Da’I Benum sebagai Anak Panah Muhammadiyah

0
370

       Muhammadiyah dengan lembaga pendidikan yang didirikan tidak dapat dipisahkan mendirikan cabang baru Muhammadiyah pada umumnya identik dengan mendirikan sekolah baru dan hampir semua cabang nya terbatas di kota dengan kelompok masyarakat kota .Salah satu usaha untuk menggapai cita-cita mulia yang ingin dicapai oleh Muhammadiyah adalah mendirikan sebuah lembaga pendidkan yang cakap dan kompeten dalam mencetak mubaligh, guru agama dan pemimpin Muhammadiyah Muhammadiyah sekarang ini seperti dikatakan oleh K.H Ahmad Dahlan “. maka teruslah kamu bersekolah menuntut ilmu pengetahuan di mana saja , jadilah guru kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah meesster ,insinyur dan lain-lain lalu kembalilah kepada Muhammadiyah..” Dengan uraian di atas penulis , visi dari KH Ahmad Dahlan dalam merintis sebuah sistem pendidikan islam dengan model Mu’allimin (Al-Qismu Al- Arqa) adalah dalam rangka kaderisasi “Ulama” dalam hal ini adalah mencetak seorang Da’i seperti yang dinginkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri.

Pada awalnya,lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah diadakannya sekolah ini adalah ditujukan untuk mencetak guru Islam yang pada saat itu keberadaannya memang teramat sangat dibutuhkan sekali. Ditambah lagi dengan pesatnya jumlah sekolah-sekolah rintisan Muhammadiyah setelah Gerakan Muhammadiyah mulai diizinkan untuk memperluas daerah operasional dakwah nya keseluruh Nusantara oleh Pemerintah Kolonial,sehingga banyak dari sekolah sekolah ini kekurangan tenaga pengajar. Lalu ditambah lagi dengan banyaknya surat dari saudara-saudara Muhammadiyah, seperti Centraal Syarikat Islam (CSI) dan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad yang ditunjukkan kepada ketua Muhammadiyah isi dari surat tersebut menyatakan meminta guru agama Islam dari Muhammadiyah.Seiring dengan perkembangan zaman. Para guru tersebut mulai berkembang lebih dari sekadar seorang guru akan tetapi juga sekaligus menjadi seoang muballigh. Maka mulai dari situah istilah nama Da’i Benum mulai muncul.

Da’I Benum ditinjau dari segi bahasa ,berasal dari perpaduan bahasa arab dan Belanda. Kata da’i berasal dari bahasa Arab bentuk mudżakar (laki-laki) yang berarti orang yang mengajak, kalau muanas (perempuan) disebut da’iyah. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, da’i adalah orang yang pekerjaannya berdakwah, pendakwah. Melalui kegiatan dakwah para da’i menyebarluaskan ajaran Islam. Sedangkan kata Benum berasal dari kata Benoeming,yang memiliki arti Penugasan. Bisa disimpulkan bahwa arti dari Da’I Benum Muhammadiyah adalah seorang yang menyebarkan dakwah islam yang diberikan tugas oleh Muhammadiyah sebagai seorang guru sekaligus muballigh.

Program ini mulai diterapkan pada masa kepemimpinan KH Fachrudin (1923-1932) .Pada tahun 1928 mulai diberlakukan kebijakan untuk mengirim para lulusan sekolah kader Muhammadiyah seperti dari Tablighschool Yogyakarta,HIK Muhammadiyah dan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah mulai disebar ke segala penjuru diberbagai wilayah,untuk dikirim ke seluruh penjuru nusantara.Latar belakang nya pun beragam, Mulai dari permintaan guru guru agama islam dari Sekolah Muhammadiyah yang jumlahnya amat sangat tinggi,permintaan mubaligh untuk merintis sebuah sekolah Muhammadiyah hingga penjagaan standarisasi sekolah Muhammadiyah dan tujuan utama dari dikirmnya para Da’I Benum ini ialah menyebarkan misi dakwah Islam Muhammadiyah ke daerah daerah yang bahkan belum terjamah pendidikan bahkan oleh negara sekalipun itu pendidikan pengajaran Islam yang pada masa itu masih belum banyak dikenal.

Kader yang hendak merintis dan mendirikan cabang/ranting Muhammadiyah disuatu daerah biasanya mereka memulai dengan menjadi seorang guru pelajaran agama Islam sekaligus menjadi seorang mubaligh.Mereka bukan hanya mengajarkan seputar agama,melainkan juga keterampilan keterampilan umum,seperti gerakan kepanduan/padvinder Muhammadiyah atau nantinya dikenal sebagai Hizbul Wathan seperti yang dilakukan oleh AR Fachrudin, Ketua PP Muhammadiyah terlama sepanjang sejarah,yang menjabat antara tahun 1968-1990. Ketika itu beliau dibenum di daerah Ulak Paceh,Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dan salah satu rekam jejaknya yang paling terkenal adalah menghimpun para anggota HW untuk bersepeda sejauh 1.000 Km selama 20 hari ke arena Kongres Muhammadiyah yang dilaksanakan di Medan tahun 1940 yang kini diabadikan lewat film “Meniti 20 Hari” tahun 2016 .

Dalam kalangan Muhammadiyah sendiri dikenal dengan sebutan Anak Panah Muhammadiyah. Masyarakat tempat mereka dibenum atau ditugaskan ini kemudian dipandu oleh kader muda itu dengan mendirikan ranting,mendirikan sekolah, masjid, serta balai pengobatan, panti asuhan, dan sebagainya. Mendidik kader-kader lokal yang di kemudian hari memimpin persyarikatan di tempat tempat tersebut.

Sumber

Suara Muhammadiyah Edisi No 18/Tahun 2016 “Memperbaharui Da’I Benum

1 ABAD Muhammadiyah

Aulia Fathurrahman Darwis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here