Eunoia

0
73

Sebuah tulisan mampu membuat gerakan; karena di dalam tulisan terdapat emotion shared yang berusaha dibangun oleh penulis. Kekuatan tulisan Soe Hoek Gie mampu membuat masyarakat saat itu tersadar tentang anomali politik yang terjadi. Kekuatan tulisan mampu membuat seseorang memutuskan sesuatu yang besar di dalam hidupnya—barangkali kita sering mendengar bahwa seorang mahasiswa yang mendadak belajar filsafat sering tiba-tiba kehilangan arah oleh karena tulisan dan bacaan yang pertama kali ia dengar.

Itu hal biasa. Sebab, di dalam tulisan terdapat emotion shared yang tersebar antara kata-kata yang dibangun atau argumen yang dibangun. Membaca adalah aktivitas di otak yang berusaha menghubungkan imajinasi. Membaca adalah aktivitas hati yang juga sembari meraba-raba apa yang hendak disampaikan oleh si penulis. Jadi, ketika membaca, tak salah bila sering terdapat pergolakan batin untuk terus melihat dan merasakan emosi di dalam tulisan. Sembari bertanya, nih tulisan si penulis “Eunoia” mau nulis tentang apaan, sih?

***

Eunoia adalah istilah untuk menggambarkan keadaaan hati dan pikiran yang baik. Dulu, Aristoteles menggunakan istilah “eunoia” untuk merujuk pada perasaan niat baik dan baik hati yang dimiliki pasangan dan yang membentuk dasar bagi landasan etika kehidupan manusia (Cambridge Dictionary, 2020). Eunoia yang pertama kali dibaca adalah tentang seseorang yang sedang berusaha sebaik mungkin mengganti dirinya agar selalu mudah diterima oleh banyak orang—cerita fiksi yang menggambarkan salah seorang lelaki yang harus memasang muka masam dan marah tiap berangkat sekolah; hanya karena ingin menyembunyikan kesedihannya sebab ditinggal oleh ayahnya—kata anak laki-laki itu, ayahnya menuju bintang Sirius.

Tiap malam, mereka sering bercanda riang sebelum tidur. Menceritakan tentang Sirius setiap hari. Btw, Sirius adalah jenis bintang paling terang, katanya. Ayahnya sekali pernah bertanya pada anak lelaki itu, “Ayah suka Sirius, Jung, kalo kamu suka apa?”, sembari berbaring, dia berpikir sejenak.

“Aku juga suka Sirius”

“Kenapa begitu?”

“Karena Ayah juga suka itu.”, jawabnya sambil tersenyum dan memeluk selimut semakin dalam.

Konversasi dirinya dan ayahnya malam itu adalah konversasi terakhir, setelahnya, ayahnya pergi dari rumah—sebelum menepati janji membelikan teleskop untuk bersama-sama melihat Sirius.

Bocah laki-laki itu kemudian tumbuh dengan rasa takut dan ketidakpastian. Sebab ia merasa, bahwa tak ada lagi yang kelak menjemput dan mengantarnya ke sekolah meski dengan jalan kaki. Demikian ketakutan itu memaksa dirinya untuk membagi dua dirinya; yang satu untuk ditunjukkan kepada tetangganya yang juga teman sekolahnya, satu lagi digunakan untuk melawan dunia. Orang lain tidak boleh tahu jika dirinya amat rapuh. Semuanya menjadi rapuh oleh karena keadaan yang tidak pernah dia hadapi sebelumnya. Tapi, dia tidak begitu selalu selama akhir cerita. Meski ketakutan itu membawa dirinya pada suatu luka trauma, ia tetap berusaha menjadi baik bagi tetangganya. Tetangganya itu perempuan, singkatnya, ia menggunakan tetangganya untuk melawan ketakutan-ketakutan masa lalu semasa tinggal bersebelahan. Namun tanpa disadari, mereka berdua dilanda ketakutan bersama. Lelaki itu takut untuk menghadapi masa lalunya, perempuan itu takut kehilangan dirinya. (re: si lelaki)

Hingga akhir hidup si lelaki—yang pada akhirnya, dia tidak mampu melawan ketakutan dan trauma oleh ayah tirinya yang bersekongkol dengan orang lain untuk menjual diri anak tersebut—lelaki itu hilang dan tak mampu bertahan saat menjalani terapi. Tidak, dia tidak mati konyol. Kata si penulis, dia memang punya sakit di dalam organ tubuh lainnya, sebut saja komplikasi. Barangkali kesukaannya tentang Sirius membawa suatu pesan yang menarik; Sirius mungkin menjadi bintang paling terang dan panas—tapi bintang sepanas dan seterang itu selalu mati dengan cepat.

