Ramadan di Jawa dan Muhammadiyah I (Sebuah Ledakan Cahaya)

0
71

 

Seri Pertama,

Sebuah Ledakan Cahaya

 

Ramadan memberi arti penting dalam kehidupan setiap masyarakat muslim diberbagai kebudayaan. Sebuah masa ritual panjang yang berlangsung dalam waktu satu bulan akan menghasilkan berbagai corak budaya yang merupakan ekspresi dari rasa emosional masyarakat tersebut. Islam sebagai agama yang telah menyebar hampir keseluruh belahan dunia akan bertemu dengan berbagai budaya yang ada dalam masyarakat, Kuntowijoyo berpendapat jika dalam prinsip kita tetap dan akan mengakui sebuah Islam yang universal dan utuh, namun sekaligus kita juga tidak dapat menyangkal untuk membawa Islam tersebut kita harus menumbuhkan bahasa yang beragam (Kuntowijoyo, 2010, 13). Keberagaman tersebut telah coba dibahasakan oleh setiap kebudayaan Islam dalam berbagai rentang waktu yang dinamis, hadirnya Islam di Jawa yang dibawakan oleh para pejuang pendakwah Islam merupakan usaha awal untuk membahasakan Islam dengan segala kompleksitasnya kepada masyarakat Jawa yang ternyata juga telah sangat majemuk.

    Para ulama di Jawa pada masa awal yang kerap kita kenal dengan sebutan wali sanga, terbukti telah berhasil membahasakan Islam yang mereka bawa kepada masyarakat. Masyarakat Jawa yang sebelum kedatangan Islam telah memiliki kebudayaan yang luhur dengan peradaban tinggi yang didukung olah berbagai kekuasaan politik tradisional yang kuat nyatanya dapat diubah secara dramatis membentuk sebuah wajah masyarakat baru yang Islam. Perubahan yang terjadi meskipun dalam waktu yang singkat, namun pastilah memiliki cara yang rumit sehingga dapat membawa perubahan yang seketika dan menyeluruh, maka dapat dikatakan apa yang dibahasakan Islam di Jawa adalah sebuah revolusi kebudayaan dan spiritual seperti ledakan cahaya yang secara tiba-tiba menyingkap pekatnya kegelapan.

    Islam dijawa yang dibahasakan oleh para wali merupakan sebuah revolusi yang menuntut perubahan dinamis, para pendakwah Islam dimasa awal telah menyadari jika tatanan lama yang telah terbentuk sejak abad pertama mungkin telah usang. Kesadaran pada kejenuhan tersebut menggugah Islam untuk hadir dan kembali mengangkat martabat kemanusiaan yang tetap berharga meskipun budaya telah berubah. Meskipun Islam yang dibawa olah para pendahulu menjadi sebuah revolusi sosial, namun seiring dengan berjalannya waktu revolusi akan menjadi tradisi yang kelak juga akan mengalami masa keusangan, masalah inilah yang terjadi dalam masyarakat Jawa selang beberapa abad setalah kedatangan Islam di Jawa.

    Cahaya dan semangat perubahan dari Islam yang dikobarkan oleh generasi awal seperti menghilang tanpa menyisakan seberkas cahaya sedikitpun. Ramadan yang dulu merupakan simbol perubahan besar yang menjadi pancaran semangat justru ketika Islam telah redup hanya menjadi sebuah tradisi usang dipertahankan atas nama tradisi dan pelestarian (Ricklefs. MC, 2012, 204). Pada masa sebelum kolonialisme pada penjelajah dari barat takjub melibat bagaimana sebuah kebudayaan yang jauh dari asal munculnya Islam bisa sangat kuat menunjukan ciri dan semanggat Islam, pada perayaan awal Ramadan di kota-kota pelabuhan pantai utara jawa semangat dengan perayaan dan antusiaasme rakyat menyambutnya, tidak kalah perayaan Syawal dimana raja-raja turun dari singgasana nya bersama rakyat untuk menyarakan Iedul fitri dalam ritual gerebek maulid. Semua raja jawa dari zaman Demak menjadikan Ramadan sebagai unsur simbolik yang penting karena keyakinannya pada Islam. Sultan Agung dari Mataram Islam melakukan sebuah revolusi kalender hindi untuk menyesuaikanya dengan kalender Islam.

    Kemeriahan dan semangat tersebut serta merta berangsung menghilang tenggelam dalam bayang-banyang kolonialisme dan gelapnya kebodohan umat. Bahasa Islam yang dibawa dari masa awal ternyata telah usang. Namun Islam sejatinya tidak pernah usang, sumber cahaya lain meredup maka sumber cahaya yang baru akan kembali bersinar, Islam akan kembali muncul sebagai cahaya baru dalam gerakan pembaruan Islam yang akan disambut dengan perubahan. Ramadan akan kembali dihadirkan oleh para pembaharu sebagai bulan perubahan bulan pembaharuan.

Muhammad Ichsan Budi merupakan Alumni IMM UNY Komsat Sutan Mansur, Anggota Bidang Budaya dan Pariwisata PWPM DIY

Penyunting: aul

   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here