Gawai Media Sosial Dan Pengaruh bagi Kesehatan Mental

0
49

 

 

Berkembang pesatnya dunia teknologi telah mengubah kebiasaan manusia. Masyarakat seolah-olah tak bisa dipisahkan dari benda bernama gadget. Berbicara tentang gadget, rasanya kurang afdhol jika tidak ada koneksi internet dan kuota data. Internet, seperti yang kita tahu telah mempermudah kita untuk mendapat informasi. Seiring berkembangnya internet, berbagai sosial media pun hadir di hadapan kita dan turut meramaikan hiruk pikuk dunia maya. Jejaring sosial hadir untuk mempersempit batas antara manusia di seluruh dunia.

Dengan terkoneksinya antar satu orang dengan yang lainnya nyatanya telah membuat media sosial ramai dengan konten-konten yang menarik untuk dilihat. Tak heran lagi jika orang-orang zaman sekarang seperti kita ini bisa bertahan berjam-jam menatap layar ponsel pintar untuk mengakses media sosial. Kita juga sering menggunakan media sosial untuk mengusir kebosanan. Scroll lini masa Facebook, Instagram, Twitter, atau Tumbler secara bergantian. Padahal, hal ini merupakan kebiasaan yang tak baik-baik amat, walaupun sebenarnya menghibur, sih. Media sosial telah membuat masyarakat kecanduan. Ternyata banyak menggunakan media sosial bisa menjadi pemicu depresi, stress, maupun gangguan kecemasan.

Ketika seseorang sedang merasa kesal biasanya cerita pada siapa? Dulu, orang sering mengungkapkannya dengan menulis tulisan di buku harian/diary yang sifatnya privasi dan bahkan beberapa orang sampai membeli buku yang ada gemboknya. Dengan maraknya media sosial, orang-orang di zaman sekarang lebih memilih untuk mengungkapkan kekesalannya di media sosial yang sifatnya lebih terbuka. Padahal, hal ini justru tidak baik bagi mereka karena bisa memicu adanya cyberbullying.

 Munculnya cyberbullying bisa menyebabkan korbannya menjadi depresi, stress, dan bahkan bisa menyebabkan kematian, seperti yang terjadi pada seorang artis korea baru-baru ini. Selain cyberbullying, perilaku pamer yang sering dilakukan banyak orang ternyata bisa menyebabkan gangguan kecemasan. Banyak sekali kejadian ketika seseorang memposting gambar di media sosial ketika membeli pakaian, makanan, minuman, atau sedang makan di café mewah. Hal ini tentu saja memberikan dampak buruk bagi para penonton postingan tersebut. Bisa saja, si penonton itu merasa iri, merasa kurang gaul, atau merasa kurang kekinian karena mereka tidak memposting konten yang bersifat pamer sehingga media sosial ini bisa memberikan dampak kecemburuan dan juga kecemasakan. Meskipun pada umumnya media sosial memang digunakan untuk pamer di kalangan masyarakat.

Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memberikan dampak yang negatif, baik fisik, psikologis dan sosial. Dampak fisik yang terasa adalah gangguan pada mata dan pola tidur. Meskipun pola tidur ini merupakan dampak fisik, ternyata hal ini berkaitan dengan kesehatan mental seseorang. Akibat kurang tidur, seseorang akan mudah merasa letih dan akhirnya berdampak menimbulkan stress dan juga depresi. Tak hanya depresi, kurang tidur juga bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan kecemasan. Dampak psikologis yang biasanya terjadi berupa sering merasa kesepian, depresi, lari dari kenyataan, hingga suasana hati yang mudah terpengaruh. Namun, ada juga orang yang mengalami gangguan kecemasan jika tidak mengakses media sosial.

Meskipun tak sepenuhnya penggunaan media sosial memberikan dampak buruk, tetapi, tetap saja menggunakan media sosial secara berlebihan itu tidak baik. Seseorang yang menggunakan media sosial berlebihan bisa mengganggu kesehatan mental. Beberapa orang yang sering menggunakan media sosial dapat membuat menurunnya tingkat kepercayaan diri mereka. Mereka sering membandingkan diri mereka dengan orang lain di media sosial. Kita merasa kalau kita ini belum merasa sebaik seseorang yang kita lihat tersebut. Setelah itu, muncullah perasaan minder, cemas dan akhirnya diri kita depresi karena hal tersebut. Misalnya, saat seorang perempuan biasa melihat postingan selebriti yang berbadan seksi, berkulit putih, memiliki harta yang banyak, dan juga sosok yang cerdas. Lalu, si perempuan merasa iri dan ingin bisa seperti sosok yang dilihatnya. Namun, apakah hal itu mungkin? Meskipun tidak mencoba merendahkan, memang bisa saja, akan tetapi tak bisa sepenuhnya ingin menjadi seperti sosoknya. Kita tak bisa menjadikan seseorang menjadi tolak ukur kesempurnaan atau kehebatan seseorang. Kita diciptakan Tuhan dengan kelebihan masing-masing.

Tak hanya menurunkan kepercayaan diri saja, dampak lainnya penggunaan media sosial secara berlebihan bisa membuat seseorang merasa ditinggalkan dan kesepian. Hal ini terjadi saat kita melihat foto ketika teman-teman sedang pergi keluar bersama dan kita tidak bisa ikut pada acara tersebut. Pada keadaan seperti ini, pastinya kita merasa sedih.

Dampak-dampak yang membuat kesehatan mental tidak baik itulah, alangkah baiknya jika kita mulai mengurangi penggunaan media sosial dengan cara puasa media sosial. Kita bisa memulainya dengan mulai mengurangi penggunaan gawai dengan cara mengurangi penggunaannya, seperti menggunakan sosial media untuk hal yang penting saja. Jangan biarkan mata kita menatap ponsel untuk melihat linimasa atau chatting basa-basi. Cara lainnya yaitu, dengan lebih banyak melakukan kegiatan yang bermanfaat bersama teman-teman di dunia nyata atau juga bisa dengan mengikuti komunitas yang membantu kita menemukan teman-teman baru dan kegiatan baru yang membuat kita menjadi seseorang yang lebih baik.

Inas Alimaturrahmah, Merupakan Sekretaris Bidang Organisasi PK IMM Ibnu Khaldun UGM Periode 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here