Siyono dan Mahasiswa : Menuntut Keadilan kepada Negara

0
214

Oleh : Putranto Argi Noviantoko

Sekretaris Bidang Kader IMM Ibnu Khaldun UGM 2015-2016

          Tragedi yang menimpa Siyono yang ditangkap oleh Densus 88 pada Rabu (09/03/2016) saat berzikir di Masjid dan kembali dengan kondisi yang sudah meninggal pada Jumat (11/03/2016) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah telah menyisakan berbagai kecurigaan dan kepedihan yang mendalam terhadap keluarga yang ditinggalkan oleh almarhum, yaitu seorang istri dan kelima anaknya yang sangat dicintai oleh beliau. Kasus tersebut hanya satu dari ratusan kasus yang lainnya akibat sepak terjang Densus 88 yang terjadi di Indonesia. Total kasus penangkapan “ Terduga Teroris” oleh Densus 88 selama ini sangat banyak. Terbukti dengan adanya 120 orang meninggal akibat penangkapan Densus 88. Banyak diantara mereka hanya tinggal nama saja (Meninggal Dalam Proses) paska penangkapan oleh Densus 88 dan juga adanya korban salah tangkap.

nasional-soal-kematian-siyono-muhammadiyah-opini-polri-tidak-ilmiah-dan-tanpa-dasar-hukum-1269-l

          Kebencian Densus terhadap umat Islam sangat begitu jelas nyata dengan berbagai gerak tanduknya selama ini seperti penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap ratusan orang ” Terduga Teroris” tanpa adanya sistem pengadilan dan sebagainya. Seharusnya pemerintah negara adalah sarana untuk memberikan rasa kepastian hukum bagi semua golongan masyarakat baik miskin, kaya, lemah, maupun orang kuat untuk dapat hidup dan berkembang mencari penghidupan di muka bumi yang telah diciptakan dan disediakan oleh Allah untuk semua umat manusia. Sedangkan dalam agama membunuh umat Islam yang tidak berdosa akan menggung dosa yang sangat besar. Nyawa di dalam kehidupan manusia adalah Allah yang mengaturnya. Tidak berhak siapapun yang membunuh tanpa alasan yang dibenarkan dalam agama. Dalam proses hukuman mati ada sebab yang harus dipenuhi sesuai agama sebagai contoh memberikan hukuman mati/meng-Qhisas orang terhadap tersangka pembunuhan yang tidak dimaafkan oleh keluarga korban. Yang harus melalui proses pengadilan yang panjang. Sedangkan densus 88 sering tidak melihat proses tersebut. Tugas mereka seperti malaikat maut yang sangat ngawur dalam membunuh korbannya. Banyak diantaranya yang salah tangkap korban dengan berbagai penyiksaan yang menimbulkan bekas-bekas luka dan cidera oleh petugas densus 88. Itulah tindakan yang sangat biadad oleh densus 88 sejak tahun 2004 sampai sekarang.

densus 88

  • Siapa Densus 88 ?

          Densus 88 (Detasemen Khusus 88) adalah tim khusus yang dibentuk oleh Kepolisian Republik Indonesia pada tahun 2004 dengan Skep Kapolri No.30/VI/2003 pada tanggal 20 Juni 2003 untuk melaksanakan Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tentang penerapan perpu No.1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Metode penangkapan Densus 88 (Anti Terrorism Act (UU anti teroris dunia)/ATA/Ei Ti Ekt) yaitu dengan bukti dari laporan intelejen manapun selama 7 X 24 jam. Kemudian ditindaklanjuti dengan penangkapan dan introgasi. Pasukan ini dibiayai oleh Amerika Serikat dan sering melakukan latihan bersama dengan berbagai negara seperti Australia dan Amerika Serikat. Densus 88 adalah devisi khusus satuan polisi yang bekerja dengan berbagai taktik dan manuver untuk melawan kekuatan yang berpotensi menjadi terorisme. Densus dapat pelatihan bertempur seperti menjinakan bom, pengebrekan, intelejen, dan lain sebagainya. Jumlah anggota Densus 88 saat ini diperkirakan 400 orang dengan biaya anggaran sebesar Rp 1,9 Triliun.

