Bolehkah Berzina Menggunakan Alat Kontrasepsi?

0
48

 

 

            Mungkin pernah terbersit di pikiran kita apakah jika di masa depan telah ditemukan alat kontrasepsi yang 100% dapat mencegah kehamilan dan penularan PMS (penyakit menular seksual) maka berzina menggunakan alat kontrasepsi tersebut menjadi dibolehkan? Mungkin sebagian orang akan berpendapat hal itu dibolehkan karena dengan adanya alat kontrasepsi tersebut telah menutup mudharat dari tindakan zina. Sedangkan di sisi lain, pasti ada juga yang kontra dengan pendapat tadi dengan membawa dalil – dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan larangan zina.

Namun dalam tulisan ini saya tidak akan membahas hal tersebut karena memang bukan kapasitas dan kewenangan saya dalam menentukan hukum fiqih dari sebuah perbuatan. Saya sebagai mahasiswa teknik tingkat akhir akan berpikir berulang kali untuk ikut berpendapat dalam berdebatan fiqih semacam ini karena saya sadar saya belum bisa dianggap sebagai fuqaha (ahli fiqih) yang memiliki kemampuan dan kewenangan untuk menentukan hukum-hukum fiqih. Jangankan disebut fuqaha, menamatkan sebuah kitab fiqihpun belum pernah, apalagi mencermati perdebatan para fuqaha terdahulu dalam menentukan hukum fiqih.

Nah, bagi Anda yang penasaran tentang hukum dari sebuah permasalahan kontemporer seperti judul di atas, silakan Anda baca terlebih dahulu kitab – kitab fiqih karya ulama – ulama besar yang sering dijadikan rujukan. Kalau dalam menyusun skripsi saja harus menyertakan banyak sekali rujukan, maka dalam menentukan hukum fiqih suatu permasalahan tentu harus lebih banyak lagi rujukannya.  Jika Anda tidak bisa memahami kitab – kitab tersebut karena berbahasa Arab, maka silahkan Anda belajar bahasa Arab terlebih dahulu. Mungkin sebagian dari Anda ada yang berbicara dalam hati “Jangankan belajar bahasa Arab, membaca Al-Qur’an saja masih belum lancar”.

Bisikan hati Anda itu menunjukkan masih sedikitnya ilmu yang Anda kuasai, maka jangan pernah sombong dengan pengetahuan yang telah Anda miliki tersebut apalagi sampai mengeluarkan statement tentang bidang yang Anda tidak kuasai, ilmu fiqih misalnya. Masalah fiqih bukan masalah main – main, ini hubungannya dengan dosa yang akan kita terima jika sampai salah menentukan hukum dari sebuah tindakan. Memang benar Allah akan mengampuni dosa dari tindakan yang tidak kita ketahui, namun apakah Allah masih memberi ampun kepada orang awam yang ikut – ikutan “ngurusin” hukum fiqih? Allahu a’lam.

Bukannya saya melarang Anda sekalian untuk membicarakan mengenai fiqih, namun alangkah baiknya sebelum kita membicarakan hal tersebut kita isi terlebih dahulu pengetahuan kita, akan lebih baik lagi jika kita mempelajari ilmu fiqih tersebut secara terstruktur dan mendalam. Jika Anda memilih untuk mempelajari hukum fiqih itu sangat bagus, saya sangat menghormati orang – orang yang bersedia dan tertarik mempelajari fiqih. Namun, bagi Anda yang cuma punya pemahaman fiqih berdasar pada pelajaran Agama Islam ketika SD, SMP, atau SMA, dan tidak telaten mempelajari ilmu fiqih dari dasar, maka sesungguhnya masih banyak lagi bidang selain fiqih yang mungkin Anda bisa memberikan sumbangsih pendapat atau bahkan gerakan. Saya coba berikan beberapa contoh, mungkin Anda tertarik pada salah satunya.

  1. Bagaimana memperbaiki sistem pendidikan Indonesia agar tujuan “Mencerdaskan kehidupan bangsa” dapat tercapai?
  2. Bagaimana sistem ekonomi yang tepat untuk mempersempit jurang antara si miskin dan si kaya?
  3. Bagaimana agar Indonesia tetap memiliki bargaining position yang baik di dunia internasional?
  4. Bagaimana agar Indonesia mampu memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah untuk kesejahteraan rakyat namun tetap menjaga sustainability lingkungan?
  5. Bagaimana Indonesia mampu memberikan ruang yang cukup bagi anak muda kreatif untuk mengimplementasikan idenya?
  6. Bagaimana cara agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang sehat dan tangguh?

Jika Anda bukan fuqaha (atau minimal pernah belajar fiqih secara terstruktur) dan merasa tertipu dengan judul di atas, maka memang Andalah pembaca yang saya tuju. Pembaca yang gemar dengan judul bombastis dan penuh kontroversi, yang mungkin tidak membaca artikelnya sampai selesai. Saya sebagai penulis memohon maaf apabila Anda merasa kesal ketika membaca tulisan ini, yang saya harapkan adalah para pembaca sadar bahwa dalam menghukumi suatu perkara (apalagi terkait fiqih) tidak boleh sembarangan. Kita harus benar-benar mempelajari dan memahami kaidah-kaidahnya. Sebagai penutup saya berpesan kepada pembaca sekalian untuk tetap semangat menuntut ilmu, tulisan ini bukan untuk membuat Anda berputus asa dalam mencari ilmu, namun tulisan ini ingin menggugah Anda untuk semakin bersemangat dalam menuntut ilmu.

 

Oleh:

Zidan Yusron Wijanarko, Ketua Bidang Kader PC IMM BSKM 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here