Agama-Religion-Diin

0
47

Dinta Dwi Agung Wijaya (Kabid RPK PC IMM BSKM 2020)

Bahasa tumbuh dan berkembang seiring dengan sejarah panjang umat manusia. Setiap bahasa di dunia memiliki akar yang terkait satu sama lain. Setiap kata dalam suatu bahasa memiliki konsep tersendiri yang tidak bisa lepas dari karakter bahasa tersebut. Singkatnya, setiap bahasa itu unik.

Tapi, bukankah dalam sejarah panjang kita juga, terjadi interaksi antar bahasa? Dan karenanya terjadi saling tukar karakteristik Bahasa tersebut? Dan salah satu kata yang mengalami interaksi itu adalah, ‘agama’.

Masyarakat kita sangat akrab dengan kata ‘agama’, dan pemerintah Indonesia sendiri hanya mengakui 6 agama; Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Tapi, apakah agama itu?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan agama sebagai ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya’. Kata agama sendiri berasal dari Bahasa Sanskerta, āgama (आगम), yang memiliki arti ‘tradisi; kitab suci’. Sedangkan untuk konsep disandingkan dengan bahasa Inggris ‘religion’, dari Anglo-French ‘religiun’, yang berakar langsung pada bahasa Latin ‘religionem’, berarti ‘rasa hormat pada sesuatu yang disucikan, rasa hormat kepada Tuhan, kesadaran, kemampuan mengindra kebenaran, …, kesucian’. Sedangkan dalam Oxford Dictionary kata religion didefinisikan sebagai ‘A state of life bound by religious vows; the condition of belonging to a religious order’ (tata kehidupan yang terikat oleh sumpah religious–kebiaraan; kepemilikan terhadap suatu tatanan beragama).

Kata religion sendiri dalam perjalanan sejarah Barat tidak memiliki makna tunggal sepanjang waktu. Kata religion di Barat berevolusi dengan cukup panjang, namun evolusi paling radikal pada kata ini adalah perubahan posisi, dari yang semula kata religion berposisi sebagai adjektiva berubah menjadi nomina, dari yang semula kata sifat yang mengacu pada kultural berevolusi menjadi kata benda, atau mengalami proses reifikasi.

Kata religion pada abad pertama Masehi berakar pada kata religio, dimana para akademisi waktu itu terbelah menjadi dua dalam memaknainya. Golongan pertama memaknai kata religio untuk merujuk pada kekuatan para dewa yang ‘maha’, sedangkan golongan kedua memaknai kata religio dengan merujuk pada sikap manusia terhadap kekuatan para dewa tersebut. Golongan kedua memiliki konsekuensi cara penyikapan manusia terhadap kekuatan para dewa, sehingga melahirkan bentuk-bentuk ritual tertentu sebagai bentuk ekspresi penyikapan itu.

Kata religio di Barat mulai mengalami pelembagaan ketika Paganisme populer di sekitar abad keempat Masehi. Kaum Kristian di Barat saling berebut kebenaran dengan kaum Pagan, hingga akhirnya mereka melembagakan religio dengan merujuk pada berbagai tata cara penyembahan, sehingga dapat ditentukan mana tata cara penyembahan yang benar dan mana yang salah.

Paganisme yang mulai meredup di Barat memicu terjadinya penyempitan konsep religio menjadi mengacu hanya pada para biarawan dan kehidupannya. Konsep ini berubah lagi ketika menjelang Renaissance, di mana konsep religio–yang telah berubah menjadi religion–mengacu pada insting natural manusia untuk mencari dan menyembah Tuhan. Renaissance menyebar dan secara bersamaan konsep religion Kembali berubah menjadi mengacu pada kesalehan seseorang (perhatikan bahwa kesalehan adalah kata sifat–adjektiva).

Gereja dan komunitas Kristian yang mendapatkan berbagai tantangan dari kaum filsuf rasionalis pada masa Renaissance, ditambah kontak masyarakat Barat dengan masyarakat Timur melalui kolonialisme memicu upaya penegasan identitas religion menjadi sistem kepercayaan. Melalui penegasan ini maka dapat dengan jelas dijustifikasi mana sistem kepercayaan yang benar dan mana yang salah. Sejak saat inilah konsep religion menjadi begitu formal dan benar-benar berposisi sebagai kata benda–nomina.

