Sambut Lebaran, Mari Jaga Lisan

0
41

Lebaran menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh kaum muslim. Lebaran merupakan hari dimana umat muslim merayakan kemenangannya. Mulai dari anak-anak sampai dewasa menunggu kedatangannya. Euforia lebaran kini bahkan bisa dirasakan ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Tidak sedikit orang yang sudah bersiap-siap jauh-jauh hari dengan membeli ‘yang serba baru’.

Ya, inilah realitanya, kini euforia lebaran tidak jauh-jauh dari baju, kue lebaran, sirup, dan uang THR. Bagi sebagian anak kecil, momen lebaran ini ditunggu-tunggu karena pada momen inilah anak-anak bisa mendapatkan uang saku tambahan dari sanak saudaranya. Di moment lebaran ini pula bisa menjadi momen untuk berkumpul keluarga. Keluarga besar terutama, bagi yang merantau di berbagai kota, mereka akan pulang dan berkumpul di momen ini.

Akan tetapi, ada sebagian orang yang justru merasa resah dengan momen ini, karena apa? Karena di momen berkumpulnya semua keluarga ini, pasti akan muncul berbagai pertanyaan, dan pertanyaan yang paling populer di momen ini adalah pertanyaan “kapan”. Bagi sebagian orang pertanyaan ini tidaklah menyeramkan, akan tetapi bagi sebagian orang lagi pertanyaan tersebut sangat menakutkan. Dan, pertanyaan kapan ini tidak akan pernah ada habisnya mulai dari “kapan lulus?” “Kapan menikah?” “Kapan mengenalkan calonnya ke kita?” “Kapan hamil?” “Kapan anaknya di sekolahkan?” Dan pertanyaan kapan yang lainnya. Mulai dari pertanyaan kapan yang memang benar-benar peduli, ataupun pertanyaan kapan yang hanya sekedar basa basi.

Bagaimanapun juga, proses komunikasi ini memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Proses komunikasi ini sendiri merupakan proses dinamus di mana orang berusaha untuk berinteraksi internal dengan orang lain melalui penggunaan simbol. Simbol yang dimaksud di sini adalah kalimat atau kata. Nah, di dalam proses komunikasi inilah terdapat suatu proses ‘penghantaran’ makna. Akan tetapi, penyampaian makna ini bisa jadi tidak berhasil jika makna yang diharapkan oleh penutur tidak sama dengan makna yang diterima oleh lawan tuturnya. Inilah yang kemudian akan menimbulkan masalah. Dimana si lawan tutur bisa jadi tidak suka ataupun tersinggung oleh si penutur.

Oleh karena itu, dimomen lebaran kali ini, marilah kita berlatih untuk menjaga lisan kita. Jangan sampai puasa kita selama di bulan ramadhan rusak maknanya hanya karna kita tidak sengaja menyakiti hati orang lain. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

 

Allah juga berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat: 70-7 yang berbunyi,“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]

Dalam surat Qaf ayat 16-18 dijelaskan bahwa ada dua malaikat yang selalu mengawasi kita, bahkan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut kita yang terlepas dari pengawasan malaikat. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf : 16-18]

Marilah kita selalu berusaha untuk menjaga lisan kita dengan berkata yang baik. Melihat pula lawan berbicara kita ketika hendak memilih topik pembicaraan. Jika kiranya ragu-ragu dengan topik yang akan kamu bicarakan, lebih baik kamu memilih topik pembicaraan yang lain. Berkomunikasi adalah kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Akan tetapi, marilah kita belajar menjadi makluk sosial yang santun dalam berkomunikasi dan pandai memilih topik diskusi. Jadikan lebaran kali ini menjadi momen yang benar-benar menjadikan kita suci kembali. Jadilah pemenang di lebaran kali ini dengan menjaga lisan kita.

Penulis yang keren ini sering kita sapa dengan sapaan kak Remy. Kak Remy merupakan kader berkemajuan nih dari BSKM pada masanya hehe~

Penyunting: Mey

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here