Zakat, Bangun Umat, Bangun Bangsa

0
79

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, yang menciptakan kita semua dalam sistem yang sangat teratur. Allah subhanahu wa ta’ala, yang memberikan kita semua nikmat yang tiada habisnya jika kita hitung-hitung meski ditulis dengan seluruh pepohonan yang ada di Bumi menjadi kertas dan pena dan seluruh lautan menjadi tintanya. Selanjutnya semoga sholawat serta salam selalu tercurahkan dari lisan kita untuk junjungan kita, suri tauladan kita, manusia yang ajaranya kini menjadi dasar pergerakan kita, baginda Nabi Agung Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir zaman, hingga kelak kita mendapat syafa’atnya di hari kiamat kelak, allahumma aamiin.

Turunnya syariat Islam ke dunia ini tiada lain menginginkan suatu keharmonisan bagi seluruh alam. Harmonis dalam artian tidak saling mengganggu satu sama lain, dengan apa? Tidak lain dengan menjalankan segala sesuatu sesuai dengan fitrahnya. Kita difitrahkan untuk menjadi makhluk yang hidup saling membutuhkan antar individu atau makhluk sosial pun telah diatur sedemikian rupa oleh Allah, pencipta kita melalui syariat Islam. Banyak dari diskursus-diskursus dalam ilmu fiqh yang membahas aturan-aturan mengenai hidup manusia sebagai makhluk sosial, sering kita sebut dengan bab muammalah. Bahkan dapat dikatakan pembahasan etika dan hukum muammalah ini lebih banyak daripada pembahasan mengenai etika dan hukum kita dalam berinteraksi dengan tuhan kita, Allah subhanahu wa ta’ala. Dikarenakan memang berinteraksi dengan sesama manusia yang memiliki sifat, budaya, dan pemikiran yang berbeda-beda lebih sulit dan riskan untuk bersinggungan dibanding interaksi kita dengan Allah yang satu dalam ibadah-ibadah kita. Dalam suatu suatu hadits bahkan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “tidak sempurna iman seseorang yang belum bisa mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”, dan banyak hadits pula yang senada dengan ini. Begitu mulianya Islam, yang menjunjung tinggi fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Kita harus berbangga dan bersyukur atas nikmat Islam ini, dengan menjalankan syariatnya secara ikhlas dan kaffah. Namun terdapat pula ibadah-ibadah yang memiliki dua dimensi habluminallah dan habluminannas sekaligus.

Salah satunya adalah zakat, syariat Allah yang memiliki fungsi dua dimensi, dua dimensi. Dikatakan demikian karena zakat menjadi rukun Islam yang ke 4 dalam periwayatan yang masyhur. Selain itu perintah zakat juga seringkali berdampingan dengan perintah sholat, maka dapat kita artikan zakat memiliki dimensi ibadah yang tinggi. Selain memiliki dimensi ibadah, zakat pula memiliki dimensi sosial atau habluminannas yakni jika kita lihat dari sudut pandang kebermanfaatan zakat, yang nanti kita akan bahas.

Zakat secara sederhana dapat dipahami sebagai pengambilan sebagian harta dengan ketentuan tertentu untuk diberikan kepada golongan masyarakat tertentu. Yang kemudian kita mengenal jenis harta yang wajib dizakati, nishab atau ketentuan jumlah harta, dan haul atau waktu batas zakat menjadi wajib. Jenis-jenis zakat pula ada berbagai macam, seperti zakat fitrah, mal, profesi, perhiasan, ternak, dll setiap jenis memiliki ketententuanya masing-masing.

Sifat zakat yang wajib ditunaikan bagi muslimin yang sudah mencapai ketentuanya membuat zakat menjadi sebuah kekuatan dana yang cukup besar. Dilaporkan baznas bahwa potensi zakat di Indonesia mencapai 271 triliun rupiah. Angka ini sangat besar dan bisa menjadi sebuah kekuatan yang besar pula apabila dikelola dengan baik. Pengelolaan zakat di Indonesia mengalami tarik ulur sepanjang sejarahnya, mulai dari dikelola pemerintah penuh hingga saat ini dikelola lembaga-lembaga dari LSM dan ada yang dari pemerintah. Namun sebenarnya tantangan zakat ini bukan tentang siapa yang mengelolanya, namun bagaimana ia dikelola. Selama ini banyak dari lembaga pengurus zakat menyalurkan zakatnya kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) dalam bentuk charity atau bantuan langsung. Bantuan langsung ini biasaya digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan habis pada waktu yang akan datang, dan potensi zakat yang besar kurang tergunakan dengan baik. Menjadi tantangan bagi kita semua untuk mengembangkan sistem tata kelola zakat yang benar-benar mampu menggunakan potensi zakat ini untuk mengangkat derajat mustahiq menjadi muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat). Dapat kita contoh yang diceritakan Suparjan dalam artikel jurnal yang berjudul “Jaminan Sosial Berbasis Komunitas : Respon Atas Kegagalan Negara dalam Penyediaan Jaminan Kesejahteraan” dimana sebuah lembaga pengelola zakat tingkat desa mampu mengelola zakat dan uang umat lainya menjadi jaminan sosial yang manfaatnya bukan hanya ntuk beberapa saat namun berkelanjutan.

Penulis membayangkan
apabila zakat dapat dipahami dan ditunaikan setiap muslimin, dikelola secara baik dan tidak bersifat bantuan sesaat. Bukan tidak mungkin umat Islam dapat merasakan kesejahteraan yang merata,
mari dari Indonesia mulai lagi untuk merenungi potensi zakat ini bukan hanya sebagai ibadah kita, namun lebih luas lagi sebagai cara kita meninggikan derajat umat. Semoga yang sedikit ini dapat membawa manfaat. Allahu a’lam bisshowwab***

Refrensi
Suparjan.2010. Jaminan Sosial Berbasis Komunitas : Respon Atas Kegagalan Negara dalam Penyediaan Jaminan Kesejahteraan. Dalam Jurnal Sosial Politik vol 13. No 3.

Baznas.go.id
Bisnis.tempo.co/read/880413/baznas-sebut-potensi-zakat-nasional-rp-271-triliun diakses pada 15/05/2019 10:55 WIB

Sulchan Fathoni,merupakan Kabid Riset Pengembangan Keilmuan PK IMM Ibnu Khaldun UGM periode 2018-2019

Penyunting : Mey

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here