Ada yang mengatakan, racun dunia berpenawarkan zuhud, racun harta berpenawarkan zakat, racun berbicara berpenawarkan dzikir, racun umur berpenawarkan taat, dan racun seluruh tahun adalah bulan ramadhan. Tak disangkal memang, sebab di bulan inilah orang-orang menjadi lebih giat berbagi, masjid-masjid ramai dengan rombongan jamaah, doa-doa berkali-kali lipat lebih banyak dipanjatkan, ayat-ayat suci Al-Quran riuh menggema, takjil gratis menjamur dimana-dimana, banyak mubaligh bertebaran sampai ke pelosok-pelosok, masjid, musala, mau pun desa-desa disulap dengan lampu kerlap-kerlip, gapura-gapura, dan ornamen ramadhan lainnya. bahkan bulan ramadhan barangkali adalah bulannya silaturahim selain bulan syawal, sebab bulan ini pasti erat dengan istilah bukber. Mulai dari bukber TK sampai tempat kerja, mulai dari bukber teman sejawat sampai bukber keluarga besar, mulai dari bukber organisasi sampai bukber alumni organisasinya. Cukup melenyapkan uang memang.
Euforia ramadhan memang unik, mendarah daging dan dapat meyentuh tiap hati. Salah satunya tampak dari emak-emak yang begitu antusias mendatangi masjid atau musala, dengan atribut lengkap, menenteng sajadah mereka masing-masing. Hal ini sangat baik, tetapi di titik ini pula terdapat masalah yang kerap kali terjadi di masyarakat. Masalahnya sederhana, yaitu shaf salat. Lantas apa hubungannya? Bukankah sajadah itu alas salat, sedangkan shaf terkait rapatnya barisan salat? Jelas ada relevansinya. Di beberapa tempat, dimana sajadah dihampar, disitu pula ia berdiri. Bukannya egois, tetapi kadang orang memiliki mindset demikian. Sedangkan sajadah sendiri ada yang memiliki bentangan besar. Hal ini cukup membuat barisan bolong-bolong.
Merapatkandan meluruskan shaf salat bukan hal sepele, Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 723 dan Muslim, no. 433]. Selain itu Dari Anas bahwa Nabi shalAllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rapatkanlah shaf-shaf kamu, dekatkanlah antara shaf-shaf, sejajarkanlah leher-leher. Demi (Allâh) Yang jiwa Muhammad di tanganNya, sesungguhnya aku melihat setan-setan masuk dari sela-sela shaf seolah-olah seekor anak kambing”. [HR. An-Nasâi, no. 815; Abu Dawud, no. 667. Di dalam Al-Quran surat Ash-Shaff ayat 4 termaktub bahwa, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Anas bin Malik menjelaskan cara meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjamaah pada masa kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , ia mengatakan, “Pada waktu itu masing-masing di antara kami merekatkan bahunya dengan bahu saudaranya, dan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya.” (Riwayat Al-Bukhari).
Merapatkan dan meluruskan shaf merupakan salah satu dari tegaknya salat. Setiap umat Islam baik yang muda mau pun tua wajib bin wajib untuk merapatkan dan meluruskannya. Dengan membiasakannya dapat tumbuh sikap kerapian, keindahan, dan kedisiplinan serta dapat mengokohkan persaudaraan. Shaf yang rapat dan lurus itu keren, estetik dan menarik. Maka siapa pun kita, mari ingatkan dan ajak orang-orang di sekitar untuk merapatkan dan meluruskan shaf. Jadikan ramadhan ini makin baik dengan tegaknya salat yang sempurna.

Lu’lu-u Azizah Akma merupakan kader IMM PK Baitar UGM, Fakultas Kehutanan UGM bisa disapa di IG @arinirivanda 🙃

Penyunting :Mey

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here