Pesan Hati Milad IMM BSKM 13 | (bukan) Surat Cinta

0
323

Pesan Hati dari Dini Ariyanti
PK Ahmad Badawi UNY

Dear keluarga baruku…

Hai, apa kabar? Ah tidak seharusnya aku menanyakan itu… Kita tinggal dalam satu rumah, harusnya aku yang lebih mengerti keadaanmu, pun sebaliknya. Tapi aku merasa perlu menanyakannya, toh se-atap tidak membuat kita sering bersua dan berdialektika bukan? Sudahlah, aku tidak perlu jawaban atas tanyaku barusan.

By the way, aku ingin berbicara sesuatu, bukan tentang perempuan, agama, ataupun isu-isu kekinian disekitar kita. Aku hanya ingin bercerita tentang aku. Aku merasa kamu perlu tau, karena sekarang kita keluarga. Alasanku terlalu klise ya… Intinya aku ingin berkeluh kesah padamu. Maka izinkanlah aku menulis untukmu, menulis tentang aku dan kamu. Meski aku tidak tau apakah surat ini akan sampai di tanganmu atau hanya akan menjadi tumpukan kertas tak bermakna. Meski aku tidak tau apakah kau akan menyukainya atau tidak. Aku hanya berharap ada lega setelah menulis surat ini. Tunggu dulu, mungkin kamu akan tersinggung dan tidak menyukai kata-kata yang kutulis. Bukan… bukan maksudku menyakiti salah satu sudut hatimu, sungguh aku hanya ingin menceritakan kisahku saja. Baiklah aku akan memulainya, lapangkan hatimu untuk memaafkan kesalahanku ya…

Jadi begini…

Aku sebelum mengenal IMM hanyalah seorang gadis kecil penikmat film dan penggila jurnalistik. Segala genre film yang disuguhkan selalu aku nikmati lalu menjadi inspirasi untuk menulis sajak-sajak baperku. Aku menyukai jurnalistik, pernah aku bermimpi akan keliling dunia meliput berita dan menulis feature. Setamatnya aku dari SMK Broadcasting kulanjutkan langkahku kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi di Solo. Kemudian disitulah aku mengenal IMM. Aku terjun kedalamnya, merelakan waktu terbagi-bagi, tenaga dan pikiran terus bekerja, bahkan saat aku tertidur sekalipun IMM tetap ada di alam mimpiku. Hari-hariku tidak lagi hanya tentang hunting foto untuk film dan jalan-jalan menangkap moment. Sekarang aku punya agenda baru : baca buku, menulis, diskusi, yang kukerjakan disela-sela menunaikan tugas kuliah dan quality time sama keluarga. Sebentar, kalau aku katakan bahwa aku phobia dengan perpustakaan, kamu percaya tidak? Kamu harus percaya! Harus! Tapi seseorang memaksaku mengunjungi perpus kampus yang megah itu, yang katanya perpustakaan berstandar internasional dengan koleksi bukunya terlengkap. Begitu kata dia, namanya panjang banget, tapi aku memanggilnya mas Emot. Dia salah satu demisioner IMM. Akhirnya aku ke perpus. Lima menit diperpus rasanya kepalaku pusing, perutku mual, sepertinya aku ingin pingsan. Ya, pertama kali aku ke perpus megah itu dengan meminjam buku “Falsafah Hidup” nya Buya Hamka. Aku belum tamat membaca buku itu meski sudah berhasil membeli sendiri di toko buku. Alhamdulillah-nya sekarang aku sudah menyukai perpus, tidak pusing dan mual lagi.

Kamu jangan lelah membaca dulu, aku lanjutin ya… Rutinitasku itu menyenangkan, aku disibukkan dengan kuliah, sekolah kader, diskusi, bedah buku, kenalan sama sesama kader sana sini, jalan-jalan, ah pokoknya menyenangkan. Aku menjadi pribadi baru setelah kenal IMM, kenal orang-orang di IMM. Seperti ada ribuan pintu terbuka untukku. Hingga perjalananku sampai di moment DAD. Moment yang digadang-gadang sebagai gerbang masuk IMM. Hei, ayolah bersua, aku ingin menceritakan tentang DAD ku, tentang moment saat aku dilahirkan. Bukan lahir dari rahim ibuku, tapi lahir di sebuah keluarga, dibawah naungan jas merah. Ya.. akhirnya setelah 5 hari 4 malam di DAD, dengan air mata, tawa, bahagia, duka, haru, rindu, lahirlah aku sebagai kader IMM. Membawa diriku pada jalan baru, pengalaman baru, cerita baru, amanah baru.

