Belajar Dari Bapak

0
128

Corona menjauhkan hamba dari rumah. Terpisah 60 KM demi menghindari zona merah tapi ternyata dirinya sendiri berada di zona merah memaksa hamba untuk lebih kuat memperpanjang rebahan. Internet dan gadget menjadi satu-satunya alat melepas rindu kepada yang jauh disana.

Terkadang, saat sedang asyik rebahan, diri ini sering membayangkan hal-hal yang dulu pernah terjadi selama ramadhan. Mungkin seputar betapa serunya ngabuburit bersama kawan dengan njajah mesjid milang kori, atau tentang keluarga yang satu rumah tidak sahur karena kawanen. Tentu, bayangan tentang sosok orang tertentu menjadi lebih kuat saat terpisah jauh seperti sekarang.

Pandemi ini mengingatkan hamba akan keberadaan laki-laki tertua dalam keluarga. Sebut saja bapak. Pensiunan pegawai hotel berbintang kota wisata ini adalah penggila keselamatan nomor wahid. Pengalamannya di hotel dengan segala pelatihan K3 nya terbawa sampai ke rumah. Banyak inovasi yang ia buat di rumah demi keselamatan para penghuninya. Mari hamba sebut inovasinya satu persatu.

Pertama, peti dorong. Kayu besar persegi panjang dengan roda dibawahnya adalah salah satu inovasi bapak. Peti ini ada dua buah, satu berisi dokumen-dokumen penting keluarga seperti akta, KK, dan ijazah. Satu lagi berisi barang pecah belah dan slot ruang untuk baju. Alasan pembuatannya? Sederhana. Jika rumah, misalnya, mengalami kebakaran, maka penghuni rumah akan berlari bersama peti dorong yang turut berlari karena tenaga dorong kami. Hanya itu.

Kedua, folder plastik warna-warni. Selaku ketua RT, pasti data warga dan lingkungan sekitarnya berada di tangannya. Maka dari itu, folder ini berguna untuk menyimpan data agar tidak hilang. Memang berguna sesuai fungsinya, hanya bedanya, tiap folder memiliki warnanya sendiri untuk keperluan yang berbeda. Misal, kuning data warga proses jadi, merah data warga pergi, hijau untuk keperluan sampah dan kepentingan lingkungan alam sekitar, putih bening untuk file rapat, dan lain sebagainya. Bahkan, folder plastik tersebut diolesi fosfor. Kenapa begitu? agar mudah dicari ketika dibutuhkan dalam gelap atau tercecer saat malam. Duh!

Ketiga, kaleng armagedon. Kaleng armageddon bukan wadah kaleng-kaleng. Suatu hari, kata bapak, kamu akan berterima kasih tak henti-henti karenanya. Kenapa? Karena ia menolong dari rasa lapar dan dahaga. Kaleng armagedon adalah kaleng blek berbagai merk yang berisi kebutuhan pangan tahan lama seperti susu kaleng, sarden kaleng, oatmeal, indomie hingga air minum botolan. Kaleng armagedon ini tersimpan dalam box plastik besar. Penggunaan box plastik besar juga ada alasannya. Kata bapak, “Suatu hari, ketika kampung ini terkena banjir, maka box plastik ini akan tetap selamat sebab ia kedap air dan mudah mengambang,”

Itulah tiga inovasi bapak. Untuk yang terakhir, hamba sangsi karena memang belum teruji. Meski begitu, apa yang bisa dipetik dari perilaku nyeleneh bapak adalah utamakan keamanan dan keselamatan. Peribahasa sedia payung sebelum hujan rasanya-rasanya benar diamini oleh bapak

Meski bagi sebagian orang itu terasa sia-sia dan terkesan ribet, toh kita memang tidak tahu pasti kapan bencana itu datang. Setidaknya, inovasi ala bapak membuat kita bisa memperpanjang nafas ketika bencana itu melanda.

Corona menjadi salah satu contoh bagaimana bencana tidak terduga datang. Ketika orang tidak bekerja dan seluruh dunia berhenti total, maka kelaparan dan kebingungan melanda. Beruntunglah mereka yang punya simpanan sebab terhindar dari panic buying hingga panic anj1nk.

Maka dari itu, belajarlah dari bapak!

***

Sholahuddin Al Ayubi, Ketua PK IMM Ibnu Khaldun Periode 2018-2019,saat ini aktif sebagai Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here