Kata agama yang seringkali disandingkan dengan kata religion kini tampak bermasalah. Memang untuk definisi sekarang baik kata agama maupun religion mengacu pada sistem kepercayaan yang terlembaga, namun religion sudah mengalami evolusi yang sangat Panjang, sedangkan kata agama baru muncul belakangan.

Istilah agama-religion kini juga umumnya disandingkan dengan kata ‘Diin’. Tapi penelusuran lebih jauh akan menunjukkan perbedaan konsep yang signifikan antar diksi tersebut. Kata ‘Diin’ sendiri termaktub dalam 82 ayat al Qur’an. Ayat yang sering diacu untuk menjelaskan kata ini adalah QS. Al Imran: 19,

إنَ الدين عند الله الإسلام

 “Sesungguhnya ad-Diin yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”.

Imam at-Tabari menyampaikan bahwa kata ‘ad-Diin’ dalam ayat tersebut bermakna ketaatan dan ketundukan. Kata Islam sendiri memiliki arti kepasrahan dan kepatuhan dengan penuh ketundukan. Tafsir Jalalayn menyebut bahwa Islam dalam ayat tersebut mengacu pada syariat yang dibawa oleh para rasul dan dibina atas dasar ketauhidan. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menyampaikan bahwa ‘ad-Diin’ di situ mengacu pada ajaran tauhid dan ketundukan kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Penggunaan ism ma’rifat pada ayat tersebut untuk mengacu ‘ad-Diin’ menunjukkan bahwa Diin yang dimaksud sudah spesifik, yaitu ‘al-Islam’ yang satu, bukan yang lain. Konsekuensi format ini berarti tidak ada Diin lain yang diterima di sisi Allah selain Islam. Tapi lagi-lagi, yang digunakan di sini adalah ‘Diin’, bukan ‘agama’.

Kata Diin memiliki dimensi yang lebih dalam daripada agama. Kata agama–baik dari KBBI maupun sandingan religion–memiliki makna spesifik mengacu pada pelembagaan sistem kepercayaan–tata peribadatan. Artinya dimensi yang diacu lebih bersifat fisik-ritual. Sedangkan kata Diin, senada dengan kata Islam, mengacu pada dimensi non-fisik. Jika pada lokus agama-religion pemaknaan berkutat seputar peribadatan sebagai topik utama, maka pada Diin peribadatan justru menjadi konsekuensi dari kepatuhan dan kepasrahan itu sendiri.

Jika seseorang menyatakan kepatuhan dan kepasrahan pada suatu entitas, maka ia akan melakukan segala yang dikehendaki oleh entitas tersebut dan menjauhi segala yang dilarang atau dibencinya. Islam dalam hal ini memiliki pemaknaan yang sesuai, di mana seseorang berislam, yang berarti dia patuh dan pasrah pada Allah, sedangkan Allah menyuruhnya beribadah dan menjauhi maksiat, maka ia akan beribadah dan menjauhi maksiat sesuai yang diperintahkan. Namun dalam hal ini ada satu dimensi yang menjadi pondasi; ikhlas.

Pelaksanaan ibadah dalam Islam karena bermula dari kepatuhan, maka musti dilaksanakan secara ikhlas. Kerelaan segenap diri untuk pasrah terhadap apa yang diperintahkan, bukan diniatkan untuk tujuan tertentu yang menguntungkan baginya.

Konsekuensi lain dari penegasan identitas sebagai muslim, yang berarti menganut Diin Islam, adalah meletakkan penilaian kebenaran sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah. Dengan demikian, seorang muslim akan memandang kebenaran sesuai dengan hakikat yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga ia tidak perlu memandang kebenaran melalui kacamata konstruk kebenaran lain.

Menjadi muslim bukan berarti hanya melaksanakan sholat, puasa, dan ibadah ritual lainnya. Menjadi muslim berarti menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah dengan cara mengikuti ajaran yang dibawa oleh utusanNya–Rasul. Jika seseorang begitu rajin melaksanakan sholat, berpuasa lebih banyak daripada orang lain, namun mendukung hal-hal yang dilarang oleh Allah–misalnya penyalahgunaan kekuasaan untuk menindas–maka kita patut mempertanyakan keislamannya.

Dimensi akal dan hati adalah entitas integral yang menjadi pondasi keislaman. Sebelum keislaman menjamah pada ranah fisik, maka pikiran harus memahami kebenaran dengan sesuai, atau, benar sejak dalam pikiran. Pikiran yang benar akan menuntun seorang muslim untuk memaknai Islam secara utuh, menjadikannya sebenar-benarnya muslim.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here