Dilema mulai mendera seusai DAD, aku harus pindah ke Jogja karena suatu hal. Hal yang tidak pernah aku harapkan kehadirannya, membayangkanpun tidak pernah. Aku pindah ke Jogja, kuliah dikampus yang sekarang dengan jurusan yang super rumit menurutku. Bukan passion ku. Aku harus meninggalkan keluargaku, meninggalkan kampus idamanku, meninggalkan kawan-kawanku. Rasanya tidak mampu untuk mengakhiri disaat semua masih indah.

Dimensi baru tentang aku dan IMM adalah saat aku menemukanmu. Aku menjadi bagian darimu, keluarga baru. Tentu tidak berlebihan jika ku katakan aku bahagia. Aku bersyukur menemukanmu dalam kesendirianku di Jogja. Oh iya, aku mendapat pesan dari keluarga lamaku : aku tidak boleh membandingkan, karena kultur jelas berbeda. Tapi tidak munafik bahwa hatiku membandingkan. Dua bulan belakangan ini aku merasakan perbedaan itu. Aku merasa tersakiti dengan cinta yang ku jalani di IMM. Aku merasa berbeda, banyak kekurangan, merasa tidak pantas membanggakan diri dengan sebutan ‘kader IMM’. Membaca Al-Quran saja kalah dengan anak TK. Belum mampu meninggalkan celana dan mengganti dengan rok ataupun gamis. Jilbabku masih seadanya, pemikiran dan ilmu yang kutimba selama ini masih sangat sedikit, jauh dari kata cukup. Ah aku masih fakir ilmu.

Suatu malam, aku duduk disudut ruangku. Mengatakan pada cermin bahwa aku lelah di IMM. Aku merasa kesepian. Jarang sekali kita bersua, apalagi ngobrol. Bisa dikatakan aku berada di sebuah titik yang disebut kejenuhan. Aku merasa tidak ada yang peduli denganku. Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu, dengan makalah, dengan laporan praktek, dengan jurnal-jurnal hingga kamu tidak menolehku yang butuh didampingi. IMM itu tempat apa? Mbak… Mas… bagaimana caramu mengkader aku? Sepemahamanku kader itu asset berharga bagi perkembangan organisasi. Mbak… Mas… Aku ini merasa dilepas, tidak ada yang mengajakku jalan-jalan mengantar surat undangan ke komisariat lain, tidak ada yang mengajakku makan siang bareng sambil ngobrol tentang cultural keluarga kita. Atau mungkin memang ini kultur disini? Aku sempat berpikir : mungkin aku yang harus lebih rajin mendekatkan diri ke kamu.

Ah, aku sempat berpikir untuk berhenti mencintai IMM jika kamu tidak menggandengku. Lalu aku teringat pesan seorang kawan, “Nduk, berjuang di tempat yang lebih heterogen itu memang 3x lipat ekstranya. Kalau kamu tidak mau mengambil resiko itu, selamanya belum mu itu hanya akan menjadi belum, bahkan tidak akan pernah menjadi sudah. Ayo, ubah belummu itu menjadi sudah. Aku sudah bisa, aku sudah punya bekal, karena aku sudah pernah mengalaminya. Buka hatimu untuk menerima keluarga barumu, karena mereka sudah dengan senang hati menerima mu. Jika mereka belum mendampingimu, perbaiki dirimu agar kamu bisa mendampingi adikmu nanti. Kamu tidak akan pernah merasakan hangatnya keluarga barumu jika kamu masih membandingkan.”

Akhirnya aku sadar, bahwa segala hal mempunyai resiko, termasuk mencintai IMM. Usai DAD sudah ku ikrarkan janji bahwa ikatan ini tidak akan putus oleh apapun. Maafkan egoku yang masih tinggi ini. Mbak… Mas… aku hanya ingin kita sering ngobrol, berbagi tentang IMM, tentang segala hal. Layaknya keluarga. Maaf jika perkataanku melukai hatimu.
Akhirnya ku akhiri suratku ini, lega rasanya. Semoga kedepan kita lebih bisa saling meleengkapi dan saling memperbaiki ya… Bimbing aku, gandeng aku, tatap mataku, aku siap berproses denganmu.

Salam,
diary_dhee

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here