***

Eunoia adalah cerita fiksi terbaik—versi saya—yang mengajarkan betapa seseorang mungkin menjadi sangat mendalam dalam berpikir dan berperasaan; sehingga dari sanalah ia akan selalu menyembunyikannya dari yang biasanya terlihat. Mungkin juga, tentang betapa seseorang sedang berusaha menyelamatkan dirinya untuk tidak selalu sedih dan bertengkar dengan ketakutan. Semua itu dilakukan untuk menuju eunoia, menuju sesuatu yang indah.

Ini mengingatkan saya dengan tafsir al a’raf yang pernah saya dengar dari Ustadz Nouman Ali Khan. Ketakutan dan memendam diri (untuk tak menyampaikan apa yang dirasa) ialah bagian dari bisikan setan. Sebelum sampai di sana, diceritakan bahwa Allah swt mengabarkan pada penduduk langit tentang Dia hendak menciptakan satu makhluk untuk tinggal di bumi. Saat itu, malaikat dan jin mendengarkan pesan Allah swt. Malaikat saat itu bertanya pada Allah swt tentang penciptaan makhluk tersebut—sembari takut-takut jika makhluk itu justru menjadi perusak di bumi. Namun Allah swt mengatakan dengan tegas bahwa Dialah yang Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat. Sebenarnya, jin punya pertanyaan yang sama—pertanyaan lanjutan dari si malaikat. Namun, jin memendamnya. Hingga pada proses penciptaan itu ia melihat betapa manusia itu dengan bentuk yang paling sempurna. Adam as. kemudian hidup dan melihat apa yang ada di surga, menyebut apa yang Allah swt tunjuk untuk menunjukkan kepada malaikat dan jin bahwa Adam as. adalah makhluk Allah swt. yang cerdas.

Perintah sujud kepada Adam as. pun ditujukan kepada malaikat dan jin. Namun sayang, jin menolaknya. Jin menganggap dirinya lebih baik ketimbang tanah yang hidup. Allah swt. murka dengan kesombongannya. Mengeluarkan jin dengan keadaan yang hina—hingga ia kini disebut dengan iblis. Sadarkah bahwa awal mula dikeluarkannya jin tersebut ialah ketika dirinya tak bertanya? Memilih memendam?

Sampailah pada cerita bahwa Adam as. tidak boleh mendekati pohon di surga. Momen itu dimanfaatkan oleh jin untuk membisikkan sesuatu pada Adam as. dan Hawa. Mereka berdua termakan bisikan jin untuk tak bertanya. Keduanya mendekat, lalu tersingkaplah aurat keduanya. Adam as. dan Hawa malu. Merasa sebagai makhluk paling hina. Bedanya, ketika jin masih mampu sombong saat dikeluarkan dari surga, Adam as. dan Hawa justru merasa bahwa itu adalah kesalahan mereka. Mereka berdua memohon ampun pada Allah swt. Namun hukuman keluar dari surga bukanlah karena itu—sebab surga memang bukan tempat tinggal selamanya untuk keduanya. Mereka berdua memang tercipta agar tinggal di bumi.

Maaf, mungkin cerita tafsir ini dicukupkan karena tulisan hampir limit, hehe.

***

Entah apa yang akan kalian rasakan saat membaca ini. Tulisan eunoia, pada intinya adalah tentang memendam; barangkali memendam adalah salah satu cara agar tetap bisa hidup dari kefanaan yang dipamerkan. Namun, memendam bukan satu-satunya cara. Ada banyak cara; yaitu, ceritakanlah. Barangkali ceritamu lebih indah—menuju eunoia.

Ulul Azmi Syafira

#diRumahAja

#IMMawatiPunyaCerita

SHARE
Previous articleIstimewa Walaupun Tak Berkelana
Next articleKangen Ngumpul Bareng Kamu
Pimpinan cabang IMM Bulaksumur Karangmalang mewadahi kader IMM di UGM UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here