Engineering of Arts

0
41

 

Kebanyakan dari kita mungkin tidak menyadari adanya hubungan antara dunia keteknikan (engineering) dengan dunia seni (arts). Bahkan banyak dari kita yang mengatakan bahwa kedua dunia ini merupakan dua hal yang saling berlawanan. Penilaian ini mungkin lahir dari hasil pengamatan singkat terhadap gaya hidup dan penampilan dari mahasiswanya.

Mahasiswa teknik dipandang oleh banyak orang sebagai mahasiswa yang tangguh, sering begadang mengerjakan tugas, pintar, keren, sederhana, macho, masa depan cerah, dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan mahasiswa seni dipandang sebagai mahasiswa yang selow cenderung malas, bebas, apa adanya, jarang mandi, rambut gondrong, bertindak dan berpenampilan di luar kebiasaan khalayak ramai, masa depan suram, dan hal-hal berkonotasi negatif lainnya. Dengan penggambaran seperti tadi, penulis menjadi memaklumi bahwa kebanyakan orang menilai bahwa engineering dan arts tidak dapat disatukan.

Namun, dibalik penilaian subjektif tadi, ternyata kedua dunia ini dapat disatukan. Hasil kolaborasi ini sebenarnya dapat kita nikmati di sekitar kita. Salah satu contoh adalah ketika kita menyaksikan konser musik, musik dimainkan oleh para seniman, sedangkan sound system, panggung, dan sistem kelistrikan dirancang oleh insinyur. Contoh lainnya ketika kita melihat video tari dari kanal video berbagi, tarian dilakukan oleh seniman, sedangkan kamera untuk perekaman, komputer, jaringan internet, dan kanal video berbagi dirancang oleh para insinyur. Pada dasarnya, engineering membuat khalayak ramai lebih mudah menikmati seni.

Penulis harap pembaca sudah mulai manggut-manggut membaca tulisan ini. Namun, bukan itu saja yang akan penulis sampaikan. Penulis akan menyampaikan peran bidang keteknikan dalam pelestarian seni tradisional. Paparan di atas sekadar untuk membuka wawasan pembaca sekalian bahwa hubungan keteknikan dan seni sebenarnya sangat erat, mungkin seperti pasangan suami istri yang baru saja menikah.

Tentu objek konservasi yang dipilih adalah seni yang sudah mulai ditinggalkan dan belum banyak diteliti, namun layak untuk dilestarikan. Data yang terbatas karena minimnya narasumber akibat sudah mulai ditinggalkannya seni tersebut dan karena minimnya peneliti yang menjadikannya objek penelitian, menjadi tantangan tersendiri bagi para insinyur dalam melakukan konservasi. Untuk mempermudah penjelasan, mari kita ambil alat musik tradisional sebagai objek pembicaraan pada tulisan ini.

Berbicara mengenai pelestarian atau konservasi seni, maka para insinyur akan lebih banyak berkutat dengan dokumentasi. Dokumentasi di sini bukan sekedar foto-foto dan perekaman, namun mencakup hal yang lebih luas lagi. Di balik perekaman itu sendiri ternyata tersembunyi banyak detail yang harus diperhatikan oleh para insinyur, seperti bagaimana menghasilkan rekaman suara yang jernih dan representatif, bagaimana cara merekam cara memainkan alat musik agar terlihat detail dan jelas. Selain perekaman, dokumentasi lain yang dilakukan adalah dokumentasi proses pembuatan. Dari dokumentasi proses pembuatan, insinyur diharapkan dapat memberikan rekomendasi proses pembuatan lebih mudah, cepat, dan sederhana, namun tidak mengubah karakteristik dari alat musik tersebut.

Selain dokumentasi, pelestarian alat musik juga mendorong para insinyur untuk memberikan rekomendasi substitusi bahan yang dapat digunakan untuk menggantikan bahan-bahan baku yang sudah mulai langka dengan tetap mempertahankan karakteristik dari alat musik tersebut agar tidak merusak esensi dari konservasi itu sendiri. Menjaga esensi konservasi itulah sebenarnya poin yang paling sulit dan memerlukan kehati-hatian, untuk itu para insinyur menggandeng para seniman yang kompeten sebagai ‘penjaga gawang’ agar esensi konservasi tetap terjaga.

Sebenarnya masih banyak hal yang dikerjakan para insinyur dalam usahanya melestarikan seni tradisional, namun rasanya tidak elok bagi penulis memaparkannya terlalu panjang dalam tulisan ini karena mungkin pembaca sudah mulai pusing membaca tulisan ini. Terakhir, tulisan ini ditulis berdasarkan pekerjaan tugas akhir yang sedang penulis kerjakan. Semoga ada tulisan-tulisan lain yang didasarkan pada tugas akhir mahasiswa  sehingga manfaat dari tugas akhir tersebut dapat dirasakan oleh lebih banyak pihak dan bukan sekadar menjadi syarat untuk mengakhiri hiruk pikuk dunia perkuliahan.

Zidan Yusron Wijanarko,Ketua Bidang Kader PC IMM BSKM Periode 2019-2020

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here