Unta yang Kembali

0
128

 

Untuk memulai tulisan ini, mari kita kembali ke 1400 tahun lalu, tatkala Fudhail bin Iyadh—sang perampok yang perkasa asal Arab—bertaubat ketika mendengar lantunan ayat suci Alquran. Dikisahkan pada suatu malam dia pergi untuk merampok. Tak berapa lama ia pun bertemu dengan rombongan kafilah. Sebagian anggota kafilah itu berkata kepada yang lain, “Jangan masuk ke desa itu, karena di depan kita terdapat seorang perampok yang bernama Fudhail.”

Fudhail yang mendengar percakapan anggota kafilah itu ternyata gemetar, dia tidak mengira bahwa orang-orang sampai setakut itu terhadap gangguan darinya, ia merasa betapa dirinya ini memberi mudharat dan bahaya bagi orang lain. Fudhail pun berkata, “Wahai kafilah, akulah Fudhail, lewatlah kalian. Demi Allah, aku berjanji (berusaha) tidak lagi bermaksiat kepada Allah selama-lamanya.” Sejak saat itu Fudhail meninggalkan dunia hitam yang telah ia geluti itu. Dikisahkan dari jalur riwayat yang lain, ada tambahan kisah bahwa Fudhail menerima kafilah tersebut sebagai tamunya pada malam itu. Dia berkata, “Kalian aman dari Fudhail.” Lalu Fudhail mencari makanan untuk ternak mereka. Manakala dia pulang, dia mendengar seseorang membaca ayat,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Dalam buku “Open Your Heart, Follow Your Prophet” Arif Rahman Lubis (2015) menuliskan kisah Fudhail bin Iyadh tersebut di awal halamannya, tatkala selesai mendengar bacaan itu, Fudhail bin Iyadh menangisi dirinya sendiri sembari menjawab (ayat tersebut) dengan ucapan “Benar, telah tiba waktunya”. Sejak saat itulah, Fudhail bin Iyadh bertaubat, pedangnya bukan lagi sebagai alat untuk menyandera orang-orang yang tak bersalah, ia menjadi pembela agama yang dikenal akan ketakutannya kepada Allah swt.

Betapa gembiranya Allah tatkala mendengar jawaban Fudhail bin Iyadh dan orang-orang lainnya yang menemui waktu tibanya bertaubat, kegembiraan Allah tergambar dalam salah satu hadits Muslim sebagai berikut.

Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR.Muslim no. 2747).

Unta yang kembali adalah konotasi yang memiliki arti bahwa, unta sebagai teman dalam perjalanan, juga menjadi penopang perbekalan perjalanan kita yang jauh. Membayangkan kehilangan unta di tengah padang pasir yang gersang dan kosong merupakan kemungkinan terburuk yang mungkin saja bisa kita alami saat kita lengah menjaga unta tersebut. Dan membayangkannya kembali kepada kita untuk menemani perjalanan kita yang masih panjang adalah utopia yang mengharukan. Banyak pesan menarik di balik kisah Fudhail bin Iyadh dan unta yang kembali di atas salah satunya ialah tatkala seorang yang terbiasa melakukan perbuatan dosa, maka hatinya akan menghitam sehingga sulit menerima hidayah. Namun terkadang, ada sedikit celah di hatinya yang belum tertutup dengan gelapnya maksiat. Apabila ia gunakan bagian kecil ini untuk merenungkan dan mengingat kekuasaan Allah, maka Allah akan bersihkan hatinya dari noda-noda hitam dosa kemaksiatan. Sebaliknya, apabila ia tetap menuruti hawa nafsunya, maka hati tersebut semakin menghitam dan lama-kelamaan akan mati dan tidak menerima hidayah. Fudhail bin Iyadh menemui hidayahnya saat ia menggunakan celah dari dirinya untuk merenung sejenak tentang perbuatannya. Dan, pertanyaannya, apakah celah itu sudah kita pergunakan? Dan apakah waktu tiba taubatmu kini saat Ramadan?

Jemputlah untamu yang kini menunggumu di Ramadan. Waktu Ramadan adalah waktu kita untuk mendatangi unta yang kembali kepada kita. Ramadan—selain menjadi momentum yang sangat tepat untuk menjemput unta—juga merupakan bulan yang tepat sembari bersemangat kembali untuk menjadi hamba yang terus bertaubat. Sebelum Ramadan pergi, bersama unta yang tak akan kembali lagi, jemputlah kebaikannya dengan amalan-amalan terbaik. Bukan hanya kita yang bergembira saat mendapati unta kita yang kembali, Allah pun bergembira, manakala melihat kita yang kembali dalam perantauan dunia nan fana.

Wallahu’alam bishawwab.

Ulul Azmi, sekarang menjabat sebagai Sekbid Hikmah PK IMM Ahmad Badawi 2019. Aktif juga di BEM UNY. Bisa disapa melalui IMM Ahmad Badawi

Penyunting : Nad

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here