf ma. Maaf kalo di rumah Dennis jarang bantuin mama. Maaf kalo di rumah Dennis jarang nyapu-ngepel-nyuci-ngebuang sampah dll. Maaf kalo di rumah Dennis gak langsung ngebantu mama. Maaf kalo di rumah Dennis nggak langsung gerak kalo mama minta tolong. Maaf kalo di rumah Dennis gak peka sama mama.

Maaf juga, Dennis banyak salah sama mama. Maaf Dennis udah nyusahin mama dari Dennis kecil sampe Dennis kuliah. Maaf Dennis udah sering ngerepotin mama. Maaf Dennis sering ngelawan kata-kata mama. Maaf Dennis sering pergi ninggalin mama di rumah.

Maaf juga karena Dennis banyak minta ini itu ke mama. Maaf karena Dennis pernah ngebentak mama. Maaf karena Dennis pernah bohong sama mama. Maaf kareng Dennis lebih sering sama temen-temen daripada sama mama. Maaf karena Dennis lebih sering di depan HP daripada ngobrol sama mama.

Maaf karena Dennis lebih seneng ngeliat internet daripada ngebantu mama. Maaf karena Dennis belom pernah ngasih hadiah ke mama. Maaf kalo Dennis belom bisa ngebanggain mama dengan prestasi Dennis. Maaf karena Dennis belom pernah ngajak mama jalan-jalan. Maaf karena Dennis banyak ngelewatin momen berharga sama mama.
Maaf juga, Dennis belom bisa ngabulin cita-cita mama, pergi ke Tanah Suci bareng sekeluarga. Maaf ma. Maaf untuk semuanya.

Ya, mungkin itu aja yang mau Dennis sampein disini ma. Selebihnya nanti pas kita ketemu aja, hehe. Udah dulu ya ma, Dennis mau ngelanjutin ngerjain yang lain lagi. Sampai jumpa ma.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Anakmu yang sayang padamu,
Dennis Riyadhi Ismoyo
_________________________________________________________________________________________________
Surat selesai aku tulis. Aku lipat, kemudian aku masukkan ke dalam amplop, lalu aku bubuhkan alamat rumah. Segera aku ke kantor pos lalu mengirimnya ke rumah di Bekasi.
~***~

UAS berlalu, dan liburan telah tiba. Saatnya pulang ke Bekasi. Sesampainya di rumah, aku disambut oleh papaku yang sudah menungguku. Ku rapikan bawaanku, kemudian mandi, dan memakai kemeja ungu garis-garis, baju yang dibelikan ibuku saat aku lulus SMA.
“Yang Dennis minta ada pa? Hehe”, tanyaku.
“Ooh yang itu? Ada kok Den. Sebentar ya, papa ambilin dulu”, ujar papaku sambil mengambilkan sesuatu di kamarnya.

Setelah papaku mengambilkannya untukku, aku bergegas mengambil kunci motor, mencium tangan ayahku dan pergi, “Assalamu’alaikum, Dennis pergi dulu pa”.
“Iya Deni, ati-ati ya! Salam buat yang disana”, ujar ayahku.

15 menit berlalu, sampailah aku di tempat tujuan. Ku buka helm, lalu melangkahkan kaki ke dalam. Setiap pulang ke Bekasi, selalu aku sempatkan untuk datang ke tempat ini. Perlahan aku masuk, mengeluarkan apa yang diberikan papaku, lalu aku menuju ke satu tempat bertuliskan :
_______________________
Ratnaningsih
bin
Sugeng Riyadhi
Lahir : 14 Februari 1963
Wafat : 22 Desember 2012
_______________________
Ya, itu makam mamaku. Aku keluarkan barang yang diberikan papaku. Itu adalah surat yang aku kirim untuk mamaku. Aku tau, surat itu tak akan dibaca, karena mama sudah tak dapat lagi membacanya. Aku juga tau, setiap aku mengirim SMS ke mamaku, pasti tak akan dibalas, karena mama sudah tak akan bisa membalasnya. Mama sekarang sudah terpejam. Terlelap. Berisitirahat. Untuk selamanya. Aku? Hanya bisa meminta maaf. Maaf untuk semua kesalahanku. Khususnya untuk kesalahan terbesarku, yaitu menyia-nyiakannya ketika masih hidup. Sekarang? Aku hanya bisa menyesal. 22 Desember bagi kebanyakan orang adalah hari ibu. Untukku? Hari ibu juga. Lebih tepatnya hari dimana ibu pergi meninggalkan kami semua.

“Dapet salam ma dari mbah sama yang lain di Kulon Progo. Ohiya, dapet salam juga dari papa”, ucapku pelan sambil mengelus nisan mamaku. Siang itu, aku buka amplop suratku, lalu aku baca perlahan. Pelan aku membacanya, seperti berbisik untuk diriku sendiri. Debu-debu yang beterbangan menemani aku yang sesenggukan. Daun-daun kamboja yang melambai menemani aku yang lemas terkulai. Dan suara angin yang bergerak menemani rasa penyesalanku yang kian mengerak.
~***~

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here