Alasan-alasan Kenapa Pemerintah Suka Ngasih Istilah Asing ke Masyarakat

0
160

Akibat pandemi virus corona tampaknya pemerintah menggunakan istilah-istilah asing yang membuat masyarakat bingung. Mau nggak mau masyarakat pun harus terbiasa sama istilah-istilah asing seperti social distancing, physical distancing, lockdown, herd immunity, dan yang terbaru Presiden Jokowi memperkenalkan istilah “The New Normal”.

Byuhhh istilah opo tho ikiiii??

Ngapain sih pemerintah menggunakan istilah asing dan malah nggak ngasih padanan kata yang lebih gampang dipahami masyarakat?

Sebelum menjelaskan bagian itu, saya jelaskan dulu arti istilah-istilah asing yang diperkenalkan pemerintah biar semuanya terasa lebih jelas, biar nggak ada kesalahapahaman di antara kita, cieeeeee ciee cieee…

Social Distancing dan Physical Distancing

Istilah Social Distancing punya padanan kata: pembatasan sosial atau penjarakan sosial. Istilah ini terkesan memutus kontak sosial dengan keluarga, teman, dan kerabat. Mengutip dari kompas.com, bahwa WHO mulai menggunakan physical distancing untuk mengurangi risiko penularan virus corona dengan cara pembatasan fisik.

Apa bedanya? Physical distancing punya makna imbauan agar masyarakat menjaga jarak fisik dengan orang lain untuk memastikan virus tidak menyebar. Frasa Physical distancing atau pembatasan fisik dinilai lebih sesuai dibandingkan dengan istilah social distancing. Jadi, meskipun kita berbatasan secara fisik, kita masih bisa berhubungan sosial melalui media sosial.

Lockdown

Lockdown memiliki padanan istilah, yakni kuncitara (kunci sementara). Istilah kuncitara ini diperkenalkan oleh seorang dosen Universitas Indonesia, Ibnu Wahyudi. Istilah ini berasal dari kata kunci dan sementara. Arti dari lockdown sendiri merupakan penguncian sementara suatu wilayah dengan batas administratif. Istilah ini juga sering disebut sebagai karantina wilayah. Yaa, istilah lockdown ini sekarang lebih sering dikenal sebagai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Herd Immunity

Istilah ini mulai banyak dicari ketika Gubernur Jatim, Khofifah mengucapkannya pada wawancara dengan salah satu stasiun televisi beberapa saat yang lalu. Sedikit rumit penjelasannya, tapi untuk memahaminya dengan mudah, herd immunity adalah sistem kekebalan kelompok. Artinya, bukan individu saja yang kebal terhadap suatu virus, melainkan sekelompok orang ini akan kebal terhadap virus. Tapi, herd immunity akan tercapai jika sudah banyak orang yang terjangkit dan berhasil sembuh. Masalahnya, kita nggak tahu siapa yang punya kekebalan tubuh untuk melawan virus ini. Saya nggak habis pikir sama orang yang masih menjadikan herd immunity sebagai salah satu solusi alternatif, karena herd immunity nggak bisa kita jadikan suatu solusi. Herd immunity dalam penerapannya membutuhkan bayaran nyawa manusia dalam jumlah banyak untuk tercapainya herd immunity, ungkapan jahatnya sih “kalo kamu kuat ya kamu selamat”.
Jadi, apa artinya??

Herd immunity itu bisa dikatakan semacam genosida jika memang mau diterapkan, pelanggaran hak asasi manusia. Kalo pemerintah pakai solusi ini artinya mereka gagal menjalankan fungsinya untuk menjamin kehidupan warga negara. Pemerintah seakan ngomong “PSBB batal, silakan kalian semua keluar dari rumah dan beraktivitas seperti biasa. Mari kita lihat kedepannya siapa yang berhasil melawan virus ini.”

