Bisa karena Terbiasa, Terbiasa karena dipaksa

0
44

Kecenderungan manusia untuk hidup sebebas-bebasnya memang sudah alamiah. Tentu saja, telah lama ada keinginan di antara beberapa orang untuk kehidupan masyarakat yang kurang formal, masyarakat tanpa pemerintah, dunia di mana kebebasan individu lebih diutamakan. Tidak menginginkan adanya paksaan maupun intimidasi dari kelompok, melainkan seluruh aktivitas murni berasal dari keinginan. Akan tetapi, seringnya manusia luput dan cenderung kepada kebatilan, sehingga akan menjadi bahaya bila jalan berfikir yang terlalu bebas berimbas pada ekspresi yang bebas pula tanpa memperdulikan lingkungan sekitar.

Merupaka Hal yang lurah bial naluri manusia yang selalu mendambakan dan mencintai kesenangan , pasalnya kehidupan seperti memiliki sumbu rotasi dimana tidak selalu condong dengan kebahagiaan dan alam pun akan selalu mencapai kesetimbangan bila terjadi ketimpangan. Intinya, kehidupan ini tidak memihak pada apapun dan siapapun dan hanya tunduk pada Kuasa Rabb-Nya.

Banyak dari kita berfikir bahwa sesuatu yang lebih itu terjadi secara tiba-tiba dan kebetulan yang mengundang kata-kata “kok bisa sih dia sekeren itu?’, “kenapa aku tidak bisa seperti dia?”, dan perkataan yang membandingkan lainnya. Seperti public figure yang baru naik daun, seorang atlet yang memecahkan sebuah rekor dunia, atau hafiz qur’an yang baru memutqinkan hafalannya, dan segala ketakjuban lain. laa izzata illa bil jihad , tidak ada kemuliaan kecuali dengan perjuangan. Dalam artian, kita tidak bisa membandingkan diri kita dengan mereka yang sudah bersusah payah memperjuangkan impiannya. Lembaran pertama yang kita miliki jangan pernah disamakan dengan puluhan lembaran orang lain, karena itu sesuatu yang berbeda. Jelas sudah beda start!

.

Dan hal yang membuat kita terhambat untuk berkarya adalah seperti menunda-nunda sebuah pekerjaan, merasa tidak mampu, menganggap ada yang lebih mampu, mengeluhkan ketidakmampuan atau alasan-alasan lain yang membuat kita tidak bergerak kedepan sehingga harus dipaksakan untuk keluar dari zona nyaman. Hal yang menurut kita sulit dan berat kadang membuat nyali kita menciut apalagi hal tersebut kita tidak kompeten sama sekali dan dituntut untuk mengerjakannya sendiri. Dibutuhkan keberanian tingkat tinggi untuk memulai meskipun hasilnya tidak memuaskan dan meskipun hasilnya mengecewakan, jadikan langkah pertama sebagai sebuah pembelajaran dan pengalaman, karena orang hanya akan belajar ketika melakukan kesalahan.

Sebuah pembiasaan yang baru memang harus dipaksa, karena kecenderungan manusia melakukan hal yang sama dimana akan menghambat kemajuan diri dan lambat laun berpengaruh pada karakter sebagai pribadi yang monoton. Pembiasaan baru ini contohnya seorang preman yang punya keinginan kuat untuk berubah dengan membiasakan dirinya melakukan perbuatan baik agar dapat menjadi seorang insan bertaqwa yang senatiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Atau sejak dini kita sudah memaksakan diri sendiri untuk menjadi seorang pemimpin, merasa harus belajar lebih banyak, berusaha lebih keras, dan tidak menjadikan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain sebagai dalih untuk merasa minder, justru dengan hal itu bisa menjadi pemacu untuk bisa menjadi lebih baik.

Sebagai contoh, Kita memiliki keinginan untuk dapat menghafal Al-qur’an 30 Juz dalam waktu 1 bulan atau dalam periode tertentu,. Dalam upaya mewujudkan keinginan tersebut kita harus terbiasa mengurangi kebiasaan yang  sia-sia dan kurang bermanfaat. Seperti teman-teman yang terbiasa mengisi waktunya dengan bermain game harus memaksa diri agar mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat itu dan dialihkan waktu nya kepada penghayatan Al-Qur’an.

Tidak ada yang tidak bisa dilakukan  dalam kehidupan ini, perubahan seseorang tergantung bagaimana usaha dan keistiqomahannya. “Tidak ada yang tidak bisa dilakukan  dalam kehidupan ini, perubahan seseorang tergantung bagaimana usaha dan keistiqomahannya. Semua orang pasti bisa karena pembiasaannya, dan juga dipaksa agar tidak tergoda dengan nafsu yang menghalangi proses belajar untuk menuju keberhasilan.”

Semua orang pasti bisa karena pembiasaannya, dan juga dipaksa agar tidak tergoda dengan nafsu yang menghalangi proses belajar untuk menuju keberhasilan.Sebab karakter yang baik akan muncul dari sebuah kebiasaan yang baik. Seperti lunaknya air yang mampu melubangi batu karena tetesan kecil yang terus-menerus. Seperti yang disampaikan oleh Ibunda Aisyah r.a, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Amalan-amalan yang dikerjakan secara rutin menjadi suatu kebiasaan, walau amalan itu sedikit” (HR. Muslim). Maka harusnya kita bisa berdaya dan berkarya itu merupakan kebiasaan yang kita ciptakan meskipun sederhana. Disisi lain kita harus sadar bahwa kita manusia hanyalah makhluk lemah dihadapan Allah SWT, sehingga semua niat baik haruslah diniatkan semata hanya untuk mengharap ridla Allah SWT.

 

Siti Khoirunnisa , Merupakan Mahasiswa Kimia Universitas Gadjah Mada. Saat Ini menjabat sebagai Anggota Bidang Sosial Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat PK IMM Al khawarizmi UGM

penyunting :awl

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here