          Terorisme sendiri menjadi sebuah Ideologi kekerasan yang sangat berbahaya. Berasal dari kata “Teror” yang berarti memberi rasa takut terhadap korban atau lawan politik untuk merubah kebijakan seperti di pemerintahan suatu negara. Sebagai contoh kasus pengeboman kedutaan besar Inggris di tanah mandat palestina oleh Yahudi sebagai proses untuk memperkuat posisi dalam membentuk negara Israel serta menghilangkan dominasi Britania Raya. Kemudian pembantaian dan teror terhadap warga asli Arab Filistine oleh warga Yahudi pendatang agar meninggalkan rumah halaman mereka. Kemudian agresi militer Belanda I dan II yang telah memakan korban rakyat dan pejuang kemerdekaan hingga ratusan ribu jiwa yang bertujuan menebarkan teror agar Indonesia gagal dari pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan bangsa. Kemudian adanya teror terhadap pemerintahan Afganistan, Indonesia, dan berbagai negara oleh gerakan Komunisme. Kemudian pembantaian ratusan umat Islam Poso dan ribuan umat Islam Ambon oleh milisi Kristen agar umat Islam habis dan lemah dalam kancah sosial dan politik pada akhir tahun 90-an. Kasus Bom Bali I dan II, dan berbagai pengeboman oleh kelompok Islam Neo-Kawarijd (kasus WTC). Dan berbagai aksi brutal lainnya berdasarkan kepentingan semata. Kasus-kasus tersebut hanya menyisakan segudang cerita berdarah yang bernama terorisme.

          Namun sangat salah sekali jika terorisme hanya ditujukan oleh kaum muslim dengan ciri-ciri di media massa yaitu yang rajin solat, berjenggot, dan celana cingkrang, Naudubillah. Negara Indonesia yang menjujung “Katanya” persamaan dan keadilan telah tercoreng dengan berbagai ketidakadilan terhadap umat Islam. Umat Islam radikal adalah aliran yang telah muncul terutama jaman sahabat Nabi yang telah membunuh Khalifah Ustman Bin Affan dan Ali Bin Abu Thalib. Kelompok tersebut disebut Kawarijd (keluar/muncul/makar) yaitu kelompok Islam yang mengunakan hawa nafsu dalam manafsirkan Agama Islam. Namun apakah benar jika umat Islam yang terduga adalah kelompok tersebut ?? seharusnya aparat membuka lembar hukum yang berlaku dengan baik dan benar agar tidak menyebabkan kebencian yang mendalam oleh masyarakat yang secara khususnya kaum Muslimin (Kecuali Munafik). Seperti penangkapan yang adil sebagaimana mestinya. Seperti masuk dalam pengadilan, masuk dalam media massa, masuk berita acara penyelidikan, dan lainnya.

          Jangan sampai penangkapan Siyono adalah teror yang mentasnamakan anti teror yang semena-mena. Perlunya penyelidikan yang mendalam terhadap terduga. Dan yang menjadi semakin tragis adalah uang tutup mulut yang diberikan kepada istri Siyono sebagai santunan tanpa adanya pertanggungjawaban moral dan hukum kepada keluarga.  Siyono selama ini adalah guru mengaji dan takmir masjid di kampungnya. Jika memang Siyono adalah tokoh makar, harus dapat dibuktikan dengan berbagai proses terutama dalam pengadilan. Akhir jaman adalah jaman yang penuh makar, fitnah, dan konspirasi yang menghiasi kehidupan umat manusia.

cara-atma-jaya-dongkrak-inovasi-mahasiswa-FJ9FZDtupH

  •  Mahasiswa dan Siyono

          Mahasiswa Muslim yang insyaallah selalu dilindungi oleh Allah tuhan semesta alam dari rasa takut dan malas, serta dari pemikiran sesat (liberal dan pluralis), ideologi Kwarijd, dan munafik semoga selalu berjuangan demi keadilan terhadap berbagai kasus kemanusian yang telah terjadi di Indonesia seperti kasus Munir, Udin, dan tentu saja Siyono. Sebagai Mahasiswa aktivis dakwah, aktivis sosial baik di masyarakat dan kampus harus selalu merapatkan barisan (KMNU, IMM, HMI, MPI, GEMA PEMBEBASAN, PMII dan lainnya) untuk selalu memberikan solusi bagi permasalah negara dalam berbagai aspek termasuk tragedi yang menimpa Siyono. Perbedaan Mazhab, Aliran, dan Kepentingan jangan untuk menjadi pembeda yang sangat tajam. Karena perbedaan adalah rahmat bersama untuk menjadi kekuatan langkah yang pasti dan benar. Mahasiswa sebagai kekuatan pengerak yang masih idealis diharapkan akan selalu berjuang dalam advokasi keadilan keluarga Siyono. Bukan hanya Muhammadiyah dan Komnas HAM saja yang berjuang, namun diharapkan dari berbagai elemen termasuk masyarakat dan mahasiswa untuk ikut terjun dalam perjuangan advokasi dan perlindungan sahabat-sahabat dakwah dari ancaman Densus 88 yang setiap saat mengintai.

(Umat Islam adalah saudara satu sama lainnya, rapatkan barisan untuk memperjuangkan keadilan demi kebahagian di dunia dan akhirat, Aamiin)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here