Sebuah Komitmen dan Keistimewaan Pemuda Islam

0
27

Lainsyakartum laaziidannakum walainkarfartum inna ‘adzaabii lasyadid”

“jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih” (QS 14:7).

 

Dalam Islam, seorang pemuda memiliki peranan penting dalam mengetahui, mempelajari dan mengamalkan ilmu agama Islam. Namun seiring berjalannya waktu, pemuda-pemuda tersebut semakin meluntur, hingga waktu yang mereka gunakan di usia muda sangatlah percuma, padahal setiap kali selalu pemuda yang menjadi sorotan bagi bangsa dan umat di masa kini. Renungkanlah sejenak wahai pemuda pemudi Islam, apakah usia mudamu sudah engkau manfaatkan dengan sebaik mungkin?

Mengapa seorang pemuda menjadi sorotan paling penting dalam Islam? Hal tersebut dikarenakan seorang pemuda sangatlah istimewa. Allah memberikan keistimewaan yang begitu besar kepada para pemuda yakni usia, kesempatan belajar, energi, dan idealisme. Tak hanya itu, Allah SWT juga memberikan kekuatan intelektual, ingatan, dan analisa yang tajam. Tak heran jika pada usia muda kita sering sekali jatuh atau gagal namun begitu cepat untuk bangkit kembali. Dalam ceramahnya, ustad Fatan Fantastik menyatakan bahwa ada tiga fase perkembangan hidup manusia, yaitu :

  1. Lemah : terdapat pada masa kanak-kanak yang pada saat itu kita tidak dapat memahami secara matang tentang diri kita
  2. Kuat : masa remaja hingga dewasa, dimana pada masa ini kita dituntut untuk mengenal diri sendiri, berkomitmen dalam tujuan hidup (pencarian identitas)
  3. Lemah : masa tua, kita akan kembali menjadi lemah seperti halnya dengan masa kanak-kanak

Sedikit cerita tentang dua tokoh psikologi yang terkenal yaitu Sigmund Freud dan G. Stanley Hall, dua tokoh tersebut  memiliki teori yang berbeda dan saling bertentangan. Dalam teorinya, Freud menyatakan bahwa sebagian besar perilaku manusia ditentukan oleh alam bawah sadar,  sedangkan Hall dengan teorinya tentang perkembangan. Dalam suatu pertemuan dengan Freud, Hall mengatkan bahwa “every young people is normal to naughty,” setiap anak muda itu normal untuk nakal dan setiap anak muda akan melewati fase storm and stress. Hall menyebutkan bahwa anak muda itu harus galau, harus mengalam masa tekanan, anak muda tidak  boleh langsung beres, anak muda harus memiliki komiten yang kuat dalam hidupannya. Dalam teori Hall tersebut tentunya sangat menarik, pasti kita sebagai anak muda pernah merasakan masa-masa tersebut dan pastinya kita menyetujui teori dari Hall tersebut. Namun apakah teori tersebut benar dalam paradigma Islam? Tidak semua tokoh psikologi pada masa itu percaya akan teori yang ditemukan oleh Hall. Salah seorang sosiolog menyangkal teori tersebut dengan mengatakan bahwa: “tidak, pemuda tidak harus berkomitmen terhadap hidupnya.” Ada anak-anak yang bermasalah dan ada pula yang tidak bermasalah dalam hal komitmen atau langsung beres dalam melewati masa mudanya (dalam buku : Human Research Management and Adolescent).

Melalui sedikit paparan tersebut kita mengetahui bahwa banyak sekali teori-teori yang ada dalam kehidupan ini, namun apakah semua teori-teori tersebut benar adanya dan apakah sesuai dengan Islam? Dalam hal ini tentunya kita tidak membenarkan atau menyalahkan adanya teori tersebut. Namun, sebuah teori yang patut kita jadikan pedoman adalah teori yang sesuai dan terdapat pada Al-Quranul Karim. Al-Quran memiliki pandangan yang berbeda mengenai pemuda Islam. Dalam kisah ashabul kahfi, dikatakan bahwa “seorang pemuda itu adalah yang kokoh (teguh).” Ditafsirkan pula bahwa pemuda yang kokoh adalah pemuda yang berkomitmen. Dalam QS Al-Kahfi ayat 13 yang artinya “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”.

Dari arti surat Al-Kahfi tersebut, kita mengetahui bahwa seorang pemuda harus memiliki komitmen yang kokoh/teguh. Lalu komitmen apa yang harus diteguhkan oleh seorang pemuda? Yang pertama adalah berkomitmenlah dalam iman, yang kedua berkomitmenlah dalam masa depan, dan yang terakhir berkomitmenlah dalam hubungan atau relasi (pertemanan). Dalam QS Al-Kahfi, sangat jelas dikatakan tentang  “pemuda-pemuda yang beriman kepada Allah”. Dari sini, komitmen akan iman menjadi kunci utama dalam kehidupan. Apabila kita telah memiliki komitmen yang kokoh yang teguh terhadap iman kita, Insya Allah, Allah akan memudahkan jalan dalam menggapai komitmen selanjutnya. Terakhir, melalui tulisan ini saya mengajak para pemuda dan pemudi Islam zaman modern ini untuk kembali meneguhkan iman kita kepada-Nya, merefleksikan diri apakah iman kita selama ini sudah baik dan benar. Marilah kawan-kawan, khususnya pada bulan yang mulia ini—bulan ramadhan, perbanyaklah iman kita kepada Allah. Lakukanlah hal-hal yang bermanfaat, perbanyak membaca Alquran, beramal, menebar kebaikan, dan jangan pernah berhenti untuk terus menggali ilmu-ilmu agama.

 

Penulis bernama Risma Kumala Dewi yang merupakan mahasiswa Jurusan Psikologi UNY angkatan 2017, kini ia menjabat sebagai sekretaris bidang RPK IMM ABAD UNY 2018/2019. Bisa bersapa juga lho sama kak rizma ini lewat akun IGnya @riizma.k.d.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here