Saling Mengingatkan, Yuk!

0
39

(Sebuah ilustrasi)

Ada seorang laki-laki. Dia adalah orang yang tidak familiar dengan tempat umum.

Pada suatu hari Jumat, untuk kali pertamanya dia datang ke majelis ibadah sholat jumat.

Ia lupa menonaktifkan ponselnya. Tiba-tiba, saat berkhotbah ponselnya berdering. Kemudian sang khotib menyindirnya. Para jamaah menegurnya setelah sholat karena ia telah mengganggu ketentraman di masjid. Sepanjang perjalanan ke rumah, semua orang melihatnya dengan tatapan menghakimi. Ia malu. Sejak itu ia tak pernah datang ke masjid lagi.

Pada suatu malam, kali pertama juga ia datang ke bar. Ia gemetar untuk kali pertama, sehingga tak sengaja ia menumpahkan minumannya di meja. Pelayan bar meminta maaf dan membersihkan meja bar tersebut. Sang manager bar memberikan pelukan dan berkata, “Jangan khawatir, bro. Siapa saja pernah berbuat salah kan?” sejak saat itu ia tak pernah berhenti datang ke bar.


Setiap kita sangat berpeluang, untuk mengajak orang lain melangkah ke arah surga. Sama besar pula peluangnya untuk membuat orang sama sekali tak mengenali surga, sebagaimana tergambar dalam ilustrasi tersebut. Seseorang trauma untuk datang ke masjid, karena cara orang di masjid mengingatkannya tanpa kasih. Bertolak belakang dengan cara manajer bar, yang dengan hangat meyakinkan bahwa berbuat salah adalah kewajaran sehingga membuat lelaki tersebut nyaman berada di bar.

Saling mengingatkan adalah kewajiban seorang muslim. Bukan karena ia da’i, sehingga dia memiliki kewajiban untuk mengingatkan. Mengingatkan adalah kewajiban setiap muslim. Bukankan kata Allah, “Sungguh manusia berada dalam kerugian kecuali yang beramal soleh dan mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran”?. Jadi, sudah seharusnya, siapapun kita mengingatkan kepada orang-orang di sekitar kita. Bagaimana jika orang yang kita tegur tidak mau mendengarkan atau malah selalu mencari-cari alasan? Tenang saja, bagian kita adalah mengingatkan. Hidayah adalah hak penuh Allah mana hamba-Nya yang ingin diberikan-Nya hidayah.

Permasalahan yang terjadi pada ilustrasi di atas adalah tentang bagaimana cara mengingatkan. Dakwah itu mengajak kepada kebaikan, bukan untuk menakut-nakuti. Oleh karena itu, cara menyampaikannya pun hendaknya dengan cara yang baik.  Jika seseorang ingin memberi apel, bagaimana respon penerima jika diberi dengan tangan kiri atau mungkin memberinya dengan dilemparkan? Tentu saja penerima merasa tidak nyaman. Berbeda jika apel tersebut diberikan dengan tangan kanan, langsung ke tangannya dan lagi ditambah dengan senyuman. Ini yang pertama, yakni memahami situasi dan kondisi lingkungan atau orang yang akan menjadi objek dakwah. Oke, Kita semua paham, bahwa lain lubuk lain ikannya, kan? Maka lain pula umpan atau pakan yang diberikan. Begitu pun dalam menyampaikan risalah dakwah. Memahami kondisi mereka adalah keharusan. Tidak mungkin dosis tinggi diberikan kepada orang yang sakit biasa. Bukannya sembuh, malah bisa jadi overdosis.

Apa yang disampaikan dengan hati, akan sampai ke hati pula. Memahami sepenuh hati mengenai orang dan lingkungan yang akan didakwahi, mungkin akan memakan waktu dan tenaga yang ekstra. Tapi percayalah, akan ada hasilnya.

Eits… Jangan melulu mengukur hasil dengan apa yang dilihat mata manusia, bakalan kurang terus. Kita mungkin tidak serta merta melihat hasilnya, tetapi kita akan bisa merasakan efek dari apa yang disampaikan dari hati ke hati.

Kedua, mengingatkan kebaikan dengan cara yang baik. Islam adalah agama rahmah, rahmatan lil ‘alamin. Bukan hanya bagi penganutnya, tetapi juga bagi orang dan makhluk di sekitarnya.

Di dalam Alquran, Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Allah memerintahkan kepada kita untuk mengingatkan dengan hikmah dan pembelajaran yang baik. Mungkin itu alasan mengapa orang bijak berpesan, satu teladan lebih baik daripada seribu nasehat. Cara yang baik akan memperlancar pesan baik yang kita sampaikan. Ibarat marketing sebuah produk, sales akan tampil prima dan memberikan senyum termanis, serta penjelasan yang menarik kepada calon pelanggan. Begitupun dalam mengingatkan tentang kebaikan.

Ketiga, memperhatikan cara menegur dan memperingatkan. Oke, pada kasus dalam ilustrasi di atas, teguran langsung diberikan kepada pemuda di depan umum. Betapa malunya ia, sampai akhirnya ia tak ingin kembali ke masjid. Ya, menasihati orang di depan umum itu bukan malah memperbaiki, justru terkesan menjatuhkan martabatnya.

Kerap kali orang lain tak ingin memperbaiki dirinya, sebab merasa sakit hati terhadap cara mengingatkan, baik situasi penyampaian maupun cara untuk menyampaikan. Jangan sampai, niat kita yang awalnya baik ingin mengingatkan malah menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggalkan jalan kebaikan.

Terakhir, ikhlas. Sekalipun peringatan tentang ikhlas diberikan di ujung paragraf dalam naskah ini, bukan berarti bahwa ikhlas merupakan pilihan terakhir yang ditempuh seseorang. Ikhlas ini harus dimulai sejak awal diniatkan. Ikhlas sangat penting dalam setiap perbuatan. Mengingatkan dengan ikhlas, akan mengantarkan kita pada kesantunan dalam menyampaikan. Selain itu, ikhlas juga menentramkan hati. Misalnya, apabila ternyata peringatan kita tidak mendapat respon positif dari yang lain, dengan ikhlas suasana hati kita takkan terpengaruh. Ingatlah, kewajiban kita adalah mengingatkan. Siapapun jabatan kita, status kita dalam masyarakat, kita wajib mengingatkan.

Mari kita bersama saling koreksi tentang bagaimana cara mengingatkan. Jangan sampai, tujuan baik yang kita lakukan dengan cara yang kurang tepat membawa orang lain semakin jauh dari kebaikan.

Penulis adalah Immawati Fatkhurohmah, sekretaris bidang media IMM BSKM 2018-2019.

 

Penyunting: Nad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here