Tempat Kembali

0
30

Tulisan ini dibuat diatas jalan tol Jokowi. Diantara lesatan roda-roda yang menggilas kerasnya beton. Didalamnya melaju orang-orang yang rindu rumahnya.

Hari-hari terakhir Ramadhan adalah hari-hari kepulangan. Hari dimana semua orang berpencar menuju tempat ia kembali. Semua ingin pulang.

Pulang adalah salah satu proses perpindahan. Ia mengembalikan manusia ke tempat asalnya. Ia mempertemukan mereka yang terpisah sekaligus mendekatkan yang menjauh.

Ada banyak alasan untuk pulang. Bagiku, pulang adalah alasan untuk kembali menemui masyarakat dan kebudayaannya. Jika kembali pulang ke tempat kelahiran di Pemalang, aku akan menemukan orang beramai-ramai tamasya ke pantai. Satu rombongan keluarga besar menghabiskan hari raya di pinggir pantai. Bersendau gurau dengan sesama ditemani kelapa muda dan laut Jawa yang tenang.

Jika kembali ke tanah asal di Kaliwungu, akan kutemui pemuda-pemudi berkeliling kampung. Layaknya takbiran, mereka akan mengumandangkannya disertai gedubrak drum dan anak-anak yang berjoget dalam balutan barong. Itulah barongan. Tradisi tanah Jawa dimana anak-anak bangga menjadi barong, menunjukkan siapa yang paling garang dan paling oke kostumnya, walau kita tahu sama-sama membeli di pasar yang sama, tapi tak mengapa.

Tradisi di kampung saya tinggal? Sederhana. Sebagai masyarakat sub urban yang tinggal di perumahan, tradisi khataman Qur’an menjadi wajib hukumnya bagi para jamaah. Uniknya, khataman tersebut dilakukan 1-2 hari sebelum lebaran tiba sehingga muncul kelakar diantara anak-anak, khataman adalah penanda hari raya telah tiba. Bukan, bukan bermaksud menyaingi pemerintah dalam menetapkan kapan hari raya tiba, hanya saja warga kebelet mudik sehingga khataman dipercepat.

Begitulah. Ada banyak alasan yang mendorong masing-masing kita untuk pulang. Mau bagaimana pun, kita akan selalu pulang.

Lalu apa arti pulang? Pulang itu, mengutip teman saya dengan sedikit penambahan, adalah ketika rindu sebuah rumah sebab kita yang pernah tinggal didalamnya.

Ditulis oleh Immawan Sholahudin Al Ayubi, ketua Pimpinan Komisariat Ibnu Khaldun periode 2018-2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here