Jadi, yaa herd immunity itu bukan cara yang tepat untuk mengobati pandemi virus corona.

The New Normal

Istilah ini muncul dari pernyataan Presiden Joko Widodo dalam conference video, Jumat (15/5).  Menurut Jokowi, new normal berarti cara hidup manusia berubah setelah adanya COVID-19. Hal ini mutlak karena mau tak mau manusia menyesuaikan diri supaya tak tertular virus corona. Apalagi hingga saat ini vaksin virus corona belum ditemukan.

New Normal, kata Jokowi, juga ajakan untuk kembali produktif dengan melakukan berbagai aktivitas tapi dengan menerapkan protokol kesehatan selama masa pandemi COVID-19.

Ternyata banyak juga, ya istilah asing yang berkaitan dengan virus corona.

Sekarang, mari kita selidiki kenapa ya pemerintah cenderung menggunakan istilah asing untuk kasus ini?

Kalo melihat kasus ini, pemerintah terlihat nggak begitu peduli sama istilah yang diperkenalkan pada masyarakat itu gampang dipahami masyarakat atau nggak, asal informasinya tersampaikan, ya udah. Eh, tunggu dulu, bukan berarti pemerintah nggak becus dalam menyampaikan informasi, tapi karena memang bukan ranahnya pemerintah aja buat cari padanan istilah yang gampang dipahami masyarakat sebelum menyebarkan informasinya. Jutsu masalah ini seharusnya jadi tugas ahli bahasa untuk menyelesaikannya. Jadi, nggak sepenuhnya pemerintah salah, sih ya.

Sebenarnya, pemerintah itu manut kok sama ahli bahasa. Kalo sebelumnya, pemerintah menggunakan istilah lockdown untuk pembatasan wilayah tertentu, beberapa saat kemudian, ada sosialisasi padanan kata kalau lockdown memiliki makna pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan hingga akhirnya pemerintah menggunakan istilah PSBB untuk menggantikan kata lockdown.

Kira-kira, apa ya yang membuat pemerintah menggunakan istilah asing yang blibet bin bikin pusing ini?

  1. Menggunakan referensi kajian ilmiah dari luar (Indonesia mengacu dari berbagai referensi, khususnya WHO)

Kita tahulah kalau WHO itu anaknya PBB, jadi ya pakai bahasanya bahasa inggris. Nah, pemerintah ini mencomot istilah-istilah asing itu dari WHO. Jadi, nggak heran sih kalo alasannya menggunakan referensi kajian ilmiah dari luar negeri.

  1. Tidak ada padanan katanya

Terkadang memang ada beberapa kata yang nggak punya padanan kata karena beberapa alasan, seperti keterbatasan ruang, budaya, dsb.

  1. Kekurangan waktu untuk mencarinya

Pemerintah mikir kalo nunggu ada padanan istilahnya dulu terus baru diumumkan ke masyarakat, takutnya nanti kelamaan nungguin ahli bahasa berdebat dulu tentang kata apa yang cocok, eh ternyata pas udah sepakat virus Corona sudah mereda. Lalu apa gunanya semua perdebatan ini??? :((((

  1. Penggunaan bahasa yang tepat memakan waktu

Pada dasarnya, masyarakat zaman sekarang itu suka yang simpel dan yang instan-instan. Begitu juga dengan bahasa. Penggunaan bahasa yang tepat dianggap memakan banyak waktu.

Kayak misalnya hand sanitizer dan penyanitasi tangan. Berasa lebih ribet penyanitasi tangan, kan?

Tapi, sebenernya ribet atau nggaknya penggunaan suatu frasa itu beda-beda sih tiap orang. Bisa aja ada orang lidahnya keminggris lebih nyaman istilah asing, ada juga orang yang medok enak pakai bahasa indonesia yang baik dan benar.

Inas Alimaturrahmah (Sekretaris Bidang Hikmah PK IMM Ibnu Khaldun)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here